Meta-Cognitive Activity (WEEK-2)

Meta-Cognitive Activity (WEEK-2)

by KHOIRUDIN 14301244002 -
Number of replies: 0

SPM-PMI 2014

Selasa, 16 Februari 2015

 

KHOIRUDIN-Mata kuliah Strategi Pembelajaran Matematika memasuki minggu kedua di semester 4 ini. Pada minggu kedua ini kami melakukan diskusi kecil setiap kelompok untuk membahas pertanyaan-pertanyaan apa yang muncul pada masing-masing sub tema yang telah didapatkan sesuai dengan undian yang telah dilakukan sebelumnya. Secara garis besar tema yang  dibahas dalam setiap kelompok adalah tentang "Dasar-dasar filosofis pengembangan strategi pembelajaran."

 

Kemudian setelah selesai berdiskusi dalam kelompok, Ibu Endah Retnowati, M.Ed., Ph.D menayangkan video di youtube tantang Bloom's Taxonomy of the Cognitive Domain Explained dan Bloom's Taxonomy for Teachers. Dari kedua video tersebut kami mendapatkan hal-hal baru yang bermanfaat. Pada Bloom's Taxonomy versi lama terdapat 6 tingkatan dalam berpikir. Keenam tingkatan tersebut adalah sebagai berikut:

1. knowledge

2. comprehension

3. application

4. analysis

5. synthesis

6.  evaluation 

Taksonomi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu tassein yang berarti mengklasifikasi dan nomos yang berarti aturan. Jadi Taksonomi berarti hierarkhi klasifikasi atas prinsip dasar atau aturan. Istilah ini kemudian digunakan oleh Benjamin Samuel Bloom, seorang psikolog bidang pendidikan yang melakukan penelitian dan pengembangan mengenai kemampuan berpikir dalam proses pembelajaran.

 

Pada ahun 1956, Bloom, Englehart, Furst, Hill dan Krathwohl berhasil mengenalkan kerangka konsep kemampuan berpikir yang dinamakan Taxonomy Bloom. Jadi, Taksonomi Bloom adalah struktur hierarkhi yang mengidentifikasikan skills mulai dari tingkat yang rendah hingga yang tinggi.

 

Revisi Taksonomi Bloom

Pada tahun 1994, salah seorang murid Bloom, Lorin Anderson Krathwohl dan para ahli psikologi aliran kognitivisme memperbaiki taksonomi Bloom agar sesuai dengan kemajuan zaman. Hasil perbaikan tersebut baru dipublikasikan pada tahun 2001 dengan nama Revisi Taksonomi Bloom. Revisi hanya dilakukan pada ranah kognitif. Revisi tersebut meliputi:

1. Perubahan kata kunci dari kata benda menjadi kata kerja untuk setiap level taksonomi.

2. Perubahan hampir terjadi pada semua level hierarkhis, namun urutan level masih sama yaitu dari urutan terendah hingga tertinggi.

 

Perubahan mendasar terletak pada level 5 dan 6. Perubahan-perubahan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Level 1, knowledge diubah menjadi remembering (mengingat).

Level 2, comprehension dipertegas menjadi understanding (memahami).

Level 3, application diubah menjadi applying (menerapkan).

Level 4, analysis menjadi analyzing (menganalisis).

Level 5, synthesis dinaikkan levelnya menjadi level 6 tetapi dengan perubahan mendasar,

yaitu creating (mencipta).

Level 6, Evaluation turun posisisinya menjadi level 5, dengan sebutan evaluating (menilai).

 

Jadi, Taksonomi Bloom baru versi Kreathwohl pada ranah kognitif terdiri dari enam level. Revisi Krathwohl ini sering digunakan dalam merumuskan tujuan belajar yang sering kita kenal dengan istilah C1 sampai dengan C6.

Taksonomi Bloom baru versi Kreathwohl pada ranah kognitif terdiri dari enam level:

1. remembering (mengingat),

2. understanding (memahami)

3. applying (menerapkan)

4. analyzing (menganalisis, mengurai),

5. evaluating (menilai)

6. creating (mencipta). 

 

Sebagai guru yang baik harus memahami tentang tingkatan berpikir seperti yang ada pada "Taksonomi Bloom" sehingga bisa membangun pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Guru harus menyadari bahwa siswa memiliki prakonsepsi berbeda dengan materi yang mereka akan belajar. pengetahuan konseptual dan faktual sangat penting untuk mengembangkan kompetensi siswa. Pendekatan meta-kognitif juga dibutuhkan untuk membantu siswa mengontrol belajar mereka sendiri.

 

Empat prinsip-prinsip pembelajaran yang bermakna:

1) pemahaman baru dimulai dengan pemahaman sebelumnya dan pengalaman dari para siswa

2) prakonsepsi siswa harus terlibat dalam pembelajaran,

3) pengetahuan faktual dan kerangka kerja konseptual yang penting terhadap pembelajaran yang bermakna, dan

4) Monitoring siswa terhadap diri sendiri dapat dicapai dengan pendekatan meta-kognitif.

 

Pembelajaran bermakna terjadi ketika peserta didik dapat membangun pengetahuan mereka sendiri. Hal ini akan terjadi ketika peserta didik dapat membangun pengetahuan mereka sendiri dan memantau kemajuan mereka sendiri

 

Siswa dapat menghubungkan antara pengetahuan yang ada dan setelah menghubungkan mereka dengan pengetahuan baru dengan asimilasi atau akomodasi cara antara pengetahuan faktual dan kelancaran prosedural yang harus dikaitkan dalam rangka untuk membantu siswa memahami pengetahuan baru.

 

References:

Madya, R. U.  W.TAKSONOMI BLOOM.Pusdiklat KNPK.
Retnowati,  Endah.Principles of Meaningful Learning.UNY

614 words