Maksima Ganda, Keunikan Pola Curah Hujan Equatorial dan Anomalinya Akibat Perubahan Iklim

Maksima Ganda, Keunikan Pola Curah Hujan Equatorial dan Anomalinya Akibat Perubahan Iklim

by ZEIN IRFAN 14405241022 -
Number of replies: 1

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Indonesia memiliki 3 pola curah hujan yaitu pola curah hujan monsunal, ekuatorial, dan lokal (khas). Dimana pola curah hujan monsunal hanya memiliki 1 puncak curah hujan tertinggi yang biasanya jatuh pada bulan Januari, sedangkan pola curah hujan ekuatorial memiliki keunikan yaitu memiliki 2 puncak curah hujan tertinggi yang jatuh sebelum atau sesudah equinox (kulminasi matahari) yaitu pada bulan april dan oktober, dan pola curah hujan lokal yang berlaku secara khusus di wilayah kepulauan maluku hingga ke lengan timur pulau sulawesi yang pola curah hujannya berbanding terbalik dengan pola curah hujan monsunal dimana puncak curah hujannya berada pada bulan juni-juli.

ย 

yang menjadi topik bahasan pada diskusi ini adalah pola curah hujan equatorial yang unik karena memiliki 2 puncak musim hujan dan penyimpangannya akibat perubahan iklim. Pola curah hujan equatorial ini terjadi karena pengaruh angin monsunal tidak mempengaruhi pola curah hujan secara signifikan akibat adanya insolasi maksimal akibat adanya equinox. equinox sendiri adalah akibat dari gerak revolusi bumi yang menyebabkan belahan bumi utara dan selatan mendapat sinar matahari secara seimbang yang menyebabkan panjang (lamanya) siang dan malam di kedua belahan bumi menjadi sama. Adanya equinox ini sendiri ternyata memberi pengaruh pada keadaan iklim di sekitar daerah khatulistiwa, akibat insolasi matahari yang maksimal pada saat equinox yang terjadi 2 kali dalam setahun, yang menyebabkan penguapan menjadi sangat tinggi di wilayah khatulistiwa pada saat terjadi equinox. sebagai dampak penguapan yang tinggi tadi, pola curah hujan juga menjadi unik karena terpengaruh oleh equinox tadi, dimana puncak musim hujan akan terjadi 2 kali dalam setahun.

ย 

Normalnya puncak musim hujan equatorial akan terjadi pada musim maret dan oktober sebagai dampak adanya equinox tadi, namun perubahan iklim yang terjadi belakangan ini sudah mempengaruhi pola curah hujan equatorial. jika melihat data curah hujan Kota Pontianak tahun 2014 (file terlampir), puncak curah hujan tertinggi pada periode equinox pertama (maret) justru terjadi pada bulan agustus yang seharusnya merupakan musim kemarau namun malah merupakan bulan dengan curah hujan yang cukup tinggi. curah hujan pada bulan maret sendiri tidak begitu tinggi jika dibandingkan dengan bulan bulan setelahnya mengingat bulan maret seharusnya merupakan puncak curah hujan tertinggi pada periode equinox pertama. sedangkan curah hujan tertinggi pada periode equinox kedua (september) jatuh pada bulan november (terpaut 1 bulan dari yang seharusnya).

ย 

semua anomali dan perubahan pola curah hujan ini tidak terlepas dari perubahan iklim yang terjadi dengan cepat. nah bagaimana tanggapan dan pendapat teman-teman sekalian terkait fenomena tersebut?

In reply to ZEIN IRFAN 14405241022

Re: Maksima Ganda, Keunikan Pola Curah Hujan Equatorial dan Anomalinya Akibat Perubahan Iklim

by Arif Ashari, S.Pd., M.Sc. 198603022020121003 -

bagus sekali mas zein, informatif karena mengangkat karakteristik wilayah dengan tipe maksima ganda seperti di kota pontianak. yang menjadi pertanyaan adalah apakah anomali iklim yang terjadi belakangan ini merupakan faktor yang menyebabkan pergeseran pola curah hujan tersebut? jika kita perhatikan anomali tidak hanya terjadi di daerah maksima ganda saja, tetapi di daerah monsunal juga terjadi peristiwa demikian. monggo yang lain untuk memberikan tanggapan