Aktivitas vulkanisme di Pulau Jawa dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat

Aktivitas vulkanisme di Pulau Jawa dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat

oleh Arif Ashari, S.Pd., M.Sc. 198603022020121003 -
Jumlah balasan: 11

Sebagaimana telah kita pelajari pada perkuliahan minggu ke tiga ini, Pulau Jawa merupakan salah satu sektor dari busur sunda dengan karakteristik vulkanisme yang sangat aktif. Berbeda dengan Pulau Sumatera yang banyak mengalami pengangkatan sehingga rata-rata elevasinya tinggi tetapi vulkanismenya kurang intensif, di Pulau Jawa vulkanisme sangat intensif. Disisi lain Pulau Jawa merupakan daerah dengan jumlah penduduk tinggi. Pulau Jawa dengan riwayat erupsi 470 kali atau 47% dari total erupsi di Indonesia, 120 juta penduduknya bertempat tinggal di wilayah 30 gunungapi (Verstappen, 2013; Sutikno dkk, 2007; Bachri dkk, 2015). Aktivitas penduduk pada wilayah vulkan aktif berpotensi menimbulkan risiko bencana dari waktu ke waktu.

Aktivitas vulkanisme yang terjadi di Pulau Jawa tentu berpengaruh terhadap kehidupan masyarakatnya. Selain dipandang sebagai potensi bencana, dewasa ini terdapat perspektif lain dalam memandang aktivitas vulkanisme yaitu pada sisi positif yang ditimbulkan oleh peristiwa erupsi terhadap kehidupan masyarakat. Masyarakat seringkali tidak memandang bahaya vulkanik sebagai ancaman tetapi justru memanfaatkan hasil-hasil yang diperoleh dari aktivitas vulkanik yang berupa sumberdaya alam. Bachri dkk (2005) menyebutkan adanya sistem manusia-vulkan yaitu hubungan antara masyarakat dengan bentanglahan vulkanik yang ditandai oleh karakteristik kehidupan yang spesifik sebagai hasil interaksi antara manusia dengan lingkungan vulkan.

Berikan tanggapan saudara mengenai pengaruh aktivitas vulkan di Pulau Jawa terhadap kehidupan masyarakatnya. Saudara boleh menyoroti dari aspek risiko bencana sesuai dengan pandangan deterministik klasik yang berpusat pada vulkan, ataupun pandangan yang lebih holistik dengan memandang aspek positif pasca terjadinya erupsi

Sebagai balasan Arif Ashari, S.Pd., M.Sc. 198603022020121003

Re: Aktivitas vulkanisme di Pulau Jawa dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat

oleh RONI MARUDUT SITUMORANG 14405241016 -

tanggapan saya menggunakan pandangan holistik dengan memandang aspek positif pasca terjadinya erupsi.

aktivitas vulkanisme yang terdapat di pulau Jawa meruakan yang teraktif di Indonesia. Manusia merupakan makhluk yang memiliki akal dan hasrat. Segala hal yang terdapat di permukaan bumi dapat dimanfaatkan oleh manusia. Kembali ke pembahasan, Aktivitas vulkanisme memberikan dampak tidak hanya negatif tetapi juga positif. aktivitas vulkanik menyebabkan keluarnya material prioklastik kepermukaan bumi yang sangat banyak. Pada saat erupsi kemungkinan akan terjadi kerugian, namun tu hanya sesaat. Masyarakat yang mamu kritis pada pasca erupsi akan menggali begitu banyak peluang untuk menyejahterakan hidup. Pasir dan batu piroklastik merupakan hal yang tak berharga jika hanya diambil satu genggam. Namun, jika dikeruk hingga satu truk, akan menghasilkan 5ratus ribu rupiah per truk. Hal ini sangat menguntungkan dan masyarakat sudah tau akan hal itu. daerah-daerah yang telah memiliki tanah berhorison a pun sudah dapat menikmati tanah yang subur. Hal ini karena walau pun tidak terkena langsung, namu erosi lembar/lateral telah membuat tanah terperbarui akan kekayaan unsur-unsur kimia dalam tanahnya yang baik untuk pertumbuhan tanaman.

aktivitas vulkanisme memang merugikan, tapi masyarakat Jawa daerah lereng kaki gunungapi telah biasa dengan hal tersebut. sehingga manusia dapat beradpatasi sengan adanya aktivitas vulkanisme. Rumah Joglo yang merupakan rumah adat Jawa telah berkembang pada zaman dahulu melalui trial dan eror, sehingga lebih tahan gempa pra erupsi. Pasca erupsi tanah-tanah menjadi subur sehingga dapat dimanfaatkan menjadi perkebunan yang maksimal. selain itu, masyarakat menjadi lebih berinteraksi dan makin erat rasa sosialnya pasca erupsi karena merasa satu penderitaan. Hal itulah sekilas yang menjadi dampak positif dari pengaruh aktivitas vulkanis di jawa.

Sebagai balasan Arif Ashari, S.Pd., M.Sc. 198603022020121003

Re: Aktivitas vulkanisme di Pulau Jawa dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat

oleh Arif Ashari, S.Pd., M.Sc. 198603022020121003 -

Berikan beberapa contoh kemampuan adaptasi masyarakat di Pulau Jawa terhadap lingkungan vulkan serta kearifan lokal yang terbentuk dari interaksi manusia dan lingkungan

Sebagai balasan Arif Ashari, S.Pd., M.Sc. 198603022020121003

Re: Aktivitas vulkanisme di Pulau Jawa dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat

oleh RONI MARUDUT SITUMORANG 14405241016 -

sepengatahuan saya, adaptasi oleh masyarakat sangat banyak seperti terdapatnya alat untuk memberikan peringatannya jika terjadi erupsi. banyak pengadaptasian dari waktu ke waktu dalam penanggulangan erupsi. Hal ini secara kasat mata dapaterlihat dari semakin menurunnya angka kematian pada saat terjadi erupsi, hal ini sejalur dengan semakin berkembang teknologi yang dihasilkan oleh pemikiran kritis masyarakat global. pada segi perkebunan masyarakat daerah fasies medial menggunakan lahan untuk perkebunan sayur mayur pada musim tertentu. sedangkan, pada daerah jalur fasies distal  sudah dimulai adanya pencocoktanaman jenis tanaman padi yang membutuhkan banyak air. air yang banyak dihasilkan oleh springshasil dari perbedaan kemiringan lereng distal dan medial, hal ini terlihat pad peta RBI Kaliurang, yang terdapat persebaran sawah dan pola persebaran penduduk yang mulai ada setelah adanya springs, seperti pada arah NW peta. Maybe anyone, my friend, can added her/his opinion with good sources for good answer?

Sebagai balasan Arif Ashari, S.Pd., M.Sc. 198603022020121003

Re: Aktivitas vulkanisme di Pulau Jawa dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat

oleh FAJAR WAHYU KURNIAWAN 14405244007 -

sedikit menanggapi tentang masyarakat pulau Jawa

Pada dasarnya manusia itu beradaptasi sesui dengan kondisi lingkungannya, dan di Pulau Jawa ini terdapat keanekaragaman lingkungan. Dari Pulau Jawa yang mempunyai kondisi lingkungan yang beranekaragam maka akan membentuk suatu peradaban masyarakat yang beragam pula. Daerah lingkungan Pulau Jawa yang sebagian besar kondisi lingkungan adalah daerah vulkanisme atau dapat disebut daerah gunung, sehingga permukimannya juga tidak jauh dari Gunung, yaitu berada dilereng gunung. Masyarakat yang berada dilereng gunung itu dalam beradaptasi selalu memperkirakan dalam kebutuhannya dan keselamatnnya. Masyarakat membuat permukiman dalam sudut pandang untuk memenuhi kebutuhan hidup itu sangat strategis sekali, karena daerah kawasan vulkan adalah daerah yang subur untuk menjadi daerah pertanian perkebunan dan juga berternak (makan ternak tersedia). Masayarkat di daerah vulkan sebagian besar adalah petani karena sudah mengetahui bahwa potensi dari material yang dikeluarkan oleh vulkan itu sangat baik untuk bercocok tanam. contohnya di daerah vulkan Gunung Merapi, yang masyarakat lereng Gunung Merapi di Yogyakarta mengolah lahan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka tidak khawatir mereka tidak mempunyai uang, karena dalam benak mereka itu kita harus memanfaatkan lingkungan yang ada. Untuk segi keselamatan, masyarakat masyarakatnya daerah vulkan itu ada kearifan lokal dari nenek moyang semenjak dulu dalam menghindari dari bahaya vulkan, seperti yang sudah diketahui oleh beberapa orang yang mendalami itu dan dijadikan sebuah penelitian untuk mengankat kembali kearifan lokal yang mulai pudar pada saat ini. Contoh dari kearifan lokal dalam segi keselamatan yaitu dalam bentuk kearifan lokal adalah turunnya hewan dari hutan ke permukiman warga, suhu udaranya mulai meningkat tidak seperti biasanya, terdapat suara-suara gemuruh, dan masih banyak lagi. 

Jadi dari pembahan diatas bahwa dari interaksi manusia dengan lingkungan di daerah vulkan Pulau Jawa itu sangat baik , mereka memikirkan dari segala aspek agar meraka dapat tetap hidup sejahtera walaupun terdapat sebuah ancaman bahaya tetapi mereka tidak melupakan itu untuk mencari sebuah solusinya.

Sebagai balasan Arif Ashari, S.Pd., M.Sc. 198603022020121003

Re: Aktivitas vulkanisme di Pulau Jawa dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat

oleh VIDYA ARUM PERTIWI 14405241008 -

Saya ingin mencoba memberikan tanggapan bagaimana masyarakat yang tinggal di lingkungan vulkan dan kearifan lokal yang terbentuk dari interaksi manusia dengan lingkungan, dengan pandangan deterministik yang ditawarkan Pak Arif.

            Human determinism merupakan pendekatan yang menekankan kemampuan manusia untuk mengendalikan lingkungan dalam memperoleh manfaat lingkungan itu sendiri dengan menanggulangi hambatan yang disebabkan oleh kondisi alam. Masyarakat dalam beradaptasi dengan lingkungan, memperoleh dan mengembangkan suatu kearifan yang berwujud pengetahuan atau ide, norma adat, nilai budaya, aktivitas dan peralatan sebagai hasil abstraksi mengelola lingkungan. Seringkali pengetahuan mereka tentang lingkungan setempat dijadikan pedoman yang akurat dalam mengembangkan kehidupan di lingkungan pemukimannya.

            Misalnya masyarakat lokal yang bermukim di lereng Gunung Merapi, Jawa Tengah, telah mempunyai kemampuan untuk memprediksi kemungkinan terjadinya letusan. Hal tersebut antara lain menggunakan indikator berbagai jenis hewan liar yang turun lereng di luar kebiasaan dalam kondisi lingkungan normal. Dapat dipahami, penggunaan indikator alam tersebut cukup rasional mengingat berbagai jenis binatang dengan instingnya memiliki kepekaan tinggi dalam merasakan kian meningkatnya suhu tanah akibat meningkatnya tingkat aktivitas Gunung Me­rapi sehingga mereka pindah tempat.

            Selain itu, dalam menghindari risiko bencana Gunung Merapi meletus, warga lokal di lereng Gunung Merapi juga mempunyai kearifan lokal dalam membangun permukiman di lingkungan yang penuh risiko bencana alam letusan gunung api. Permukiman tersebut bisanya berkelompok di lahan datar dengan dikelilingi tegalan. Rumah-rumah yang mereka bangun menghadap ke arah yang berlawanan de­ngan Gunung Merapi. Maksudnya, berdasarkan pandangan mereka, agar rumah-rumah tersebut tidak dimasuki makhluk halus pengganggu yang menghuni Gunung Merapi. Namun, dapat ditafsirkan bahwa rumah-rumah tempat tinggal tersebut dibangun menghadap ke arah jalan utama desa yang membujur ke arah utara-selatan atau selatan-utara agar sekiranya terjadi letusan, mereka dapat dengan segera melarikan diri menuju jalan utama desa.

            Bentuk kearifan lokal lain dapat dilihat pada masyarkat Suku Tengger yang tinggal di lereng Gunung Bromo. Gunung Bromo merupakan salah satu dari lima gunung yang terdapat di komplek pegunungan Tengger. Dari catatan sejarah yang ada erupsi Gunung Bromo pertama kali dicatat oleh manusia pada tahun 1804. Erupsi Gunung Bromo tetunya tidak menjadikan masyarakat Tengger berkecil hati, justru menganggap erupsi Gunung Bromo sebagai “berkah” dari alam yang patut disyukuri.

            Nilai kearifan lokal pada pemukiman berupa aturan/ketentuan yang mengatur tentang orientasi peletakan elemen-elemen pembentuk pemukiman, antara lain: 1) Ketentuan peletakan makam keramat disebelah utara desa. 2) Pura sebagai tempat ibadah diletakkan di tengah-tengah pemukiman. 3) Padhanyangan (dhanyang) merupakan tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat Suku Tengger letaknya ada disebelah selatan desa dan berada pada satu orientasi dengan makam keramat yang mengarah ke Gunung Bromo. 4) Ladang/tegalan yang digunakan untuk pertanian diletakan di sebelah selatan, utara dan timur desa. Dapat dipahami masyarakat Suku Tengger menjadikan Gunung Bromo yang terletak disebelah selatan menjadi poros/pusat spiritual, berarti masyarakat selalu memeprhatikan Gunung Bromo setiap saat guna mengantisipasi  segala kemungkinan atau mitigasi.

            Dalam pengelolaan ladang/tegalan sistem penanaman yang digunakan adalah sistem tumpang sari. Karena kontur lahan yang cukup curam, untuk menghindari tanah longsor dan erosi maka dibuat sistem terassering dengan membuat lahan berpetak-petak yang disebut bedengan. Dan untuk pemeliharaan hewan ternak, peletakan kandang jauh dari pemukiman penduduk. Peletakan kandang ternak yang jauh dari pemukiman ini merupakan wujud tindakan-tindakan yang arif lingkungan. Hal ini dimaskudkan, kotoran ternak yang ada dapat dibuat pupuk kandang yang mampu menyuburkan tanpa merusak tekstur tanah namun juga ramah lingkungan.   

Sebagai balasan Arif Ashari, S.Pd., M.Sc. 198603022020121003

Re: Aktivitas vulkanisme di Pulau Jawa dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat

oleh Arif Ashari, S.Pd., M.Sc. 198603022020121003 -

ada yang dapat memberikan contoh kearifan lokal berkaitan dengan vulkanisme di daerah masing-masing?

untuk kearifan lokal masyarakat sekitar gunungapi merapi akan saya sampaikan pada sesi diskusi berikutnya pada minggu ke empat, masih berkaitan dengan vulkan juga khususnya aspek geomorfologi

Sebagai balasan Arif Ashari, S.Pd., M.Sc. 198603022020121003

Re: Aktivitas vulkanisme di Pulau Jawa dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat

oleh SATRIO BIMOWIBOWO 14405241050 -

Denga banyak vulkanisme di jawa tentu berpengaruh terhadap kehidupan masyarakatnya. ingat pelajaran Teori Sosial Indonesia teman-teman, Idealis dan Material(kalau tdak salah) Ide adalah gagasan dan material adalah keadaan lingkungan, dengan menengok pada lingkungan yang ada maka akan tercipta adanya ide, misal pada kasus ini dengan adanya vulkan tentu pasti mengeluarkan material berupa pasir sehingga masyarakat memanfaatkanya sehingga bernilai ekonomi, 

kemudian dengan daerah bertopografi tentunya menimbulkan tantangan seperti yang sedang menjamur saat ini fenomena motor tril KLX menjadi primadona anak jaman sekarang lihat saja ketika PLG mini bersama pak Ari di lereng merapi ada yang sedang ngetril, topografi tinggi menyebabkan suhu yang semakin menurun pula, sehingga banyak warga memanfaatkanya untuk menanam salak dan masi banyak budaya masyarakat terkait keadaanya yang dikelilingi vulkan

maaf kalau tidak nyambung pak ari dan teman-teman yang lain :D

Sebagai balasan Arif Ashari, S.Pd., M.Sc. 198603022020121003

Re: Aktivitas vulkanisme di Pulau Jawa dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat

oleh PURNO ADHYATMOKO 14405241036 -

Mencoba ikut nimbrung pak, seperti yang udah di bahas sama fajar mengenai kearifan lokal masyarakat penghuni lereng gunung api Merapi, saya setuju dengan fajar, salah satu bentuk kearifan lokal akibat adaptasi masyarakat yg tinggal di lereng merapi dengan gunung api merapi yaitu masyarakat lereng merapi tau, ketika hewan di lereng merapi (contoh: monyet)  bertingkah aneh dan turun ke daerah yang lebih rendah menandakan bahwa aktivitas vulkanik merapi sedang meningkat,,, bagaimana masyarakat bisa tau? Gunung api merapi sudah mengalami erupsi berkali-kali, dan ketika aktivitas vulkanik gunung api merapi meningkat, masyarakat memperhatikan tanda2 alam sekitar, dan nenurunkan pengetahuan tersebut lintas generasi, 

Sebagai balasan Arif Ashari, S.Pd., M.Sc. 198603022020121003

Re: Aktivitas vulkanisme di Pulau Jawa dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat

oleh TOIFAH 14405241039 -

Saya akan mencoba memberikan contoh kearifan lokal berkaitan dengan vulkanisme di daerah saya. Karena saya tinggal di Purwokerto, Banyumas, maka tentu saja dekat dengan Gunungapi Slamet. Gunungapi Slamet yang saya tahu merupakan gunungapi yang masih aktif hingga sekarang. letak gunung ini di Jawa Tengah dan merupakan gunungapi tertinggi di sana dengan ketinggian 3428mdpl. Gunung Slamet berada di perbatasan Kabupaten Brebes, Banyumas, Tegal dan Pemalang . Beberapa waktu yang lalu sekitar bulan September 2014, Gunung Slamet dikabarkan akan meletus. Warga desa yang dekat dengan gunung Slamet, seperti warga desa Sumbang Kabupaten Banyumas tentu saja mengalami kekhawatiran akan terkena bencana letusan. Oleh karena itu warga tersebut menggelar berbagai acara ritual seperti; Slametan adat Jawa, Sholat Istighozah dan tumpengan. Warga juga membuat ketupat dalam bahasa jawa disebut 'kupat slamet' untuk tolak bala yang berisi selembar daun salam untuk kemudian digantungkan di pintu masuk masing-masing rumah. Ada pula warga yang membuat masakan sayur pepaya muda atau dalam bahasa jawa sering disebut 'jangan gandul' sebagai simbol harapan bahwa material erupsi gunungapi Slamet tidak sampai ke pemukiman penduduk. fenomena tersebut merupakan suatu bentuk budaya yang dimiliki warga sekitar gunung Slamet. Hal tersebut merupakan salah satu kearifan lokal menurut saya. Ternyata, lingkungan alam juga dapat mempengaruhi kehidupan masyarakatnya salah satunya pada aspek budayanya, kemudian berpengaruh pula pada pola pikir masyarakat. Di sana keyakinan atau kepercayaan bahwa ritual tertentu akan membawa dirinya pada keselamatan sangat lumrah di daerah sekitar Gunung Slamet. meskipun khawatir dengan ancaman erupsi gunung Slamet, namun di sisi lain ternyata keberadaan Gunungapi Slamet membawa keberkahan bagi penduduk sekitar. penduduk telah memanfaatkan lahan yang subur untuk pertanian,  pemandangan alam yang indah, adanya mata air panas dan sebagainya sebagai potensi pariwisata yang saat ini menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat tersebut. daerah yang telah dimanfaatkan untuk pariwisata misal Baturaden.

nah wilayah tersebut menurut saya juga bisa dikategorikan sebagai suatu region karena di dalamnya terdapat perpaduan antara aspek fisik dan sosial budaya (manusia) yang saling berinteraksi, interelasi dan interdependensi membentuk suatu wilayah yang terpadu (komprehensif integratif).

mungkin itu sih pak dari saya, kalo keliru mohon diluruskan dan mohon bimbingannya dari bapak maupun dari teman-teman

matur nuwun 

Sebagai balasan Arif Ashari, S.Pd., M.Sc. 198603022020121003

Re: Aktivitas vulkanisme di Pulau Jawa dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat

oleh RIYANTO 14405241013 -

Maaf sebelumnya, mencoba ikut ambil bagian. Saya rasa memang benar masing-masing masyarakat yang tinggal di lereng gunung memiliki kearifan lokal yang berbeda menyesuaikan dengan keadaan dan juga kondisi letusan pada area Gunung dimana masyarakat tersebut tinggal.

Kebetulan saya berasal dari lereng gunung Slamet jadi sedikit bisa contoh salah satu kearifan yang dilakukan oleh masyarakat lereng gunung Slamet yakni tradisi "Gandulan". Sekilas memang tampak seperti mitos belaka, namun sebenarnyatradisi "Gandulan " bukanah mitos karena salah satu kearifan lokal masyarakat lereng gunung Slamet ini memiliki makna yang luar biasa.

Pada tradisi tersebut masyarakat secara bersama-sama mengkonsumsi sayur gandul atau pepaya yang direbus menggunakan air. Dari segi kesehatan pepaya atau gandul yang direbus ini memberikan stamina lebih pada orang yang mengkonsumsi sehingga membantu masyarakat yang membutuhkan energi lebih disaat terjadi erupsi. Selain itu dilihat dari segi sosial tradisi ini juga dapat menumbuhkan rasa perasaudaraan dikala sedang atau memang benar-benar terjadi bencana erupsi.

Selain karena tradisi yang dilakukan secara serentak oleh masyarakat juga karena adanya rasa dan harapan serta niatan yang sama dari masyarkat Lereng Slamet. Sehingga ini sangat membantu kondisi masyarakat di saat atau pasca erupsi andai memang benar-benar terjadi. Tapi Alhamdulillah KeSlametan masih menghampiri masyarakat Lereng Gunung Slamet..