Monyet Sulawesi

Monyet Sulawesi

oleh FEBRIANA ANITA YUSTINAWATI 14405244011 -
Jumlah balasan: 0

Febriana Anita Yustinawati
14405244011

MONYET SULAWESI

 

Monyet Sulawesi merupakan salah satu satwa endemik di Sulawesi. Lebih banyak monyet marga Macaca di Sulawesi dibandingkan dengan keseluruhan monyet di Asia. Luas pulau Sulawesi hanya 2% dari luas penyebaran jenis-jenis marga Macaca, namun jenis yang terdapat melebihi 25% dari keanekaragaman marga (Albrecht, 1978). Di pulau Sulawesi terdapat 7 jenis dari 19 jenis Macaca, yaitu Macaca maura di Sulawesi Selatan, M. tonkeana di Sulawesi Tengah, M. hecki di Sulawesi tengah-utara, M. nigrescens di dekat Gorontalo-Kotamubagu, M. nigra di Sulawesi Utara, M. ochreata di Sulawesi tenggara dan M. brunnescens di pulau Muna dan Buton (Fooden, 1969). Ketujuh jenis tersebut terdistribusi di Pulau Sulawesi pada geografis yang berbeda atau terpisah (Allopatric), dan dapat ditemukan di dataran rendah dan hutan pegunungan bawah (Whitten et al, 1987; Supriatna et al., 1992. et al). Napier dan Napier (1967), mengusulkan taksonomi monyet Sulawesi menjadi dua marga yaitu Cynopithecus dengan satu jenis (Cynopithecus nigra) dan Macaca (Macaca maura). Thorington dan Groves (1970) menyatakan bahwa monyet Sulawesi mungkin satu spesies dengan banyak variasi morfologi dan bervariasi secara berubah bentuk sejalan dengan jarak. Monyet hibrid (morfologi dan perilakunya bercampur, sukar dibedakan termasuk spesies Macaca maura atau Macaca tonkeana)  terbentuk di daerah perbatasan.

Daerah Sulawesi Selatan dan Tengah merupakan daerah terbesar dari seluruh dataran Sulawesi yang terbentang sekitar 600 km dari utara-selatan dan lebih dari 500 km barat-timur. Daerah ekuator ini terentang mulai 0.5 lintang utara sampai  lintang selatan, dan 119 sampai 123 bujur timur. Topografi yang bervariasi di Sulawesi Tengah yang bergunung-gunung dan berubah dalam jarak pendek menjadi dataran rendan, sehingga tampak dimana-mana terdapat daerah terjal. Habitat hutan temperate di puncak gunung seperti Gunung Rante Mario (3400 mdpal) beralih ke hutan hujan tropis di bawah gunung dalam jarak yang sangat pendek. Di Sulawesi Selatan terutama di selatan depresi Tempe, hutannya sudah terfragmentasi menjadi hutan sisa yang relatif tidak begitu luas (Supriatna dkk, 1993). Habitat Macaca maura di Sulawesi Selatan terdiri atas hutan bekas tebangan atau hutan rusak yang tidak begitu luas di dataran rendah, sebaliknya habitat untuk Macaca tonkeana masih tersisa cukup luas dan berada pada daerah pegunungan (Supriatna et al, 1992).

Salah satu monyet tersebut yang tersebar mulai dari Bontobahari di bagian Barat Daya Semenanjung Sulawesi Selatan hingga ke utara sampai di Danau Tempe (sekitar Sakholi dan Matoangin) adalah Monyet Hitam Dare (Macaca maura) (Supriatna, 2000). Satwa ini hidup di hutan primer atau sekunder, seperti di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul) kabupaten Maros-Pangkep yang memiliki ekosistem karst, dan di Bontobahari kawasan hutan monsoon kering dekat perkampungan sampai pada ketinggian 2000 mdpl. Di TN Babul seperti Bantimurung, Pattunuang dan Karaenta merupakan lokasi Monyet Hitam Dare yang mudah dijangkau dari kota Makassar. Di daerah distribusi Macaca maura habitat sangat bervariasi yaitu mulai dari daerah kening dan savana seperti Bontobahari ke pegunungan Lompo Batang, sampai ke daerah hutan hujan tropis dataran rendah yaitu di Karaenta yang curah hujannya mencapai 3400mm/tahun. Di daerah Sulawesi Selatan di daerah hutan ditemukan tanah ultrabasic dan batu karang seperti di daerah Karaenta, Bontobahari, Curowali, Lamsono dan pegunungan yang memanjang utara-selatan. Oleh karena itu vegetasi yang ada di daerah ini kebanyakan didominasi oleh tumbuhan yang menempel di batu karang. Sementara itu, di habitat Macaca tonkeana, hanya sedikit hutan batu karang dan kebanyakan merupakan hutan hujan tropis. Di daerah hibrid atau persilangan dekat depresi Tempe (daerah subduksi lempeng Jawa dan lempeng Indonesia Timur) cuacanya bimodal, di sebelah timur mirip dengan cuaca di Sulawesi Tengah, sedangkan di bagian barat mirip dengan Sulawesi Selatan. Keadaan hutannya umumnya berada sekitar genangan air atau sungai, selebihnya hanya padang rumput yang mirip savana.

Monyet Sulawesi yang endemik ini juga dapat dikaitkan dengan sejarah geologi daerah tersebut, dimana terjadi pasang surut daerah banjir akibat adanya depresi danau Tempe. Hal ini juga dapat ditunjang oleh faktor sejarah geologi daerah ini yang beberapa kali mengalami pemisahan dan penyatuan sehingga terbentuk bottleneck antara Moroangin dengan daerah selatan atau utaranya. Pada zaman pleistosen terjadi penggenangan oleh air karena lokasinya yang lebih rendah dari permukaan laut yang disebabkan oleh depresi Tempe.

Menurut Supriatna (2000), Panjang tubuh Monyet Hitam Dare sekitar 500-690 mm, panjang ekor 30-35 mm, dengan berat berkisar antara 5-6 kg. Warna rambut dari jenis ini bervariasi dari coklat muda hingga coklat kehitaman, dengan warna pucat di bagian tunggingnya. Terkadang terdapat individu yang berwarna putih atau abu-abu karena umur yang tua. Salah satu ciri untuk membedakan monyet-monyet di Sulawesi adalah bantalan pada tunggingnya (Ischial callocity). Bantalan tungging berbentuk oval ini berguna sebagai bantalan pada waktu duduk di pohon atau tempat-tempat yang keras lainnya. Monyet Hitam Dare lebih banyak memakan buah (frugivorous) dibandingkan daun-daunan (Watanabe and Brotoisworo, 1982). Mereka sering dijumpai ketika makan di pohon-pohon yang sedang berbuah. Selain itu beberapa jenis serangga dan jamur. Seperti halnya Macaca lain, Monyet Hitam Dare aktif pada siang hari (diurnal). Mereka hidup di pohon (arboreal), namun kebanyakan hidup di permukaan tanah (teresterial) karena kerapatan pohon yang rendah di hutan. Mereka tidak membuat sarang.

Di Karaenta mereka beristirahat di pohon-pohon tinggi, batuan dan gua-gua dan pohon-pohon yang sedang berbuah. Pada musim kemarau mereka sering memasuki gua untuk beristirahat, dan lebih memilih pohon-pohon tinggi untuk beristirahat pada musim hujan. Mereka juga sering mengunjungi beberapa pohon yang sedang berbuah, kemudian beristirahat di tempat yang sama seperti pada hari sebelumnya. Dalam pergerakan, kelompok ini sering kali melakukannya bersama-sama. Pergerakan di tanah atau saat mencari makanan biasanya dimulai oleh jantan pimpinan kelompok, kemudian diikuti oleh anggota lain. Pergerakannya, umumnya meloncat saat pindah pohon atau menggunakan keempat anggota tubuhnya (quadropedal) bila berjalan di dahan atau bila turun di tanah. Menurut Matsumura (1991) monyet hitam dare memiliki luas daerah jelajah (home range) berkisar 20 ha - 25 ha. Daerah jelajah antar kelompok tersebut biasanya tumpang tindih.

Sumber:

Admin. 2015. “Dare Monyet Hitam Endemik Sulawesi Selatan”. Diakses pada

www.tn-babul.org pada 16 Maret 2016