Hubungan Antara Aspek Fisik dan Aspek Sosial di Bentanglahan Solusional Karst Gunungsewu Kabupaten Gunung Kidul DIY

Hubungan Antara Aspek Fisik dan Aspek Sosial di Bentanglahan Solusional Karst Gunungsewu Kabupaten Gunung Kidul DIY

by INKA MELANI S N 14405241055 -
Number of replies: 2

14405241055 Inka Melani Saputri Ningsih

14405241063 Julia Avionita

14405244013 Hasyati Marini

14405244028 Ifa Agestiana

14405244029 Putri Khairani

Bentanglahan asal proses solusional di DIY terdapat di beberapa daerah seperti di Kulon Progo di formasi Jonggrangan, Sentolo, dan sebagian besar terdapat Kabupaten Gunung Kidul yang formasi penyusun batuannya didominasi oleh batugamping. Gunung kidul merupakan bagian barat dari zona pegunungan selatan yang membentang dari Parangtritis hingga Kabupaten Pacitan di Jawa Timur. Yang membedakan bentanglahan asal proses solusional di Gunung Kidul daripada di daerah lain  adalah hasil proses kasrstifikasinya. Proses karstifikasi yang terjadi di Gunung Kidul lebih intensif daripada yang terjadi di daerah lain di DIY. Selain karena solum batuannya yang tebal, didukung oleh daerahnya yang juga luas. Kabupaten Gunung Kidul merupakan salah satu daerah yang memiliki tingkat curah hujan yang tinggi. Akan tetapi dikarenakan bentuklahan dari gunung kidul yang memiliki tingkat pelarutan yang tinggi membuat daerah ini memiliki pasokan air permukaan yang rendah. Selain itu, keadaan Kabupaten Gunung Kidul yang berbukit-bukit dan memiliki banyak pantai merupakan salah satu ciri khas tersendiri bagi Kabupaten Gunung Kidul. Morfologi fisik Kabupaten Guunung Kidul yang merupakan bentanglahan asal proses solusional tersebut mempengaruhi aspek sosial masyarakat yang bertempat tinggal di daerah ini.

Secara genetik, bentanglahan perbukitan karst gunungsewu yang terdapat di Kabupaten Gunung Kidul meliputi Basin Wonosari di bagian utara dan seluruh Perbukitan Karst di bagian selatan yang mencapai luasan kurang lebih 114.888 hektare (Perda Kabupaten Gunungkidul Nomor 2 Tahun 2001) (Santosa, 2015:126). secara geomorfologis, basin wonosari merupakan suatu cekungan dengan topografi datar hingga berombak yang dibatasi atau dikelilingi oleh rangkaian perbukitan struktural patahan baturagung di bagian utara dan barat, panggung masif di bagian timur, kompleks perbukitan karst gunungsewu di bagian selatan dan barat. Di basin wonosari, proses deposisional hasil rombakan lereng perbukitan di sekelilingnya, diimbangi dengan proses erosi permukaan dan linier, yang menyebabkan lapisan tanah relatif tipis. Tanah yang berkembang pada satuan ini secara umum didominasi oleh typic hapluderts, yang terbentuk akibat endapan koluvium daerah sekitar. Kondisi geomorfologis dan tanah yang relatif homogen pada basin wonosari berpengaruh terhadap pola pemanfaatan lahan yang relatif lebih produktif dibanding satuan ekosistem lainnya. Bentuk penggunaan lahan yang ada didominasi oleh permukiman dan tegalan. Hanya sebagian kecil saja yang berupa lahan hutan, dan tubuh perairan.

Perbukitan karst merupakan satuan geomorfologi yang mempunyai karakteristik relief dan drainase yang khas, terutama disebabkan oleh derajat pelaruutan batuannya yang intensif (Ford dan Williams, 1989). Berlangsungnya proses geomorfologis dalam waktu yang sangat lama telah membentuk fenomena topografi karst yang unik, seperti bukit-bukit berbentuk kerucut yang teratur, lembah-lembah drainase yang disebut dolina, sistem goa-goa, dan sungai bawah tanah yang berpotensi besar akan sumberdaya air bawah permukaan. Bentuklahan asal proses solusional yang terdapat di Gunung Kidul dapat dijadikan potensi yang menjanjikan bagi masyarakat sekitar, seperti mata pencaharian peduduk. Mata pencaharian penduduk di daerah ini sebagian besar bergerak di sektor pertanian dan pariwisata, sedangkan sebagian kecilnya di sektor pertambangan.

Pada sektor pertanian sendiri banyak dikembangkan tanaman palawija berupa ketela dan padi gogo yang tahan dengan kondisi kering. Meskipun daerah gunung kidul merupakan daerah yang memiliki cadangan air permukaan yang sedikit dibandingkan di daerah lain. Akan tetapi, cadangan air dibawah tanah lebih besar dibandingkan daerah lain. sehingga meskipun terdapat masalah kekeringan, akan tetapi warga banyak memanfaatkan sistem irigasi untuk memenuhi pasokan air untuk pertanian. Selain itu, tanaman  yang dibudidayakan pun memiliki tingkat adapatasi yang bagus. Oleh karena itu, sektor terbesar perekonomian di gunung kidul merupakan pertanian.

Aktivitas perekonomian yang juga memiliki peranan besar dalam perekonomian Gunung Kidul adalah sektor pariwisata. Hal ini dikarenakan wilayah Gunung Kidul memiliki keunikan morfologi tersendiri dibandingkan daerah lain. Keunikan dari gunung kidul ini dapat dilihat dari banyaknya pantai-pantai digunung kidul yang indah serta beberapa gua-gua indah yang ada di beberapa bagian Gunung Kidul. Dengan adanya obyek wisata tersebut warga memanfaatkannya untuk membangun fasilitas dan perdagangan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Selain itu, Batuan penyusun formasi yang terdapat di Kabupaten Gunung Kidul terdiri dari berbagai macam mineral, salah satunya mineral yang dapat ditambang (bahan galian C) seperti batugamping, batupasir tuffan, breksi batuapung, kaolin, dan feldspar, serta zeolith. Bahan galian tersebut mempunyai potensi dan prosepek yang baik, terutama untuk mendukung kegiatan industri, kerajinan, dan bahan bagunan. Batuan-batuan tersebut dapat ditemukan di wilayah bagian utara Gunung Kidul. Sehingga beberapa masyarakat Gunung Kidul memiliki mata pencaharian penambang. Akan tetapi, aktivitas pertambangan di Gunung Kidul ini tidak begitu banyak dikarenakan kondisi morfologi dari Gunung Kidul yang sudah memasuki holokarst. Pembentukan karst di Gunung Kidul sudah hampir sempurna. Sehingga tidak memungkinkan untuk aktivitas pertambangan secara besar-besaran.

Salah satu kearifan lokal yang ada di Gunung Kidul adal Rasul Gubug Gedhe yang sudah ada dari masa pemerintahan kerajaan Demak Bintara dari masa pemerintahan Raden Fatah, anak dari Prabu brawijaya Kertabumi di Majapahit. Prabu Brawijaya Kertabumi pergi dari tempat Gunung Genthong”, namun hambanya, Patih Harya Bangah tidak lagi mengikuti karena sudah menikah. Perginya Sang Prabu Brawijaya disebabkan karena tempat singgahnya sudah ketahuan Raden Patah beserta Sunan dan wali. Alkisah, Sang Prabu Brawijaya memberi ijin pada Harya Bangah (untuk tidak mengikuti) serta memberikan nama “MELES” supaya tidak mencolok, serta diberi wejangan jangan sampai membuka rahasia bahwa sang Prabu sudah pergi.

Waktu berlalu, Eyang Meles tinggal di bulak Beran dan  mempunyai dua putra laki-laki tinggal di bulak Beran. Putra yang sulung bernama Kyai Kopek yang tinggal Krambil Wedhus sebelah barat sungai Jabudan yang kedua bernama Eyang Kalangbaya yang tinggal di Gupak warak Kebo Kuning yang berada di timur sungai Ngalang. Berbeda dengan sang Prabu, Eyang Meles sudah masuk agama Islam dan keturunannya menjadi cikal bakal warga Ngalang. Sebagai yang dituakan, Eyang Meles selalu rajin belajar, serta memberikan teladan terhadap setiap pengikutnya dalam hal ibadah, olah tani, budi pekerti, dan tingkah laku lebih-lebih dalam hal budaya. Pengalaman lampau sebagai patih membuat Eyang Meles menjadi orang yang bijaksana dan cerdik pandai. Beliau masih mengutamakan dan melestarikan olah seni, budaya, lebih-lebih olah gerak/tari (beksa). Setelah panen, Eyang Meles selalu mengadakan (nanggap) tledhek untuk tayuban. Tradisi  untuk melestarikan budaya itu juga dimaksudkan untuk memberikan hiburan pada pengikutnya (yang menjadi penduduk desa) dan anak-anak gembala. Anak-anaknya, Eyang Kopek dan Eyang Kalangbaya juga mewarisi minat tersebut untuk melestarikan dengan mengadakan Nyadran serta tayuban.

Tempatnya di alam terbuka, akhirnya untuk memperelok tempat dibuatlah gubuk dari bambu dengan atap kelapa. Karena besar ukurannya disebut Gubuk Gedhe (Gedhe = besar); yang menjadi cikal bakal tempat tersebut. Saat hari yang dinantikan tiba, Eyang Meles dan putra-putranya diundang untuk datang. Eyang Meles sangat senang dan bangga, lalu memberikan petuah:

  1. Rasa kegotongroyongan yang ditunjukan anak-anak gembala pantas diteladani dan dilestarikan. Semua pekerjaan berat niscaya menjadi ringan dan bisa dilaksanakan dengan selamat ketika dilaksanakan dengan bersama-sama dan dilandasi keputusan secara mufakat dapat meringankan.
  2. Tayuban yang diadakan tersebut menjadi salah satu cara untuk melestarikan budaya jawa yang luhur (adi luhung).
  3. Tayuban sedianya harus terus dilestarikan oleh semua anak cucu seusai panen sebagai tanda syukur yang tulus atas rejeki yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa
  4. Tempat (baca: Gubuk Gedhe) untuk tayuban baiknya dilestarikan untuk menjadi simbol “PERSATUAN DAN KESATUAN” semua warga di wilayah Desa Ngalang.
  5. Acara Gubuk Gedhe dapatlah menjadi pelecut semangat para among tani, supaya semakin giat dalam berusaha tani.

Selain itu, kebudayaan rasulan yang berkembang di masyarakat Gunung Kidul bukan hanya dilaksanakan di Desa Ngalang saja. akan tetapi juga diselenggarakan rutin setiap tahun, pada musim panen di setiap beberapa dusun di Gunung Kidul. Waktu pelaksanaan Rasulan ditentukan berdasarkan kesepakatan masyarakat pada setiap dusun. Namun biasanya, kegiatan ini dilakukan pada bulan Juni dan Juli. Kegiatan Rasulan ini dimulai dengan kerja bakti atau yang biasa disebut kirab, arak-arakan dengan membawa sajian, dan ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat dusun.

Kerja bakti atau kirab masyarakat berupa aksi membersihkan dusun bersama-sama, memperbaiki jalan, membuat atau mengecat pagar pekarangan, dan membersihkan makam. Puncak kegiatan ini berada setalah kirab, yaitu arak-arakan mengelilingi desa sambil membawa hasil panen masyarakat. Acara ini kemudian disemarakkan dengan festival seperti pertunjukkan kesenian dan olahraga. Pertunjukkan kesenian yang disuguhkan berupa doger, jathilan, wayang kulit, serta reog Ponorogo.

Tradisi Rasulan masyarakat kabupaten Gunungkidul ini telah dikemas sedemikian rupa menjadi budaya khas yang setiap tahunnya ditonton oleh wisatawan lokal maupun wisatawan asing. upacara persembahan dan arak-arakan ditutup dengan kegiatan doa bersama di balai dusun untuk mendoakan keselamatan dan ketentraman masyarakat.

Selain beberapa potensi positif yang terdapat di Gunung Kidul, juga terdapat potensi negatif berupa permasalahan dan ancaman bahaya pada bentanglahan solusional. Diantaranya yaitu Pencemaran air, sekurangnya terdapat 282 buah telaga yang tersebaar di 10 kecamatan. Meskipun demikian, tidak semua telaga atau bahkan sebagian kecil saja yang dapat dimanfaatkan sepanjang tahun dengan kualitas air yang relative rendah, sebagai contoh beberapa telaga yang mengalami pencemaran tinggi terhadap bakteri coli; Telaga Pucunganom di Purwosari, Luweng Lor di Panggang, Namberan di Paliyan, dan Karang Kidul di Girisubo.  Selain itu kekeringan dan kekurangan air bersih disaat musim kemarau. Penambangan yang dilakukan secara intensif, baik secara tradisional oleh kelompok masyarakat maupun oleh perusahaan telah memberikan kontribusi besar terhadap kerusakan lahan di bentanglahan perbukitan karst Gunung Kidul.

In reply to INKA MELANI S N 14405241055

Re: Hubungan Antara Aspek Fisik dan Aspek Sosial di Bentanglahan Solusional Karst Gunungsewu Kabupaten Gunung Kidul DIY

by DAQIQATUL FAUZIYATI PUTRI 14405244019 -

diatas disebutkan bahwa selain adanya potensi positif juga terdapat potensi negatif, dan itu sudah berjalan yang kerusakan-kerusakan itu. yang mau saya tanyakan adalah, apakah warga disana tidak ada usaha menanggulangi potensi negatif yang muncul, sedangkan saya yakin warga disana juga merasakan dampak negatifnya gitu..

In reply to DAQIQATUL FAUZIYATI PUTRI 14405244019

Re: Hubungan Antara Aspek Fisik dan Aspek Sosial di Bentanglahan Solusional Karst Gunungsewu Kabupaten Gunung Kidul DIY

by INKA MELANI S N 14405241055 -

Menurut saya penanggulangan pencemaraan air yang ada di Gunung Kidul masih sangat minim. hal tersebut dapat dilihat dari beberapa masalah yang timbul di daerah Gunung Kidul tersebut. sampai saat ini masyarakat dan pemerintah terus berupaya menanggulangi permasalahan dari pencemaran air tersebut meskipun belum secara maksimal. penanggulangan masalah pencemaran tersebut dapat dilihat dari upaya pemerintah dan masyarakat untuk mereboisasi hutan-hutan didaerah resapan air untuk mengurangi tingkat zat kapur maupun limbah logistik dari masyarakat. selain itu, beberapa upaya seperti pembangunan tanggul jembatan, talut bersemen, dan pengerukan juga sudah dilakukan untuk upaya penanggulangan masalah pencemaran air tersebut. seperti yang telah kita ketahui bahwa masyarakat daerah gunung kidul banyak memanfaatkan telaga untuk kebutuhan sehari-harinya. namun, jika dilihat dari aktivitas penduduk sehari-hari untuk melakukan mandi cuci dan kakus tentunya akan memiliki dampak negatif berupa limbah logistik yang dapat mencemari air telaga tersebut. sehingga penanggulangan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat hanya mampu memberikan dampak yang minim untuk penanggulangan masalah pencemaran air. oleh karena itu, perlu kesadaran dari pemerintah dan masyarakat untuk membatasi pencemaran logistik berupa deterjen dan menambah kawasan resapan air agar zat kapur terkurangi.