SPM-PMI 2014
Selasa, 24 Mei 2016

Pertemuan pada hari ini membahas tentang berbagai macam model pembelajaran cooperative learning.
Yang pertama, saya akan membahas detail tentang Summary Cooperative Learning Pola Snowball Throwing, karena pada kesempatan ini kelompok kami mempresentasikan mengenai model pembelajaran tersebut.
Snowball Throwing
- PENGERTIAN
Model pembelajaran Snowball Throwing merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang dikemas dalam suatu permainan menarik yaitu saling melemparkan bola dari kertas yang berisi pertanyaan. Dalam model pembelajaran ini ditekankan pada kemampuan peserta didik untuk merumuskan suatu pertanyaan tentang materi pembelajaran yang disajikan. Pembelajaran yang dikemas dalam permainan ini membutuhkan suatu kemampuan sederhana, sehingga dapat dilakukan oleh seluruh peserta didik. Selain itu, kemampuan peserta didik dalam bekerja sama dengan teman maupun kemampuan individunya dapat diukur melalui model pembelajaran ini.
- Tujuan Pembelajaran Model Snowball Throwing
Menurut Asrori (2010), tujuan pembelajaran Snowball Throwing yaitu melatih murid untuk mendengarkan pendapat orang lain, melatih kreatifitas dan imajinasi murid dalam membuat pertanyaan, serta memacu murid untuk bekerjasama, saling membantu, serta aktif dalam pembelajaran.
- Langkah-langkah Pembelajaran Snowball Throwing
- Guru menyampaikan materi yang akan disajikan beserta tujuannya
- Guru membentuk kelompok-kelompok yang terdiri dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi
- Setiap ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada teman kelompoknya.
- Kemudian masing-masing siswa diberikan lembar kerja kertas , untuk menuliskan satu pertanyaan saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok
- Kertas yang berisi pertanyaan dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama 15 menit
- Setelah siswa dapat satu bola/satu pertanyaan , berikan kesempatan siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian.
- Evaluasi
- Penutup
- KELEBIHAN DAN KELEMAHAN MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING
Kelebihan model pembelajaran Snowball Throwing:
- Suasana pembelajaran menjadi menyenangkan karena siswa seperti bermain dengan melempar bola kertas kepada siswa lain.
- Siswa mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir karena diberikesempatan utk membuat soal dan diberikan pada siswa lain.
- Membuat siswa siap dengan berbagai kemungkinan karena siswa tidak tahu soal yang dibuat temannya seperti apa.
- Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif.
- Ketiga aspek yaitu aspek koknitif, afektif dan psikomotor dapat tercapai.
Kelemahan model pembelajaran Snowball Throwing:
- Sangat bergantung pada kemampuan siswa dalam memahami materi sehingga apa yang dikuasai siswa hanya sedikit. Hal ini dapat dilihat dari soal yang dibuat siswa biasanya hanya seputar materi yang sudah dijelaskan atau seperti contoh soal yang telah diberikan.
- Ketua kelompok yang tidak mampu menjelaskan dengan baik tentu menjadi penghambat bagi anggota lain untuk memahami materi sehingga diperlukan waktu yang tidak sedikit untuk siswa mendiskusikan materi pelajaran.
- Murid yang nakal cenderung untuk berbuat onar.
- Kelas sering kali gaduh karena kelompok dibuat oleh murid
Berikut salah satu hasil pengimplementasian metode Snowball Throwing yang mampu mempegaruhi meningkatnya daya ingin tahu dan kreativitas siswa dan siswi di SMP Muhammadiyah 1 Gatak Sukoharjo yang diteliti dengan judul “PENINGKATAN KEAKTIFAN SISWA PADAPEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI STRATEGI SNOWBALL THROWING” oleh Widodo Yuliasto tahun 2013. Peningkatan keaktifan siswa dapat dilihat dari
meningkatnya indikator-indikatornya meliputi:
- kemauan siswa dalam bertanya sebelum tindakan 5,55% dan sesudah tindakan 55,55%
- Kemauan siswa dalam menjawab pertanyaan sebelum tindakan 11,11% dan sesudah tindakan 72,22%, 3)
- Kemauan siswa mengerjakan soal latihan di depan kelas sebelum tindakan 0% dan sesudah tindakan 66,66%, 4)
- Kemauan siswa dalam mengemukakan pendapat sebelum tindakan 0% dan sesudah tindakan 55,55%.
Masih banyak lagi model pembelajaran cooperative learning.
1. Group investigation
Group investigation adalah kelompok kecil untuk menuntun dan mendorong siswa dalam keterlibatan belajar. Metode ini menuntut siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok (group process skills). Hasil akhir dari kelompok adalah sumbangan ide dari tiap anggota serta pembelajaran kelompok yang notabene lebih mengasah kemampuan intelektual siswa dibandingkan belajar secara individual.
2. Think pair and share
Tipe Think Pair and Share yaitu pembelajaran kelompok dimana siswa diberi kesempatan untuk berfikir mandiri dan saling membantu dengan teman yang lain. Tipe ini dikembangkan oleh Frank Lyman, dkk dari Universitas Maryland pada tahun 1985 sebagai salah satu struktur kegiatan cooperative learning.
3. STAD ( Student Team Achievement Division )
Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa mengerjakan kuis tentang materi itu secara individu.
4. Jigsaw
Pembelajaran jigsaw adalah sebuah tipe pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, dimana dalam kelompok tersebut terdiri dari beberapa siswa yang bertanggung jawab untuk menguasai bagian dari materi ajar dan selanjutnya harus mengajarkan materi yang telah dikuasai tersebut kepada teman satu kelompoknya.
5. Number heads together
Number heads together (NHT) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik.
Numbered Heads Together (NHT) atau jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti Teknik Kepala Bernomor Terstruktur, hal ini memudahkan pembagian tugas. Dengan teknik ini, siswa belajar melaksanakan tanggung jawab pribadinya dalam saling keterkaitan dengan rekan-rekan kelompoknya.
6. Tim group tournament
Teams Games Tournaments (TGT) menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, suku atau ras yang berbeda. Kemudian diadakannya suatu kompetisi game antar kelompok.