Nama Anggota Kelompok
|
Fahrudin |
14405244024 |
|
Anton Cesar S |
14405241057 |
|
Dwi Harmini |
14405244025 |
Â
Deskripsi wilayah sulawesi tenggara sendiri memilik kondisi klimatologis dan metereologis yang cukup spesifik sehingga mempengaruhi pola persebaran jenis vegetasi dan faunanya, Fauna endemik wilayah ini salah satunya adalah anoa. Di sulawesi tenggara curah hujan yang lebih dari 2000 mm pertahun, meliputi wilayah sebelah utara garis lurus Kendari-Kolaka dan bagian utara pulau buton dan pulau wawoni. Sedangkan wilayah dengan curah hujan kurang dari 2000 mm pertahun, meliputi wilayah sebelah selatan garis lurus Kendari-Kolaka dan wilayah kepulauan di sebelah selatan dan tenggara jazirah sulawesi tenggara. Sedangkan kondisi suhu diipengaruhi oleh letak geografis wilayah dan ketinggian dari permukaan laut. Sulawesi tenggara yang terletak di daerah khatulistiwa dengan ketinggian pada umumnya di bawah 1000 meter, sehingga beriklim tropis. pada tahun 2011 suhu udara maksimum rata-rata berkisar antara 30°C–32°C, dan suhu minimum rata-rata berkisar 23°C–25°C.
Anoa merupakan hewan endemik ditemukan di Sulawesi tenggara yang hidup dihutan dan terancam punah pada akhir-akhir ini, jika dilihat berdasarkan letak persebarannya, hewan ini tergolong sebagai fauna peralihan. Persebaran anoa di Sulawesi tenggara dibagi atas 2 spesies yaitu anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) dan anoa gunung (Bubalus quarlesi). Berikut deskripsi perbedaan antara anoa dataran rendah dengan anoa pegunungan dilihat dari kondisi fisiknya:
|
Perbedaan Bentuk Fisik Anoa Dataran Rendah Dengan Anoa Pegunungan |
|
|
Anoa Dataran rendah |
Anoa Pegunungan |
|
Ukuran tubuh relatif lebih kecil |
Ukuran tubuh lebih besar |
| Â Ekor lebih pendek | Â Ekor lebih panjang |
| Â Bentuk tanduk melingkar | Â Bentuk tanduk lebih lurus dan kasar |
| Â Bulunya lebih lembut dan jarang-jarang | Â Bulu lebih lebat sehingga nampak terasa kasar |
| Â Postur tubuh Lebih kekar | Postur tubuh lebih gempal |
| Â Warna bulu lebih hitam | Â Warna bulu coklat |
Â
Kedua jenis fauna di atas dibedakan berdasarkan bentuk tanduk dan ukuran tubuh. Penampilan mereka hampir mirip dengan kerbau, dengan berat berat tubuh 150-300 kilogram dan tinggi 75 centimeter, sehingga banyak orang yang menyebut mereka sebagai kerbau kerdil.Habitat anoa berada di hutan tropika dataran, sabana (savanna), terkadang juga dijumpai di rawa-rawa. Mereka merupakan fauna yang hidupnya berpindah-pindah tempat. Apabila menjumpai musuhnya, anoa akan mempertahankan diri dengan mencebur ke rawa-rawa dan jika terpaksa melawan, mereka akan menggunakan tanduknya. Anoa termasuk hewan herbivora. Di alam bebas, anoa memakan makanan yang berair (aquatic feed), seperti pakis, rumput, tunas pohon, buah-buahan yang jatuh, dan jenis umbi-umbian. Anoa dataran rendah terkadang juga meminum air laut yang diduga untuk memenuhi kebutuhan mineral mereka, sedangkan anoa pegunungan juga menjilat garam alami untuk memenuhi kebutuhan mineralnya.
Berdasarkan deskripsi di atas dapat dilihat bahwa terdapat dua spesies anoa pada wilayah sulawesi tenggara dengan bentuk fisik yang berbeda. Bentuk fisik suatu fauna umumnya terbentuk akibat hasil adaptasi terhadap lingkungan sekitar dengan tujuan untuk menunjang keberlangsungan kehidupannya. Pengaruh suhu pada wilayah pegunungan yang lebih dingin dibandingkan dengan daratan dan disertai keberagaman jenis flora akibat adanya perbedaan suhu secara vertikal, ternyata mempengaruhi kondisi fisik anoa pegunungan dibandingkan dengan anoa dataran rendah. Anoa pegunungan memiliki bulu yang lebih lebat dibandingkan dengan anoa daratan rendah hal ini menunjukan hasil adapatasi anoa pegunungan untuk menjaga kondisi tubuhnya agar tetap hangat dalam kondisi yang dingin dan begitu pula sebaliknya pada anoa daratan rendah. Bentuk fisik yang lebih kekar atau tegap pada anoa daratan rendah dibandingkan dengan anoa pegunungan yang lebih gempal diperkirakan karena tingkat mobilitas atau pergerakannya, anoa pegunungan bergerak lebih pasif akibat kontur wilayahnya yang tidak datar disertai terdapat banyaknya vegetasi sehingga menghambat pergeraknya, maka dengan jarangnya pergerakan atau mobilitas dari fauna ini memicu terbentuknya kondisi fisik yang lebih gemuk dari pada anoa pada dataran rendah.
|
Gambar 1. Anoa Dataran rendah |
Gambar 2. Anoa Pegunungan |