Eboni, Flora Endemik Sulawesi

Eboni, Flora Endemik Sulawesi

by WIKANDARI BUNGASARI 14405244030 -
Number of replies: 1

Wahyu Dewi Martasari           14405241052

 Trias Euro Vuri Andra           14405241058

Diva Rinhaida                         14405241061

Qonita Fithrotunnisa               14405244016

Esti Mei Pangestu                   144052440018

Wikandari Bungasari              14405244030

 

Kawasan Wallacea dikenal memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang khas dan bersifat endemitas tinggi. Sejak dahulu telah menjadi bagian dari dunia konservasi flora maupun fauna yang terus menerus dikaji hingga saat ini, bahwa telah terjadi proses pembentukan yang berbeda dan tidak sama dengan kawasan lain di dunia.

Flora fauna endemik di Sulawesi dan Nusa Tenggara memiliki ciri yang berbeda dengan flora fauna yang berada di Indonesia bagian barat dan timur, hal ini disebabkan karena sejarah geologi, dimana lebih dari satu juta tahun lalu, kepulauan Indonesia bagian Barat (Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan) merupakan satu daratan dengan benua Asia sedangkan kepulauan Indonesia bag       ian Timur (khususnya Irian Jaya atau Papua) merupakan satu daratan dengan benua Australia. Sementara itu, kepulauan Indonesia bagian Tengah (Sulawesi dan sebagian pulau di Nusa Tenggara) sudah menjadi daratan yang terpisah dari kedua benua tersebut. Sejarah geologi pembentukan wilayah (geomorfologi) Indonesia ini menghasilkan suatu kombinasi yang unik antara ekosistem khas Asia (di tanah Sunda), ekosistem khas Australia (di Tanah Sahul) dan ekosistem khusus yang berbeda dari ekosistem Asia maupun Australia (di Indonesia bagian Tengah).

Di wilayah ini iklimnya lebih kering (kelembaban udaranya relatif rendah, di bawah 60%). Hal ini menyebabkan flora dan fauna yang ada di sini harus mampu beradaptasi dengan kondisi alam tersebut. Fauna kepulauan Wallacea terdiri dari: hewan endemik yaitu: Naga Komodo (Varanus komodoensis), kadal terbesar di dunia.  habitatnya di pulau-pulau Komodo, Padar dan Rinca – di lepas pantai Timur Flores. Serta babi rusa (Babyrousa, babirussa), dan anoa (banteng kerdil yang bermukim di hutan adalah di antara hewan asli yang menarik di Sulawesi. Mamalia lainnya di Sulawesi adalah musang (Macrogalidia musshenbroeki), spesies tarsius yang dinamakan 'binatang hantu' dan beberapa spesies 'monyet hitam'(Mococanigra).

            Relief atau kondisi geografi  di wilayah Sulawesi dan Nusa Tenggara terdiri dari  pegunungan dan dataran rendah. Di kawasan hutan Sulawesi terdapat beberapa jenis flora endemik, salah satunya adalah pohon eboni (Diospyros celebica Bakh.), jenis ini hidup dan berkembang umumnya pada wilayah geografi bebatuan dan pada topografi yang berat. Eboni sebagai jenis flora endemik di pulau Sulawesi, dijumpai hidup dan berkembang dengan baik pada wilayah sebaran Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Saat ini, wilayah sebaran eboni semakin menyempit akibat eksploitasi yang tinggi baik secara legal maupun illegal, perambahan dan perubahan fungsi lahan.

Secara alami tegakan eboni dijumpai di punggung-punggung bukit dataran rendah hingga ketinggian tempat 700 m dari permukaan laut. Pohon eboni sendiri hidup pada wilayah dengan iklim tropis dan memiliki curah hujan yang tinggi. Mengingat pada wilayah Sulawesi merupakan daerah dengan banyak gunung serta curah hujannya yang tinggi maka banyak terdapat hutan di wilayah ini. Salah satu flora endemik yang ada adalah pohon eboni yang merupakan tanaman langka pada saat sekarang ini. Pohon ini merupakan pohon endemik, berasal dari

Eboni atau yang sering disebut dengan kayu hitam Sulawesi adalah sejenis pohon penghasil kayu mahal dari suku eboni-ebonian (Ebenaceae). Nama ilmiahnya adalah Diospyros celebica, yakni diturunkan dari kata "celebes" (Sulawesi), dan merupakan tumbuhan endemik daerah itu.  Kayu eboni dijumpai secara alami di Sulawesi Tengah terutama di Parigi, Poso, Donggala, Sulawesi Selatan (Maros), Sulawesi Barat (Mamuju) dan Maluku. Nama ilmiahnya adalah Diospyros celebica , yakni diturunkan dari kata Celebes  (Sulawesi). Ciri-ciri Pohon Eboni yaitu pohonnya lurus dan tegak dengan tinggi hingga 40 meter. Diameter batang bagian bawah dapat mencapai 1 meter, sering dengan banir (akar papan) besar. Memiliki tekstur halus dan arah serat kayunya lurus atau sedikit berpadu. Permukaan kayu eboni tergolong licin. Kulit batangnya beralur, mengelupas kecil-kecil, dan berwarna coklat hitam. Adapun kayu ini berwarna coklat gelap, kehitaman, atau hitam berbelang-belang kemerahan.  Usia panen kayu eboni mencapai sekitar 120 tahun. Pertumbuhan eboni dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut dapat di kelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari tumbuhan itu sendiri. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar tumbuhan tersebut, seperti: kerapatan tegakan, karakteristik umur tegakan, faktor iklim (suhu, hujan, kecepatan angin dan kelembaban udara), serta faktor tanah (sifat fisik, komposisi bahan kimia, dan komponen mikrobiologi. Jika suatu wilayah bergelombang atau curam, drainase tanahnya lebih baik sehingga pengaruh iklim (curah hujan dan suhu) terhadap pelapukan dan pencucian yang berlangsung menjadi sangat cepat. Di antara ke tiga bentuk wilayah tempat tumbuh eboni,  memiliki persentase kelerengan tertinggi, yaitu 55%. Sehingga merupakan relief tempat tumbuh yang tercuram di antara tempat tumbuh lainnya. 

In reply to WIKANDARI BUNGASARI 14405244030

Re: Eboni, Flora Endemik Sulawesi

by MELYSA AMBARWATI 14405241054 -

Dari pembahasan di atas, dijelaskan bahwa eboni tumbuh pada kondisi wilayah yang memiliki suhu tinggi dan curah hujan yang tinggi. Setahu saya Indonesia sendiri memiliki karakteristik tersebut. Mengapa jenis flora tersebut tidak tumbuh di wilayah lain? Lalu selanjutnya disebutkan pula adanya faktor internal dari eboni yang mempengaruhi tumbuhnya flora tersebut. Faktor internal apa saja? Dan pengaruhnya seperti apa? Terimakasihhhhh