Meta-cognitive activity week-15

Meta-cognitive activity week-15

oleh UJANG HERLAN PERMANA 14301249001 -
Jumlah balasan: 0

Pada minggu ini yaitu presentasi setiap kelompok mengenai tipe pembelajaran cooperative learning.

  1. Tipe Grup Investigation

Group investigation adalah kelompok kecil untuk menuntun dan mendorong siswa dalam keterlibatan belajar. Metode ini menuntut siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok (group process skills). Hasil akhir dari kelompok adalah sumbangan ide dari tiap anggota serta pembelajaran kelompok yang notabene lebih mengasah kemampuan intelektual siswa dibandingkan belajar secara individual.

Langkah-langkah model pembelajaran grup investigation

  1. Guru  membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang heterogen.
  2. Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok yang harus dikerjakan.
  3. Guru  memanggil ketua-ketua kelompok untuk memanggil  materi tugas secara kooperatif dalam kelompoknya.
  4. Masing-masing kelompok membahas materi tugaas secara  kooperatif dalam kelompoknya.
  5. Setelah selesai, masing-masing  kelompok yang diwakili ketua kelompok  atau salah  satu anggotanya menyampaikan hasil pembahasannya.
  6. Kelompok lain  dapat memberikan tanggapan  terhadap hasil pembahasannya.
  7. Guru memberikan penjelasan singkat (klarifikasi) bila  terjadi kesalahan  konsep dan memberikan kesimpulan.
  8. Evaluasi.

kelebihan model group investigation adalah sebagai berikut.

  1. Memungkinkan siswa untuk secara aktif melakukan investigasi terhadap suatu topik, sebab group investigation memfokuskan pada investigasi terhadap suatu topik atau konsep.
  2. Group investigation menyediakan kesempatan kepada siswa untuk membentuk atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan bermakna.
  3. Group investigation efektif dalam membentuk siswa untuk bekerjasama dalam kelompok dengan latar belakang berbeda (misalnya kemampuan, gender, dan etnis).
  4. Group investigation menyediakan konteks sehingga siswa dapat belajar mengenai dirinya dan orang lain.

Kekurangan group investigation adalah setiap kelompok menerima materi yang berbeda-beda sehingga dapat terjadi kemungkinan setiap kelompok hanya memahami materi yang sudah diterimanya. Untuk mengatasi hal ini, dilakukan pemberian lembar kerja siswa keseluruhan siswa sebelum pembelajaran dimulai dengan materi sesuai dengan yang dipresentasikan kelompok tersebut.

2. Think Pair and Share

Tipe Think Pair and Shareyaitu pembelajaran kelompok dimana siswa diberi kesempatan untuk berfikir mandiri dan saling membantu dengan teman yang lain. Tipe ini dikembangkan oleh Frank Lyman, dkk dari Universitas Maryland pada tahun 1985 sebagai salah satu struktur kegiatan cooperative learning.

Langkah-langkah Pembelajaran dalam Tipe Think Pair and Share:

  • Tahap 1 Pendahuluan

Guru menjelaskan aturan main dan batasan waktu untuk setiap kegiatan, memotivasi siswa untuk terlibat pada aktifitas pemecahan masalah. Dan guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai oleh siswa.

  • Tahap 2 Think

Guru menggali pengetahuan awal siswa melalui kegiatan demonstarasi. Kemudian guru memberikan LKS kepada seluruh siswa, siswa mengerjakan LKS secara indovidu.

  • Tahap 3 Pair

Siswa dikelompokkan dengan teman sebangkunya secara berpasangan. Siswa berdiskusi dengan pasangannya mengenai jawaban tugas.

  • Tahap 4 Share

Satu pasangan siswa dipanggil secara acak untuk berbagi pendapat kepada seluruh siswa di kelas dengan dipandu oleh guru. Disini setiap pasangan diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusinya kepada teman kelas.

  • Tahap 5 Penghargaan

Siswa dinilai secara individu dan kelompok

Kelebihan Tipe Think Pair and Share

  • Memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
  • Siswa akan terlatih menerapkan konsep, karena bertukar pendapat dengan temannya untuk memecahkan masalah.
  • Siswa lebih aktif.
  • Siswa memperoleh kesempatan untuk mempresentasikan diskusinya
  • Memungkinkan guru untuk banyak memantau siswa dalam pembelajaran

Kekurangan Tipe Think Pair and Share

  • Sangat sulit diterapkan di sekolah yang kemampuan siswanya rendah dan waktu terbatas
  • Banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor
  • Lebih sedikit ide yang muncul
  • Jika ada perselisihan, tidak ada penengah

3. Snowball throwing

merupakan salah satu model pembelajaran yang dikemas dalam suatu permainan menarik yaitu saling melemparkan bola dari kertas yang berisi pertanyaan. Dalam model pembelajaran ini ditekankan pada kemampuan peserta didik untuk merumuskan suatu pertanyaan tentang materi pembelajaran yang disajikan.

Langkah-langkah pembelajaran dalam tipe snowball throwing:

  1. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan
  2. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi
  3. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada teman kelompoknya.
  4. Kemudian masing-masing siswa diberikan lembar kerja kertas , untuk menuliskan satu pertanyaan saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok
  5. Kertas yang berisi pertanyaan dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama 15 menit
  6. Setelah siswa dapat satu bola/satu pertanyaan , berikan kesempatan siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian.
  7. Evaluasi
  8. Penutup

Kelebihan model pembelajaran Snowball Throwing:

  1. Suasana pembelajaran menjadi menyenangkan karena siswa seperti bermain dengan melempar bola kertas kepada siswa lain.
  2. Siswa mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir karena diberi kesempatan untuk membuat soal dan diberikan pada siswa lain.
  3. Membuat siswa siap dengan berbagai kemungkinan karena siswa tidak tahu soal yang dibuat temannya seperti apa.
  4. Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.
  5. Pendidik tidak terlalu repot membuat media karena siswa terjun langsung dalam praktik.
  6. Pembelajaran menjadi lebih efektif.
  7. Ketiga aspek yaitu aspek koknitif, afektif dan psikomotor dapat tercapai.

Kelemahan model pembelajaran Snowball Throwing:

  1. Sangat bergantung  pada kemampuan siswa  dalam memahami materi sehingga apa yang dikuasai siswa hanya sedikit. Hal ini dapat dilihat dari soal yang dibuat siswa biasanya hanya seputar materi yang sudah dijelaskan atau seperti contoh soal yang telah diberikan.
  2. Ketua kelompok yang  tidak  mampu  menjelaskan  dengan  baik  tentu  menjadi  penghambat bagi anggota lain untuk  memahami  materi sehingga diperlukan waktu yang  tidak  sedikit  untuk siswa mendiskusikan materi pelajaran.
  3. Tidak ada kuis individu maupun penghargaan kelompok sehingga siswa saat berkelompok kurang termotivasi untuk bekerja sama. tapi tdk menutup kemungkinan bagi guru untuk menambahkan pemberiaan kuis individu dan penghargaan kelompok.
  4. Memerlukan waktu yang panjang.           
  5. Murid yang nakal cenderung untuk berbuat onar.
  6. Kelas sering kali gaduh karena kelompok dibuat oleh murid.

 

4. Student Team Achievment Development (STAD)

Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert E. Slavin. Dalam tipe pembelajaran ini, siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa mengerjakan kuis tentang materi itu secara individu.

Tahapan dalam tipe STAD:

  1. Persiapan
    1. Materi
    2. Menetapkan siswa dalam kelompok, setiap kelompok beranggotakan 4-5 siswa yang terdiri dari siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah
    3. Menentukan Skor Awal, skor awal siswa dapat diambil melalui Pre Test yang dilakukan guru sebelum   pembelajaran kooperatif metode STAD dimulai atau dari skor tes paling akhir yang dimiliki oleh siswa. Selain itu, skor awal dapat diambil dari nilai rapor siswa pada semester sebelumnya.
    4. Kerja sama kelompok, sebelum memulai pembelajaran kooperatif, sebaiknya diawali dengan latihan-latihan kerja sama kelompok. Hal ini merupakan kesempatan bagi setiap kelompok untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan dan saling mengenal antar anggota kelompok.
    5. Jadwal Aktivitas, STAD terdiri atas lima kegiatan pengajaran yang teratur, yaitu penyampaian materi pelajaran oleh guru, kerja kelompok, tes penghargaan kelompok dan laporan berkala kelas.

2. Mengajar

Setiap pembelajaran dalam STAD dimulai dengan presentasi kelas, yang meliputi pendahuluan, pengembangan, petunjuk praktis, aktivitas kelompok, kuis dan terakhir penghargaan kelompok.

Metode pembelajaran kooperatif tipe STAD mempunyai kelebihan sebagai berikut:

  1. Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya, membahas suatu masalah, lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai suatu masalah.
  2. Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan berdiskusi, serta menghargai pendapat orang lain.
  3. Adanya anggota kelompok lain yang menghindari kemungkinan siswa mendapat nilai rendah, karena dalam tes lisan siswa dibantu oleh anggota kelompoknya.
  4. Hadiah atau penghargaan yang diberikan akan memberikan dorongan bagi siswa untuk mencapai hasil yang lebih tinggi.
  5. Siswa yang lambat berpikir dapat dibantu untuk menambah ilmu pengetahuan.
  6. Pembentukan kelompok-kelompok kecil memudahkan guru untuk memonitor siswa dalam belajar bekerja sama

Metode pembelajaran kooperatif tipe STAD mempunyai kekurangan sebagai berikut:

  1. Apabila guru terlena tidak mengingatkan siswa agar selalu menggunakan keterampilan-keterampilan kooperatif dalam kelompok maka dinamika kelompok akan tampak macet
  2. Apabila jumlah kelompok tidak diperhatikan, yaitu kurang dari empat, misalnya tiga, maka seorang anggota akan cenderung menarik diri dan kurang aktif saat berdiskusi dan apabila kelompok lebih dari lima maka kemungkinan ada yang tidak mendapatkan tugas sehingga hanya membonceng dalam penyelesaian tugas.
  3. Apabila ketua kelompok tidak dapat mengatasi konflik-konflik yang timbul secara konstruktif, maka kerja kelompok akan kurang efektif.
  4. Kerja kelompok hanya melibatkan mereka yang mampu memimpin dan mengarahkan mereka yang kurang pandai dan kadang-kadang menuntut tempat yang berbeda dan gaya-gaya mengajar berbeda.
  5. Adanya perpanjangan waktu karena kemungkinan besar tiap kelompok belum dapat menyelesaikan tugas sesuai waktu yang ditentukan sampai tiap anggota kelompok memahami kompetensinya. Sehingga emerlukan waktu dan biaya yang banyak untuk mempersiapkan dan kemudian melaksanakan pembelajaran kooperatif tersebut. Karena membutuhkan waktu yang lebih lama, target kurikulum sulit tercapai.
  6. Guru dituntut bekerja cepat dalam menyelesaikan tugas-tugas yang berkaitan dengan pembelajaran yang telah dilakukan, antara lain koreksi pekerjaan siswa, menentukan perubahan kelompok belajar.
  7. Membutuhkan kemampuan khusus guru sehingga tidak semua guru dapat melakukan pembelajaran kooperatif.
  8. Menuntut sifat tertentu dari peserta didik, misalnya sifat suka bekerja sama

 

5. Jigsaw

Merupakan tipe pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, dimana dalam kelompok tersebut terdiri dari beberapa siswa yang bertanggung jawab untuk menguasai bagian dari materi ajar dan selanjutnya harus mengajarkan materi yang telah dikuasai tersebut kepada teman satu kelompoknya.

Pelaksanaan:

  1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
  2. Guru membentuk kelompok awal, terdiri dari 5-6 orang
  3. Setiap anggota diberikan topik yang berbeda dalam satu lingkup pembahasan yang masih sama. Contohnya yaitu Pembahasan mengenai Luas dan Volume bangun ruang, dengan topiknya yaitu Luas dan Volume Kubus, Balok, Prisma, Limas, dan Tabung.
  4. Setiap siswa yang mendapatkan topik yang sama berkumpul membentuk kelompok ahli, dan mendiskusikan masalah/topik tersebut
  5. Guru melakukan observasi dengan membimbing dan mengarahkan siswa secara periodik ke semua kelompok
  6. Kelompok ahli akan membubarkan diri saat sudah menyelesaikan topik

Setiap siswa dalam kelompok ahli kembali ke kelompok awal, dan bertanggungjawab menjelaskan hasil diskusi nya kepada anggota kelompok awal yang lain, begitu seterusnya hingga semua mendapat giliran untuk menjelaskan.

7. Guru melakukan kegiatan evaluasi.

Kelebihan

  1. Efektif untuk materi yang dapat dibagi dalam beberapa bagian.
  2. Meningkatkan proses sosialisasi antar siswa dan guru.
  3. Mempermudah pekerjaan guru dalam mengajar, karena sudah ada kelompok ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada rekan-rekannya.
  4. Mengembangkan kemampuan siswa mengungkapkan ide atau gagasan dalam memecahkan masalah tanpa takut membuat salah.
  5. Siswa lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat karena siswa diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan menjelaskan materi pada masing-masing kelompok.
  6. Siswa lebih memahami materi yang diberikan karena dipelajari lebih dalam dan sederhana dengan anggota kelompoknya dan siswa akan menyampaikan materi tersbeut pada temannya.
  7. Materi yang diberikan kepada siswa merata.
  8. Dalam proses belajar siswa saling ketergantungan positif.

Kekurangan

  1. Tidak bisa digunakan untuk materi yang harus urut penyampaiannya.
  2. Membutuhkan banyak waktu.
  3. Adanya perbedaan persepsi dalam memahami konsep oleh siswa.
  4. Sulit meyakinkan siswa untuk mampu berdiskusi menyampaikan materi pada teman jika siswa tidak memiliki rasa kepercayaan diri.
  5. Rekod siswa tentang nilai, kepribadian, perhatian siswa harus sudah dimiliki oleh pendidik dan ini biasanya dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengenali tipe-tipe siswa dalam kelompok tersebut.
  6. Awal penggunaan metode ini biasanya sulit dikendalikan, biasanya membutuhkan waktu yang cukup dan persiapan yang matang sebelum model pembelajaran ini bisa berjalan dengan baik.
  7. Aplikasi metode ini  pada kelas yang besar ( lebih dari 40 siswa) sangatlah sulit, tapi bisa diatasi dengan model team teaching.

 

6. Tipe Numbered Heads Together (NHT)

Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan  akademik.

Langkah-langkah pembelajaran NHT (Numbered Heads Together) adalah sebagai berikut:

  1. Pendahuluan 

Persiapan 

  1. Guru melakukan apersepsi. 
  2. Guru menjelaskan tentang model pembelajaran NHT (Numbered Heads Together).
  3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
  4. Guru memberikan motivasi.
  5. Kegiatan Inti 
    1. Tahap pertama 
    • Penomoran: guru membagi siswa dalam 6 kolompok yang beranggota 4-5 orang dan kepada setiap kelompok di beri nomor 1-5 
    • Siswa bergabung dengan anggotanya masing-masing  

2. Tahap kedua 

Mengajukan pertanyaan: guru mengajukan pertanyaan berupa tugas untuk mengerjakan soal-soal.

3. Tahap ketiga 

Berpikir bersama: siswa berpikir bersama dan menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan tersebut dan menyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tersebut.

4. Tahap keempat 

1)      Menjawab: guru memanggil siswa dengan nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengajungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya untuk seluruh kelas. Kelompok lain diberi kesempatan  untuk berpendapat dan bertanya terhadap hasil diskusi hasil kolompok tersebut. 

2)      Guru mengambil hasil yang diperoleh masing-masing kelompok dan memberikan semangat bagi kelompok yang belum berhasil dengan baik. Guru memberikan soal latihan sebagai  pemantapan terhadap hasil dari pekerjaan mereka. 

  1. Penutup 
    1. Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah diajarkan.
    2. Guru memberi tugas rumah 
    3. Guru mengingatkan siswa untuk mempelajari kembali materi yang telah diajarkan dan materi selanjutnya 

Kelebihan NHT

  1. rasa harga diri menjadi lebih tinggi,
  2. memperbaiki kehadiran,
  3. penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar,
  4. perilaku mengganggu lebih kecil,
  5. konflik antara pribadi berkurang,
  6. pemahaman yang lebih mendalam,
  7. meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi,
  8. hasil belajar lebih tinggi,
  9. nilai–nilai kerja sama antar murid lebih tinggi
  10. kreatifitas murid termotivasi
  11. wawasan murid berkembang, karena mereka harus mencari informasi dari berbagai sumber.
  12. setiap siswa menjadi siap semua,
  13. dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh,
  14. siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai,
  15. tidak ada siswa yang mendominasi dalam kelompok.

Kelemahan NHT

Salah satu kekurangan pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) adalah kelas cenderung jadi ramai jika guru tidak dapat mengkondisikan dengan baik, keramaian itu dapat menjadi tidak terkendalikan. Sehingga mengganggu proses belajar mengajar, tidak hanya di kelas sendiri tetapi bisa juga mengganggu kelas lain. Terutama untuk kelas dengan jumlah siswa yang lebih banyak.

7. Teams Games Tournament (TGT)

Teams Games Tournaments (TGT) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, suku atau ras yang berbeda.

Langkah-langkah TGT adalah sebagai berikut.

  1. Siswa Bekerja Dalam Kelompok-Kelompok Kecil

Siswa ditempatkan dalam kelompok yang heterogen. Dengan adanya heterogenitas anggota kelompok, diharapkan dapat memotivasi siswa untuk saling membantu antara siswa yang berkemampuan lebih dengan siswa yang berkemampuan kurang dalam menguasai materi pelajaran. Hal ini menyebabkan tumbuhnya rasa kesadaran pada diri siswa bahwa belajar secara kooperatif sangat menyenangkan.

  1. Games Tournament

Dalam permainan ini, setiap siswa yang bersaing merupakan wakil dari kelompoknya. Siswa yang mewakili kelompoknya, masing-masing ditempatkan dalam meja-meja turnamen. Tiap meja turnamen ditempati 5 sampai 6 orang peserta, dan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari kelompok yang sama. Dalam setiap meja turnamen diusahakan setiap peserta homogen.

Permainan ini dimulai dengan memberitahuakan aturan permainan. Setelah itu permainan dimulai dengan membagikan kartu-kartu soal untuk bermain. (kartu soal dan kunci ditaruh terbalik di atas meja sehingga soal dan kunci tidak terbaca), jika permainan didesain menggunakan kartu-kartu. Permainan pada tiap meja turnamen dilakukan dengan langkah sebagai berikut.

 

  1. Setiap pemain dalam tiap meja menentukan dahulu pembaca soal dan pemain pertama dengan cara undian.
  2. Pemain yang menang undian mengambil kartu undian yang berisi nomor soal dan diberikan kepada pembaca soal.
  3. Pembaca soal akan membacakan soal sesuai dengan nomor undian yang diambil oleh pemain.
  4. Soal dikerjakan secara mandiri oleh pemain dan penantang sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dalam soal. Setelah waktu untuk mengerjakan soal selesai, maka pemain akan membacakan hasil pekerjaannya yang akan ditanggapai oleh penantang, dengan urutan searah jarum jam.
  5. Pembaca soal akan membuka kunci jawaban dan mengoreksi jawaban dari pemain atau penantang, skor hanya diberikan kepada pemain yang menjawab benar atau penantang yang pertama kali memberikan jawaban benar.

Jika semua pemain menjawab salah maka kartu dibiarkan saja. Permainan dilanjutkan pada kartu soal berikutnya sampai semua kartu soal habis dibacakan, dimana posisi pemain diputar searah jarum jam agar setiap peserta dalam satu meja turnamen dapat berperan sebagai pembaca soal, pemain dan penantang. Disini permainan dapat dilakukan berkali-kali dengan syarat bahwa setiap peserta harus mempunyai kesempatan yang sama sebagai pemain, penantang, dan pembaca soal.

  1. Penghargaan kelompok

Langkah pertama sebelum memberikan penghargaan kelompok adalah menghitung rerata skor kelompok. Pemberian penghargaan didasarkan atas rata-rata poin yang didapat oleh kelompok tersebut. Dimana penentuan poin yang diperoleh oleh masing-masing anggota kelompok didasarkan pada jumlah skor saat tournament berlangsung.

Kelebihan dari pembelajaran TGT, antara lain:

  • Lebih meningkatkan pencurahan waktu untuk tugas
  • Mengedepankan penerimaan terhadap perbedaan individu
  • Dengan waktu yang sedikit dapat menguasai materi secara mendalam
  • Proses belajar mengajar berlangsung dengan keaktifan dari siswa
  • Mendidik siswa untuk berlatih bersosialisasi dengan orang lain
  • Motivasi belajar lebih tinggi
  • Hasil belajar lebih baik
  • Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi

Kelemahan TGT serta mengatasinya adalah

  1. Bagi guru
  • Sulitnya pengelompokan siswa yang mempunyai kemampuan heterogen dari segi akademis. Kelemahan ini akan dapat diatasi jika guru yang bertindak sebagai pemegang kendali teliti dalam menentukan pembagian kelompok
  • Waktu yang dihabiskan untuk diskusi oleh siswa cukup banyak, sehingga melewati waktu yang sudah ditetapkan, atau waktu pada saat turnamen. Kesulitan ini dapat diatasi jika guru mampu menguasai kelas secara menyeluruh.
  1. Bagi siswa
  • Masih adanya siswa berkemampuan tinggi kurang terbiasa dan sulit memberikan penjelasan kepada siswa lainnya. Untuk mengatasi kelemahan ini, tugas guru adalah membimbing dengan baik siswa yang mempunyai kemampuan akademik tinggi agar dapat dan mampu menularkan pengetahuannya kepada siswa yang lain.
  • Siswa dapat terlalu asik saat melakukan turnamen di kelas hingga terkadang waktunya melebihi jam pelajaran di kelas, dan guru tidak memiliki waktu untuk memberikan kesimpulan atau klarifikasi. Hal ini juga dapat diatasi jika guru dapat menguasai kelas dengan baik atau memiliki cara yang efektif untuk menyampaikan kesimpulan jika waktu tidak memungkinkan.

2747 kata