Pada pertemuan ke-13 saya belajar mengenai peran guru matematika dalam mewujudkan siswa yang konstruktif melalui pemecahan masalah
Dalam setiap jenjang pendidikan memiliki level pengetahuan yang berbeda beda
- SD_R => Faktual
- SD_T => Konseptual
- SMP Â => Prosedural
- SMA => Metakognitif
Metode pembelajaran terdapat berbagai macam jenis nya, disini akan dibahas mengenai ekspositori dan konstruktivistik. Metode ekspositoris adalah adalah metode pembelajaran yang digunakan dengan memberikan keterangan terlebih dahulu definisi, prinsip dan konsep materi pelajaran serta memberikan contoh-contoh latihan pemecahan masalah dalam bentuk ceramah, demonstrasi, tanya jawab dan penugasan
Perbedaan metode pembelajaran ekspositori dan konstruktivis adalah
|
Ekspositori  |
Konstruktivis |
|
Cukup guru biasa |
Butuh guru professional |
|
waktu singkat |
Waktu lama |
|
Materi luas |
Materi mendalam |
|
Dominasi guru |
Dominasi siswa |
|
Materi sudah jadi |
Menemukan kembali materi |
|
Budaya kelas simpel |
Budaya kelas kompleks |
|
Berbasis buku |
Berbasis kebutuhan siswa |
|
Cukup guru biasa |
Guru harus kreatif |
|
Siswa mengikut guru |
Siswa aktif mengkonstruk |
|
Disukai sebagian besar siswa |
Disukai sebagian kecil siswa |
|
Disukai sebagian besar guru |
Disukai sebagian kecil guru |
Â
Pemecahan masalah dalam pendekatan saintifik
guru matematika diarahkan untuk menggunakan pendekatan saintifik di kelas yang meliputi lima langkah utama kegiatan pembelajaran yang dilakukan siswa, yakni (1) siswa mengamati suatu situasi atau informasi, (2) siswa menanya berdasarkan hasil pengamatannya, (3) siswa mengumpulkan informasi atau data melalui kegiatan membaca, mengobservasi, atau mencoba untuk menjawab pertanyaan yang diajukannya, (4) siswa mengasosiasi atau mengaitkan semua informasi dan data yang diperoleh sampai didapat kesimpulkan guna menjawab pertanyaan awal, dan yang terakhir (5) siswa mengomunikasikan apa yang dilakukan dan didapatkannya terkait dengan jawaban atas pertanyaan semula secara lisan, secara tulisan, atau melalui unjuk kerja. Setelah langkah kelima bisa dilanjutkan lagi ke langkah pertama, jika diperoleh hasil yang tidak tepat maka perlu dicari penyebabnya dan jika hasilnya sesuai maka dilanjutkan dengan mengamati situasi kelanjutannya atau situasi baru.
 
Â
Dua langkah pertama dari pendekatan saintik, yakni mengamati suatu situasi atau informasi dan mengajukan pertanyaan yang relevan dengan yang diamati, dapat dilanjutkan dengan empat langkah penyelesaian masalah . Pertanyaan siswa berdasarkan situasi tersebut dijadikan sebagai masalah awal, kemudian dilanjutkan dengan memodelkan matematika, mencari solusi matematis, dan mengembalikan ke masalah awal. Proses ini terlihat pada Gambar 3. Masalah mendasar yang perlu ditelaah adalah bagaimana cara memilih situasi atau informasi yang disajikan kepada siswa yang mampu memicu siswa untuk mengajukan pertanyaan.
Â
 
Â
LEVEL KOGNISI SISWA
Â
Guru sebagai individu yang matang telah mengenal secara baik objek-objek matematika yang bersifat abstrak meskipun objek tersebut disajikan dalam bentuk simbol. Sebenarnya memang seluruh objek matematika merupakan benda pikiran yang hanya ada pada pikiran manusia. Sebaliknya siswa masih mengalami proses abstraksi terhadap objek matematika dengan urutan (situasi konkrit) => (model semi konkrit) => (model semi abstrak) => (abstrak). Siswa SD cenderung berada pada level konkrit-model semi konkrit- model semi abstrak; siswa SMP cenderung berada pada level model semi konkrit- model semi abstrak-abstrak; dan siswa SMA cenderung pada level model semi abstrak-abstrak. Dalam proses pembelajaran, tugas guru adalah menuntun dan tidak hanya sekedar menuntut siswanya untuk mencapai derajat level abstrak. Cara yang efektif yang dilakukan guru matematika dalam menuntun siswa menuju abstrak adalah membuat jembatan penghubung antara empat level keabstrakan. Jembatan tersebutlah yang akan dilintasi siswanya.
Â
Â
Â