Tugas Diskusi
Kelompok:
Melysa Ambarwati (14405241054)
Bekti Handayani (14405241067)
Nanda Ardiyanti (14405244017)
Dewi Rahmawati (14405244020)
Siti Fatimah (14405244033)
Mayang Asri Wijaya (14405244035)
Tugas Diskusi
Kelompok:
Melysa Ambarwati (14405241054)
Bekti Handayani (14405241067)
Nanda Ardiyanti (14405244017)
Dewi Rahmawati (14405244020)
Siti Fatimah (14405244033)
Mayang Asri Wijaya (14405244035)
Kelompok:
Melysa Ambarwati (14405241054)
Bekti Handayani (14405241067)
Nanda Ardiyanti (14405244017)
Dewi Rahmawati (14405244020)
Siti Fatimah (14405244033)
Mayang Asri Wijaya (14405244035)
HasiI InteraksiAntaraBentuklahanStructural DenganKegiatanMayarakat
Bentuklahan asal proses struktural merupakan kelompok besar satuan bentuk lahan yang terjadi akibat pengaruh kuat struktur geologis.
Hugget (2003) dalam Pramono dan Ashari (2014:88) secara umum diastropisme dibedakan menjadi dua yaitu epirogenesa dan orogenesa. Orogenesa berarti pembentukan gunung. Epirogenesa merupakan pengangkatan atau amblesan pada suatu wilayah yang luas tanpa pelipatan dan retakan yang signifikan.
Mustofa (2011:12) gerakan orogenetik membentuk dua bentukan lahan, yaitu lipatan dan patahan. Apabila lapisan batuan cenderung bersifat keras maka akan terjadi patahan, namun apabila lapisan batuan cenderung bersifat lunak, dimungkinkan akan menjadikan bentukan lahan lipatan. Lipatan yaitu gerakan pada lapisan bumi yang tidak terlalu besar dan berlangsung dalam waktu yang lama sehingga menyebabkan lapisan kulit bumi berkerut atau melipat, kerutan atau lipatan bumi ini yang nantinya menjadi pegunungan. Punggung lipatan dinamakan aliklinal, daerah lembah (sinklinal) yang sangat luas dinamakan geosinklinal.
Dari pembentukan bentuklahan tersebut menghasilkan interaksi antara bentuklahan structural dengan aktivitas masyarakat berupa:
Bentuk matapencaharian merupakan salah satu unsure masyarakat yang sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik dari lingkungan masyrakat tinggal. Bentuklahan structural memilki karakteristik relief yang kasar. Terdapat bagian wilayah yang tinggi dan rendah. Antara kedua wilayah tersebut memiliki perbedaan aktivitas ekonomi masyarakat. Daerah yang lebih tinggi (horst/antiklin) biasanya memilki relief yang kasar dengan sumber daya alam yang sedikit, selain itu kehidupan ekonomi masyarakat lebih homogen. Sedangkan pada daerah yang lebih rendah aktivitas ekonomi lebih heterogen.
2. Budaya
Perkembangan kehidupan di era modern tidak dapat dihindari. Faktor geografis berperan terhadap perkembangan masyarakat. Bentuklahan structural tediri atas dua daerah berupa dataran tinggi dan dataran rendah. Datraan rendah biasa digunakan untuk pusat kegiatan ekonomi, hal ini dikarenakan wilayah dataran rendah mudah untuk dilakukan mobilitas baik berupa barang dan jasa. Aksesibilitas di daerah yang relative rendah mudah untuk pembangunan sarpras biaya yang dibutuhkan tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan pembangunan di wilayah dataran tinggi. Wilayah dataran tinggi dapat dikatakan tidak mudah terpengaruh dengan perkembangan era modern. Hal ini dikarenakan aksesibilitas yang rendah, pembangunan sarpras di dataran tinggi memerlukan biaya yang lebih mahal.
Penggunaan teknologi di dataran rendah dan dataran tinggi juga berbeda, di daerah dataran tinggi penggunaan teknologi masih sangat sederhana, hal ini dapat dikarenakan biaya dalam pendistribusian ke wilayah tersebut juga memerlukan biaya yang lebih tinggi.
Pola permukiman dari kedua wilayah juga berbeda, biasanya di daerah yang bergunung memiliki pola permukiman yang menyebar karena pembangunan rumah di daerah tersebut menyesuaikan kondisi relief di wilayah tersebut dengan permukiman yang menyebar menyebabkan pola perilaku masyarakat dalam hal berkomunikasi dengan cara yang lantang dan memilki logat yang tegas. Kondisi relief tersebut dapat juga memepengaruhi pola perilaku masyarakat dalam hal gotong royong, wilayah tersebut termasuk ke dalam lingkup perdesaan. Sedangkan wilayah yang datar biasanya memiliki pola permukiman yang memanjang mengikuti aliran sungai, pesisir, jalan, serta mengelompok .
3. Bahaya lingkungan yang dihadapi
Bentuklahan asal proses structural merupakan bentuklahan yang biasa dipengaruhi adanya aktivitas tektonik. Maka dari itu adanya gempa tektonik sudah diwaspadai oleh masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah tersebut. Masyarakat yang tinggal di daerah dengan bahaya yang ditimbulkan oleh bentuklahan structural misalnya pada daerah lipatan yang menghasilkan pegunungan, biasanya terdapat ancaman bahaya tanah longsor, maka masyarakat yang tinggal di sekitarnya biasanya menanami daerah yang cenderung miring dengan vegetasi atau membuat sengkedan (terasering) untuk mencegah terjadinya erosi atau gerakan massa.
4. Kearifan local
Masyarakat yang tinggal di daerah bentuklahan structural biasanya memiliki kearifan local untuk menghadapi gempabumi yang disebabkan oleh aktivitas tektonik. Kearifan local tersebut terletak pada pembuatan kerangka bangunan yang di lapisi dengan kain. Hal tersebut bermaksud memberikan ruang gerak bagi kerangka bangunan untuk bergerak saat terjadi goncangan. Hal ini sangat sesuai dengan keadaan geologis yang relative labil yang merupakan daerah tektonik aktif dan sangat berpotensi terjadinya bencana gempa bumi.
5. Pemanfaatan sumber daya alam
a. Sumberdaya lahan
Solum tanah yang berada di wilayah horst biasanya memiliki ketebalan yang tipis, sehingga lahan pada daerah tersebut cocok ditanami dengan jenis tumbuhan yang kering atau tanaman tahunan seperti pohon jati, pohon mahoni, dan sebagainya yang dapat mencengkram kuat pada batuan.
b. Sumber Daya Air
Sumberdaya air di daerah bentuklahan structural biasanya terletak di daerah lembah.
c. Sumber Daya Mineral
Daerah pelipatan tepatnya pada zona sinklinal atau cekungan biasanya terdapat sumberdaya mineral yang tinggi berupa minyak, gas, batubara, dan lain sebagainya. Selain pada cekungan, sumberdaya mineral dapat ditemukan di atas permukaan tanah yang merupakan akibat dari proses pengangkatan.
d. Sumber Daya Hayati
Sumber daya hayati pada daerah pelipatan, pengangkatan ataupun penurunan berbeda satu sama lain. Pada daerah penurunan sumber daya hayati biasanya berupa tanaman pertanian lahan basah karena pada dataran rendah biasanya sumber daya airnya melipah.Tumbuhan dapat berupa tanaman padi.Sedangkan sumberdaya hayati pada daerah pengangkatan biasanya sumber daya hayati berupa tanaman tahunan karena pada wilayah ini sumberdaya air relative sedikit sehingga tanaman yang cocok untuk wilayah ini adalah tanaman pertanian lahan kering. Tanaman berupa segon, mahoni, ataupun jati.
DAFTAR PUSTAKA
Pramono, Heru dan Arif Ashari. 2014. Geomorfologi Dasar. Yogyakarta: UNY Press.
Mustofa. 2011. Geomorfologi Dasar. Pontianak: SKIP PGRI.
saya tertarik dengan penyajian dari kelompok Anda.
1. Ada penjelasan mengenai "Bentuklahan structural memilki karakteristik relief yang kasar. Terdapat bagian wilayah yang tinggi dan rendah. Antara kedua wilayah tersebut memiliki perbedaan aktivitas ekonomi masyarakat. Daerah yang lebih tinggi (horst/antiklin) biasanya memilki relief yang kasar dengan sumber daya alam yang sedikit, selain itu kehidupan ekonomi masyarakat lebih homogen. Sedangkan pada daerah yang lebih rendah aktivitas ekonomi lebih heterogen" berikan contoh daerahnya ? dan aktivitas ekonomi apa saja ?
2. Lalu mengenai pembentukan bentuklahan tersebut menghasilkan interaksi antara bentuklahan structural dengan aktivitas masyarakat berupa pemanfaatan sumber daya alam. berikan contoh juga daerahnya dan apakah pemerintah sudah ikut memberikan perhatian khusus demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat dengan mengembangkan kawasan yang memiliki potensi tersebut ?
menanggapi dari materi yang kalian bawakan.
mengutip dari yang tuliskan di atas, "Masyarakat yang tinggal di daerah dengan bahaya yang ditimbulkan oleh bentuklahan structural misalnya pada daerah lipatan yang menghasilkan pegunungan, biasanya terdapat ancaman bahaya tanah longsor, maka masyarakat yang tinggal di sekitarnya biasanya menanami daerah yang cenderung miring dengan vegetasi atau membuat sengkedan (terasering) untuk mencegah terjadinya erosi atau gerakan massa."
bagaimana anda tahu jika di daerah lipatan akan terjadi tanah longsor? bukankah tanah longsor akan terjadi dimana saja jika di tanah yang berlereng tersebut tidak memiliki pengikat agregat tanah? selain itu juga tanah longsor akan dipengaruhi oleh iklim daerah setempat, di pembahasan kalian tidak mencantumkan objek tempat sebagai daerah tinjauan. contohnya di daerah Kulon Progo yang merupakan bentanglahan struktural dan denudasional, pegunungan Kulon Progo merupakan hasil pengangkatan, setelah tidak ada proses vulkanisme lagi di tiga gunung yang menyusun pegunungan tersebut, proses denudasi bekerja dan akhirnya karena solum tanah disana tebal dan tidak terdapat pengikat agregat tanah hal ini menyebabkan sering terjadi longsor lahan di beberapa tempat, begitupula yang terjadi beberapa waktu ini di daerah Perbukitan Baturagung utara di Nglipar, Gunung Kidul. namun jika dilihat lagi di daerah bentanglahan struktural yang belum begitu intensif pelapukan batuannya, jarang ditemui longsor lahan contohnya di perbukitan baturagung bagian barat. cmiiw :)
8. Perubahan keadaan vegetasi penutup lahan (aktifitas manusia)
dan adany gerakan masa dapat berpotensi di daerah dengan relief kasar. kami juga tidak tahu apakah semua warga memanfaatkan lahan dengan lereng relief yang kasar dengan seoptimal mungkin. daerah dengan relief kasar memerlukan pengolahan dengan hati-hati. tidak semua tanaman dapat ditanam di daerah ini. apabila daerah dengan relief kasar tidak dioptimalkan dalam pengolahannya bukankah dapat menimbulkan gerakan masa apabila solum tanah yang tipis ditanami tanaman yang tidak dapat melawan garis kontur.