Pada minggu ini, semua mahasiswa diminta untuk mepresentasikan materi pembelajaran pada minggu yang lalu, yaitu metode Cooperative Learning. Berikut beberapa tipe pembelajaran yang ada dalam model Cooperative Learning.
Group Investigation (GI)
Yaitu salah satu tipe dari Cooperative Learning yang menuntut siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi atau keterampilan proses kelompok. Tahapan yang ada dalam GI ini diantaranya yaitu tahapan pemecahan masalah, tahapan pengelolaan kelas, dan tahapan pemaknaan secara perseorangan.
Tujuan dari tipe pembelajaran ini yaitu memantau siswa untuk menginvestigasi suatu topik dalam pembelajaran dan meningkatkan pemahaman siswa melalui investigasi.
Think Pair and Share
Yaitu yaitu pembelajaran kelompok dimana siswa diberi kesempatan untuk berfikir mandiri dan saling membantu dengan teman yang lain. Tipe ini dikembangkan oleh Frank Lyman, dkk dari Universitas Maryland pada tahun 1985 sebagai salah satu struktur kegiatan cooperative learning.
Langkah-langkah (syntaks) dari Think Pair and Share yaitu:
- Tahap pendahuluan, dimana guru akan menjelaskan aturan main dan batasan waktu untuk setiap kegiatan di pembelajran, memotivasi siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, daj menjelaskan kopetensi yang harus dicapai oleh siswa.
- Tahap Think, dimana guru menggali pengetahuan awal siswa melalui kegiatan demonstrasi, memberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada seluruh siswa, dan kemusian siswa mengerjakan LKS tersebut secara individu.
- Tahap Pair, siswa dikelompokkna secara berpasangan (misal teman sebangku) untuk berdiskusi mengenai jawaban tugas yang telah dikerjakan.
- Tahap Share, yaitu satu pasang siswa dipanggil secara acak untuk berbagi pendapat kepasa seluruh siswa di kelas dengan dipandu oleh guru.
- Tahap penghargaan, yaitu siswa dinilai secara individu dan kelompok.
Kelebihan:
- Memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan,,
- Siswa akan terlatih menerapkan konsep, karena bertukar pendapat dengan temannya untuk memecahkan masalah,
- Siswa lebih aktif,
- Siswa memperoleh kesempatan untuk mempresentasikan diskusinya,
- Memungkinkan guru untuk banyak memantau siswa dalam pembelajaran.
Kekurangan:
- Sangat sulit diterapkan di sekolah yang kemampuan siswanya rendah dan waktu terbatas,
- Banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor,
- Lebih sedikit ide yang muncul,
- Jika ada perselisihan, tidak ada penengah.
Snowball Throwing
Yaitu salah satu pembelajaran yang dikemas semenarik mungkn dengan cara melempar bola kertas yang berisi pertanyaan dari pembelajaran.
Langkah-langkah yang harus dilakukan:
Membentuk kelompok --> memilih ketua kelompok --> guru menjelaskan materi pembelajaran ke ketua kelompok --> ketua kelompok menjelaskan ke anggotanya --> membuat soal dikertas yang dibentuk menjadi bola-bola kertas --> kertas dilempar kesiswa lain --> siswa yang mendapat lemparan kertas harus menjawab pertanyaan yang ada didalamnya.
Model pembelajaran yang seperti ini melatih siswa untuk tetap siap dalam segala kondisi, melatih kerja sama dengan anggota yang lainnya, serta melatih konsentrasi. Namun terdapat kekurangan dari metode ini, yaitu jika ada siswa yang tidak memperhatikan perintah, maka hanya akan membuat gaduh di dalam kelas.
Student Team Achievement Division
Dalam tipe pembelajaran ini, siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa mengerjakan kuis tentang materi itu secara individu.
Jigsaw
Yaitu tipe pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, dengan pembentukan kelompok awal dan kelompok khusus.
langkah-langkah yang harus dilakukan:
Membentuk kelompok awal dengan anggota heterogen --> setiap anggota dalam satu kelompok diberi satu topik pembelajaran yang berbeda, namun masih dalam satu lingkup pembahasan --> siswa yang mendapat topik sama membentuk kelompok ahli --> dari setiap kelompok ahli akan diskusi dan mempelajari materi sampai benar-benar pamah --> kembali ke kelompok awal --> setiap anggota kelompok menjelaskan materi yang sudah dikuasai kepada anggota yang lain.
Dalam hal ini, tipe ini menuntut siswa untuk percaya dengan temannya karena siswa akan bergantung dengan pengetahuan orang lain.
Number Head Together
Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Numbered Heads Together (NHT) atau jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti Teknik Kepala Bernomor Terstruktur, hal ini memudahkan pembagian tugas. Dengan teknik ini, siswa belajar melaksanakan tanggung jawab pribadinya dalam saling keterkaitan dengan rekan-rekan kelompoknya.
Tim Group Tournament
Teams Games Tournaments (TGT) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, suku atau ras yang berbeda. Kemudian diadakannya suatu games tournments antar kelompok.
Â
Secara umum, ada lima prinsip Cooperative Learning,yaitu:
- Face-to-face interaction, yaitu pembelajaran dilakukan dengan bertatap muka secara langsung dengan siswa. Tidak menggunakan e-learning, tapi bertemu secara langsung.
- Student's Accountability, yaitu pembelajaran yang dilakukan akan membentuk tanggung jawab pada individu, karena di pembelajaran model Cooperative Learning sangat bergantung pada siswa yang lain. Selain itu, model pembelajaran ini akan melatih siswa untuk memperhatikan teman/anggota yang lainnya.
- External Motivation, yaitu pemberian reward untuk memotivasi siswa dalam pembelajaran. Hal ini juga bertujuan untuk melatih tanggung jawab siswa. Pemberian reward ini tergantung pada capaian individu dalam kelompok. Cara yang mudah dilakukan yaitu melihat hasil/skor dari awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran. Di awal pembelajaran, semua siswa diberi pre-test terlebih dahulu. setelah pembelajaran, siswa juga diberikan post-tes. Skor awal dan skor akhir tiap individu dijumlahkan, dan dicari skor rata-rata dalam satu kelompok. Jika rata-rata suatu kelompok tersebut adalah yang paling besar, maka yang akan mendapatkan reward adalah kelompok tersebut.
- Communication Skill, yaitu keterampilan berkomunikasi dengan orang lain.
- Intedependence, yaitu ketergantungan satu dengan yang lainnya dalam memahami materi pembelajaran (paling terlihat pada tipe Jiksaw).
Â
RINGKASAN DARI IBU:
Cooperative Learning muncul pada tahun 80 an, dimana masyarakat Amerika Serikat yang notabennya adalah warga imigrasi mempunyai sifat dan karakteristik yang heterogen. Dalam pembelajarannya, siswa cenderung tidak mau bekerjasama, berteman atau berkelompok dengan siswa yang berbeda ras. Oleh karena itu terbentuk model pembelajaran Kooperatif.
Cooperative Learning ini sebenarnya termasuk dalam Problem Based Learning, dimana LKS yang diberikan kepada siswa merupakan chalenging problems.
Tidak semua sekolah bisa menerapkan Problem Based Learning maupun Cooperative Learning kepada siswanya. Siswa yang tidak menguasai materi prasyarat dalam permasalahan, akan mengalami kesulitan dalam menyelesaiakan masalah atau memahami materi pembelajaran yang diajarkan. Selain itu siswa juga tidak akan bisa menjelaskan materi pembelajaran kepada teman yang lainnya.
Efek yang akan terjadi jika sekolah dengan siswa yang belum bisa mengusai materi prasyarat, siswa dan anggota kelompoknya hanya kan mengobrol  dengan yang lainnya.
Seorang guru harus pandai mengidentifikasi dan mengetahui prosedur yang harus diberikan dalam pembelajaran.