Hubungan Antara Aspek Sosial dengan Bentuklahan Asal Proses Solusional Kabupaten GunungKidul, DIY

Hubungan Antara Aspek Sosial dengan Bentuklahan Asal Proses Solusional Kabupaten GunungKidul, DIY

by NOVITA ARMY RATNASARI 14405244009 -
Number of replies: 6

Hubungan Antara Aspek Sosial dengan Bentuklahan Asal Proses Solusional Kabupaten GunungKidul, DIY

Nama kelompok:

Ghofar Amin 14405241053

Yusron Ahmad Nugroho 14405241056

Rasyid Permana 14405244004

Novita Army Ratnasari 14405244009

Rustamuna 14405244014

Mussofa 14405244038

     Pramono dan Ashari (2014) menjelaskan Bentuklahan proses solusional merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses pelarutan pada batuan yang mudah larut,seperti batu gamping dan dolomite. Di daerah yang dibangun oleh batu gamping, interaksi antara proses endogen dan proses eksogen mencetak permukaan bumi menjadi morfologi yang spesifik, yang berbeda dengan daerah bukan batu gamping yang disebut topografi karst. Karena batu gamping secara umum mudah larut didalam air yang bersifat asam (mengandung banyak CO2), maka pada pembentukannya proses eksogen biasanya bekerja lebih dominan dibandingkan dengan proses endogennya. Proses eksogen yang berperan dalam pembentukan topografi karst diantaranya adalah pelarutan, pengikisan oleh air, dan pengendapan.

     Salah satu bentuklahan solusional yang ada di Indonesia terletak di Provinsi DIY, khususnya di Kabupaten Gunung Kidul. Apabila kita mengkaji bentuklahan solusional yang ada di Kabupaten GunungKidul terkait dengan hubungan bentuklahan dengan masyarakat yang ada, maka dapat dikaji melalui beberapa hal, yaitu mata pencaharian, budaya yang ada, bahaya lingkungannya, kearifan lokal yang ada dan pemanfaatan atas SDA yang ada.

     Dilihat dari mata pencahariannya, pertanian merupakan mata pencaharian utama sebagian besar masyarakat karst yang ada di Gunungkidul. Walaupun jika dilihat dari sisi kuantitas, pertanian yang dilakukan tidaklah dalam skala yang besar, tetapi tetap merupakan penyangga kehidupan sebagian besar masyarakat terutama pada musim-musim penghujan. Ketika musim kemarau, lahan pertanian ditanami sedikit palawija, dan mereka mulai menggarap pekerjaan pertukangan dan pekerjaan lain apa adanya. Bagi sebagian masyarakat yang telah memiliki pekerjaan tetap seperti pegawai negeri atau swasta ataupun usaha mandiri, pertanian dijadikan sebagai pekerjaan sampingan. Keterbatasan alam ini menjadikan mereka harus selalu beradaptasi dengan musim tersebut. Pertanian hanya dapat dilakukan pada lahan-lahan yang memiliki tutupan tanah seperti dasar cekungan atau lereng perbukitan yang di teras. Ternak seperti sapi dan kambing menjadi andalan tabungan keluarga bagi sebagian besar masyarakat Gunungkidul. Hasil kerja utama baik dari pertanian atau pekerjaan lainnya sering diwujudkan menjadi ternak tersebut. Oleh karena itu banyak ditemui kandang-kandang sapi atau kambing di sebagian rumah penduduk Gunungsewu. Namun demikian, ternak ini sebagian dipelihara secara temporal yang artinya, ketika ketersediaan pakan sulit maka ternak tersebut harus dijual.

     Sistem pertanian di masyarakat Gunungkidul sebagian besar melakukan sistem pertanian lahan kering. Didorong oleh keadaan bentanglahan yang memiliki sistem sungai bawah tanah menjadikan jarang ditemuinya sungai permukaan ataupun mata air di permukaan. Sehingga lahan yang ada di daerah tersebut cenderung lahan yang tandus /kering. Umumnya, warga menanam jagung sebagai komoditas utama. Selain mudah dalam pemeliharaan, jagung termasuk tanaman yang membutuhkan sedikit air

      Disisi lain masyarakat gunungkidul juga bermata pencaharian sebagai penambang batu kapur. Masyarakat memanfaatkan batu kapur dengan cara menambang dan mengeruk pegunungan karst, kemudian diambil dan dipergunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Batu-batu dari hasil penambangan tersebut dapat dimanfaatkan menjadi bahan-bahan yang berguna seperti sebagai bahan pembuat cat tembok, pasta gigi, tepung, kapur tulis, pupuk urea dan lain sebagainnya.

     Kemudian yang kedua dapat dilihat dari budaya yang ada. Bentanglahan karst terbentuk akibat pelarutan batuan, kebanyakan merupakan batuan gamping. Bentanglahan ini dikenal memiliki sumberdaya air yang kurang melimpah, masyarakat di daerah Gunungkidul masih memiliki kesulitan dalam memperoleh air, hal ini secara tak langsung akan mempengaruhi budaya pemukiman dan kegiatan masyarakat di daerah gunungkidul. Masyarakat cenderung memilih tempat tinggal dan beraktifitas di daerah yang memiliki sumberdaya air yang cukup banyak, karena pada daerah karst sulit untuk mendapatkan air. selain itu, penduduk di wilayah karst Gunungkidul juga banyak yang memiliki hewan-hewan ternak sehingga masyarakat akan memilih tempat yang memiliki air yang cukup seperti di telaga.

      Selain itu, bentanglahan karst juga akan mempengaruhi budaya-budaya lainnya dalam kehidupan masyarakat seperti budaya upacara tradisional, ziarah, dan bertapa yang sudah ada sejak zaman dahulu. Budaya tersebut meskipun pada saat ini sudah jarang dijumpai namun juga ada beberapa masyarakat yang masih melakukan aktivitas tersebut. Pada daerah karst ini juga dimanfaatkan oleh masyarakat dalam bidang wisata seperti ziarah dan wisata budaya.

      Yang ketiga yaitu mengenai bahaya lingkungan yang mungkin dapat terjadi. Keunikan kawasan karst itu sendiri terletak pada fenomena melimpahnya air bawah permukaannya yang membentuk jaringan sungai bawah tanah, namun di sisi lain, kekeringan tampak di permukaan tanahnya. Kawasan karst merupakan kawasan yang mudah rusak. Batuan dasarnya mudah larut sehingga mudah sekali terbentuk gua-gua bawah tanah dari celah dan retakan. Mulai banyaknya permukiman penduduk yang terdapat di daerah ini akan berpengaruh terhadap tingginya tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan. Serta bahaya dari alam sendiri berupa bencana alam guguran batuan dan runtuhnya gua bawah tanah. Pada daerah karst, dimana daerahnya tersusun dari batuan kapur yang kemampuan meloloskan airnya relatif tinggi, sehigga pada musim kemarau penduduk sering kesulitan untuk mendapatkan air tanah. Berbagai permasalahan yang muncul utamanya disebabkan oleh kurang tersedianya air terutama pada musim kemarau. Karakteristik fisik formasi karst memberikan sistem drainase yang unik dan didominasi oleh aliran bawah permukaan. kawasan karst merupakan kawasan yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Hal ini disebabkan kawasan karst memiliki daya dukung yang rendah, dan sukar diperbaiki jika sudah terlanjur rusak. Kegiatan-kegiatan manusia yang menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan karst antara lain adalah kegiatan penambangan, pertanian, pembangunan jalan, pariwisata dll. Kegiatan tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan bentang alam karst, hilangnya mata air, menurunnya keanekaragaman hayati, banjir dan pencemaran air permukaan.

          Selanjutnya dapat kita lihat dari kearifan lokal seperti apa yang dikembangkan masyarakat pada bentuklahan solusional. Bentang alam yang berupa perbukitan dan jenis tanahnya yang mudah tererosi, membuka kesadaran masyarakat untuk mengakali agar lapisan tanah tidak habis tergerus air hujan dan tererosi bersama aliran permukaan air hujan yang jatuh. Terasering menggunakan material lokal berupa pecahan batu gamping yang tersedia dalam jumlah banyak, menjadi pilihan yang arif dan efisien. Terasering dibuat mulai dari kaki, pinggang, sampai pucuk perbukitan. Lahan tipis yang tertahan dan bercampur pecahan-pecahan batuan gamping digunakan untuk budidaya tanaman pangan, seperti jagung, ketela, palawija, dan lain-lain, sementara garis konturnya ditanami tanaman tahunan seperti jati, srikaya, sirsak, dan diselingi dengan rumput kalanjana untuk pakan ternak. Bentuk kearifan lokal ini ternyata dapat mengendalikan laju erosi untuk mempertahankan lapisan tanah yang ada.

     Dan yang terakhir adalah potensi SDA yang ada di Kabupaten Gunung Kidul. Kondisi permukaan wilayah karst Gunung Kidul menyimpan berbagai potensi sumberdaya yang dapat dimanfaatkan oleh penduduk sekitar dan dikelola oleh pemerintah. Fenomena karst di Gunung Kidul sangatlah unik karena di dalamnya menyimpan berbagai sumberdaya alam baik sumberdaya alam yang ada di atas permukaan tanah maupun sumberdaya alam yang berada di bawah permukaan tanah. Adapun potensi-potensi sumberdaya alam di kawasan karst Gunung Kidul meliputi : 1)Potensi sumberdaya air di bawah permukaan berupa sungai-sungai bawah tanah yang apabila dikembangkan dan dimanfaatkan dengan baik dapat menjadi sumberdaya yang dapat menjadi solusi untuk mengatasi kekurangan ketersediaan air permukaan. 2)Morfologi yang berbukit-bukit dari batugamping dapat menjadi potensi industri pertambangan yang bernilai tinggi dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar, tentunya dengan memperhatikan lingkungkan dan zonasi terhadap area-area yang boleh ditambang dan tidak, sehingga tidak menyebabkan bencana. 3)Banyak ditemukannya fosil-fosil binatang purba pada daerah karst yang bernilai sejarah tinggi sehingga dapat dilakukan penelitian. 4)Kawasan lembah doline yang merupakan hasil pengendapan erosi memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan sebagai areal pertanian dan perkebunan. 5)Kawasan karst di Gunung Kidul yang khas dan unik dengan bentuk Karst Gunung Sewu yang terdapat gua dan sungai bawah tanah serta perbukitan yang dapat dikembangkan sebagai obyek wisata yang tentunya dapat bermanfaat dan meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar.

 

 

 

 

 

 

In reply to NOVITA ARMY RATNASARI 14405244009

Re: Hubungan Antara Aspek Sosial dengan Bentuklahan Asal Proses Solusional Kabupaten GunungKidul, DIY

by MAYANG ASRI WIJAYA 14405244035 -

Setelah membaca uraian di atas, disebutkan bahwa keadaan daerah bentanglahan karst Gunungkidul yang memiliki sistem sungai bawah tanah menjadikan jarang ditemuinya sungai permukaan ataupun mata air di permukaan, yang apabila potensi sumberdaya air di bawah permukaan berupa sungai-sungai bawah tanah ini dikembangkan dan dimanfaatkan dengan baik maka dapat menjadi sumberdaya yang dapat mengatasi kekurangan ketersediaan air permukaan. Namun pada saat ini karena belum dikembangkan, lalu apa manfaat dari sungai bawah tanah bagi masyarakat daerah karst Gunungkidul? Adakah potensi bencana yang ditimbulkan oleh sungai bawah tanah tersebut ? terimakasih :)

In reply to MAYANG ASRI WIJAYA 14405244035

Re: Hubungan Antara Aspek Sosial dengan Bentuklahan Asal Proses Solusional Kabupaten GunungKidul, DIY

by TRIMA MUSTIKA 14405241065 -

Berdasarkan yang saya baca di HarianJogja.com Sebenarnya beberapa sungai-sungai bawah tanah yang ada di GK sudah dikembangkan. Dari 7 tujuh sungai bawah tanah yang ada (meliputi Baron, Bribin, Grubug, Ngobaran, Seropan, Sumurup dan Toto), empat sungai sudah dimanfaatkan (dikembangkan), yakni Baron, Bribin, Ngobaran dan Seropan. 

Ketujuh sungai tersebut memiliki debit air yang berbeda, bila di total maka debitnya mencapai 6.810 liter per detik. Untuk potensi terbesar dimiliki oleh Baron dengan debit mencapai 4.000 liter per detik, dan terkecil di Ngobaran dengan 120 liter per detik.

Meski telah dimanfaatkan, keempat sungai bawah tanah ini (Baron, Bribin, Ngobaran dan Seropan) belum beroperasi dengan maksimal. Sebab, pengoperasiannya masih jauh dari potensi yang dimiliki dan membutuhkan biaya yang sangat mahal. Contohnya ketika pengoperasian sungai bawah tanah Bribin yang membutuhkan anggaran hingga puluhan miliar rupiah dan dalam pelaksanaannya juga membutuhkan kerjasama dengan pihak asing :)

 

 

In reply to NOVITA ARMY RATNASARI 14405244009

Re: Hubungan Antara Aspek Sosial dengan Bentuklahan Asal Proses Solusional Kabupaten GunungKidul, DIY

by Arif Ashari, S.Pd., M.Sc. 198603022020121003 -

Sumberdaya air di kawasan karst merupakan jenis sumberdaya yang bernilai tinggi bagi masyarakat karena walaupun banyak secara kuantitas tetapi tidak mudah untuk diakses. Karena pentingnya sumberdaya ini, banyak sekali berkembang kearifan lokal yang berkaitan dengan upaya penyelamatan sumberdaya air. Dapatkah kelompok saudara mengidentifikasi secara lebih spesifik kearifan lokal tersebut?

In reply to Arif Ashari, S.Pd., M.Sc. 198603022020121003

Re: Hubungan Antara Aspek Sosial dengan Bentuklahan Asal Proses Solusional Kabupaten GunungKidul, DIY

by NOVITA ARMY RATNASARI 14405244009 -

Karena pentingnya sumberdaya air di kawasan karst, maka di Gunung Kidul banyak berkembang kearifan lokal yang berkaitan dengan upaya penyelamatan sumberdaya air. Menurut beberapa sumber yang saya baca, ada beberapa kearifan lokal yang dilakukan masyarakat pada daerah mereka masing-masing, seperti:

  1. Pada wilayah Semanu berdasarkan cerita masyarakat setempat, mereka mengelola kembali danau karst yang sudah tidak berfungsi lagi. Mereka meyakini bahwa danau tersbut memiliki potensi yang besar ketika hujan datang. Karena alasan tersebut maka masyarakat bergotong-royong membuat susunan batuan di setiap tepian danau yang berfungsi sebagai penyaring air yang masuk, kemudian memberi lapisan tanah lempung di setiap sisi danau yang berfungsi sebagai penahan air agar tidak masuk ke bawah permukaan melalui rekahan-rekahan yang ada dan menanam berbagai macam tumbuhan di sekitar danau seperti Jarak, Jati dan lain-lain berfungsi sebagai penyerap dan penyimpan air, setelah melakukan ini masyarakat harus menunggu sampai tiga periode musin hujan selama tiga tahun untuk menjadikan danau ini berfungsi kembali. Selain memperbaiki dan menjaga potensi sumberdaya air yang ada, masyarakat sekitar  juga memberlakukan sistem adat yang berlaku dan dipadukan dengan sistem kepercayaan yang ada di lingkungan tersebut. Ketika ada yang berani merusak sumber air yang ada maka mereka percaya adanya hukuman berupa malapetaka seperti ketika sebelum sumber air tersebut difungssikan kembali.
  2. Adapula lahir mitos-mitos yang mengatakan bahwa dikeramatkannya tumbuhan serta telaga yang menjadi sumber air, yang sebenarnya hal tersebut memiliki tujuan baik, yaitu untuk menajga kelestarian lingkungan. itulah bebrapa kearifan lokal berkaitan dengan upaya pelestarian sumberdaya air :)
In reply to NOVITA ARMY RATNASARI 14405244009

Re: Hubungan Antara Aspek Sosial dengan Bentuklahan Asal Proses Solusional Kabupaten GunungKidul, DIY

by TRIMA MUSTIKA 14405241065 -

Saya ingin memberikan salah satu contoh mitos yang dipercayai masyarakat GK dalam menjaga dan melestarikan lingkungan hutan.

"Wonosadi menyimpan hutan adat yang merupakan satu-satunya di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Hutan adat tersebut berada di atas bukit Wonosadi yang terdiri dari 4-5 pohon besar yang sudah eksis selama beratus-ratus tahun. Bila pengunjung melihat hutan tersebut harus meminta izin kepada petugas setempat agar diberitahu peraturan dan larangannya. Alasan yang menyebabkan demikian adalah untuk mencegah perusakan hutan; mencabut dedaunan dan ranting pohon, membuang sampah sembarangan, dsb. Warga Desa Beji sangat menjaga hutan tersebut agar tidak terulang insiden ketika ada pembakaran hutan sekitar tahun 1960an. Oleh sebab itu, manfaat yang didapatkan oleh warga adalah melimpahnya ketersediaan air karna hutan yang terjaga baik menyimpan cadangan air yang dimanfaatkan untuk irigasi pertanian dan kebutuhan warga. Hal ini sangat kontras dengan kondisi Gunung Kidul selatan yang gersang dan jarang memiliki sumber air.

 
Setiap menjelang musim panen raya, warga memasak untuk sebuah upacara adat bernama Sadranan yang bertujuan supaya hasil panen mereka melimpah. Kemudian, semua masakan warga dikumpulkan dan dibawa bersama-sama ke hutan adat Wonosadi. Sadranan kerap mengundang perhatian wisatawan lokal dan mancanegara untuk melihat proses upacara dan merasakan santapan lokal khas Gunung Kidul. Ketika semua warga sampai di Hutan Wonosadi, pertama, tokoh desa menyampaikan kisah seputar tradisi Sadranan, setelah itu pengunjung dan warga menyantap bersama-sama masakan yang telah dibawa.
 
Msyarakat GK percaya bahwa hutan adat tersebut bersemayam dua leluhur yang telah bertapa dan menghilang jasadnya yang disebut Moksha. Warga percaya bahwa kedua leluhur tersebut menjadi cikal bakal lahirnya Desa Beji. Oleh sebab itu, warga begitu menghormati tradisi dan kebudayaannya. 
In reply to NOVITA ARMY RATNASARI 14405244009

Re: Hubungan Antara Aspek Sosial dengan Bentuklahan Asal Proses Solusional Kabupaten GunungKidul, DIY

by Arif Ashari, S.Pd., M.Sc. 198603022020121003 -

Tambahan: salah satu bentuk upaya mengelola sumberdaya air adalah bersih sumber, bersih telaga. bahkan ada pula larangan untuk membuang sampah atau kotoran ke dalam luweng. sebenarnya kearifan lokal masyarakat di kawasan karst sangat banyak dan tidak hanya terbatas pada pengelolaan sumberdaya air saja. kearifan lokal tersebut berkembang terutama berkaitan dengan peri kehidupan masyarakat yang dipengaruhi oleh karakteristik bentanglahan karst, diantaranya adalah sebagai berikut:

Sejak Danau Purba Wonosari mengering, dan komunitas manusia gua turun ke dataran aluvial bekas danau, kehidupan agraris mulai berkembang. Perkakas tulang dan batu kemudian digantikan oleh perkakas pertanian dari besi. Di wilayah ini rumah-rumah sederhana sudah dibangun di perkampungan-perkampungan menggantikan tradisi penghunian gua yang sedah berlangsung puluhan ribu tahun. Jejak-jejak perkampungan awal masih dapat dijumpai pada lokasi keramat seperti petilasan, sendang (mataair), kompleks kubur batu megalitik, dan situs-situs candi. Hingga kini beberapa lokasi tersebut tetap dimuliakan saat ritual Rasulan berlangsung (Yuwono, 2011). Rasulan merupakan bentuk syukur dari masyarakat akan hasil panen yang telah diperoleh dalam satu tahun sekaligus membuka lembaran tahun berikutnya yang penuh berkah. Melalui Rasulan masyarakat memberikan sedekah kepada orang lain sebagai ungkapan rasa syukur tersebut.

Ternak juga memiliki posisi penting dalam budaya masyarakat karstik Gunungkidul. Di beberapa tempat terdapat ritual khusus untuk ternak seperti Gumbregan. Ritual ini juga rutin diadakan setiap tahun disamping ritual budaya lain seperti Rasulan, Bersih Dusun, Bersih Desa, Bersih Sumber, dan Ruwatan. Ritual Gumbreg dilakukan dengan mengumpulkan berbagai hewan ternak di tanah lapang, diberi penghormatan dengan serangkaian doa, kemudian diakhiri dengan pesta warga masyarakat. Di dusun yang tidak melaksanakan ritual gumbreg hewan ternak tetap mendapatkan bagian untuk menikmati berkah perhelatan adat. Di Gunungbang, Karangmojo seusai ritual Bersih Sumber di Sendhang Sejati rombongan kesenian berkeliling rumah warga hingga malam hari dengan tujuan memberkahi ternak dan sumur masing-masing warga  (Yuwono, 2011).

referensi: Yuwono, J.S.E. 2011. Napak Tilas Penghunian Awal Gunungsewu, dalam Bakosurtanal. 2011. Ekspedisi Geografi Indonesia Karst Gunungsewu 2011. Pusat Survei Suberdaya Alam Darat, Bakosurtanal