Hakikat Belajar Matematika
Belajar matematika merupakan sebuah proses aktif dimana siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan matematika sendiri untuk endapatkan informasi.
Bagaimanakah belajar matematika yang bermakna?
Belajar matematika yang bermakna apabila siswa memahami setiap kompetensi yang akan dicapai dari setiap bab yang dipelajari.
Ada beberapa cara belajar matematika
- pendekatan spiral
Konsep matematika selalu berhubungan dengan materi sebelumnya. sehingga guru harus meyakinkan bahwa siswa paham dengan materi sebelumnya.
- Bertahap
Dimulai dari konsep-konsep yang sederhana, menuju konsep yang lebih sulit.
Menggunakan peraga benda-benda konkrit, kemudian menggunakan gambar-gambar pada tahap semi konkrit dan akhirnya ke simbol-simbol pada tahap abstrak.
- Induktif
Langsung dibertikan pada contoh nyata, bukan definisi.
Belajar matematika kurang bermakna apabila siswa hanya dapat berhitung, mengerjakan soal yang ada di buku tanpa mengetahui tujuan yang akan dicapai untuk memecahkan
masalah kehidupan sehari-hari. sehingga terkesan ada pemisah antara dunia sekolah dengan kehidupan nyata.
Matematika bukan hanya menghitung akan tetapi bagaimana siswa dapat menganalisis, bernalar untuk dapat menggunakan matematika dalam memecahkan masalah.
Tujuan Pendidikan Matematika
- Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikian, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsistensi.
- Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.
- Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
- Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, grafik, peta, diagram, dalam menjelaskan gagasa.
Paradigma Perbedaan Teori Belajar
1. Behaviorisme
Teori behaviorisme adalah teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan.
Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka.
2. Humanisme
Teori belajar humanistik pada dasarnya memiliki tujuan belajar untuk memanusiakan manusia. Oleh karena itu proses belajar dapat dianggap berhasil apabila si pembelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri.
Artinya peserta didik mengalami perubahan dan mampu memecahkan permasalahan hidup dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
3. Kognitivisme
Teori kognitif adalah teori yang menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan manusia dalam memahami berbagai pengalamannya sehingga mengandung makna bagi manusia tersebut.
Kognitif adalah proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan saraf pada waktu manusia sedang berpikir.
4. Konstruktivisme
Permasalahan dibangun dari pengetahuan yang direkontruksi sendiri oleh siswa, sehingga siswa mampu mencari masalah, kemudian menyelesaikannya, hingga mampu menyusun keseluruhan hal tersebut dalam satu konsep.
Guru atau pendidik berperan membantu agar proses mengkontruksi materi lebih mudah.