Peran Guru Matematika dalam Mewujudkan Siswa yang Konstruktif melalui Pemecahan Masalah
Sumber : Makalah Sugiman
Dalam suatu pembelajaran matematika terdapat tiga unsur penting, yaitu guru yang kreatif, siswa yang konstruktif dan matematika yang kekar. Ketiga unsur tersebut saling bersinergi. Dalam proses pembelajaran biasanya guru menggunakan pendektakan ekspositori yaitu pendektan pembelajaran tradisional yang mana gutu menyampaikan materi secara lisan dan siswa mendengarkan secara seksama. Tetapi banyak guru yang yang menggunakan beberapa pendekatan konstruktivistik untuk mengurangi dominasi guru, seperti pendekatan inkuri, open-ended, matematika realistik, kontekstual, PBL, dan saitifik.
Menurut suatu penelitian yang hasilnya ditulis dalam artikel “Why Minimal Guidance During Instruction Does Not Work: An Analysis of the Failure of Constructivist, Discovery, Problem-Based, Experiential, and Inquiry-Based Teaching” dijelaskan bahwa “Di satu sisi, beberapa peneliti menemukan bahwa siswa akan belajar secara baik jika hanya diberi sedikit bantuan dibanding dengan jika diberi penjelasan lengkap tentang materi esensial atau menemukan sendiri materi esensial tersebut. Di sisi lain, beberapa peneliti menyarankan konsep atau prosedur tertentu diajarkan kepada siswa yang belum mengenalnya melalui pemberian bantuan instruksional secara langsung dan dihindari ditemukan oleh siswa sendiri. Bantuan instruksional langsung tersebut berbentuk pemberian informasi yang menjelaskan secara lengkap mengenai suatu konsep atau prosedur. Besar bantuan yang diberikan disesuaikan dengan karakteristik materi dan keadaan siswa, termasuk bantuan dalam memecahkan masalah.”
Dalam proses pembelajaran matematika tidak akan lepas dari pemecahan masalah, sehingga ada seorang ahli Lester ynag mengatakan bahwa “Problem solving is the heart of mathematics”. Siswa pada mulanya akan dilatih agar mampu dalam memecahkan masalah dapat diawali dengan memberikan problemproblem yang tidak biasa dipikirkan oleh siswa akan tetapi konteksnya sangat dikenal. Sebab ciri-ciri soal pemecahan masalah adalah masalah tersebut dikenal oleh siswa, siswa tertantang untuk menyelesaikan, akan tetapi siswa belum mempunyai cara dalam menyelesaikannya. Pendekatan dalam penyelesaian masalah yang sering digunakan adalah pendeketan saintif (mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan). Masalah-masalah yang diberikan sebaiknya juga masalah yang matematis, sehingga siswa akan produktif dalam mengajuka pertanyaan.

Dalam pembelajaran matematika guru dan siswa dituntut untuk aktif serta harus didukung dengan ketersediaan bahan ajar dan media yang baik. Keterbukaan guru terhadap kemungkinan munculnya beragam cara atau jawaban dalam pemecahan masalah akan mendorong siswa menjadi lebih berani untuk bertanya dan berbeda pendapat. Siswa akan terlatih untuk mengajukan pertanyaan matematis baik yang berangkat dari situasi atau informasi yang dihadapi, selama mengerjakan soal, atau setelah mengerjakan soal. Sifat keterbukaan guru harus ditopang dengan penguasaannya terhadap materi matematika itu sendiri. Perihal bantuan, guru memberikan bantuan kepada siswa sesuai dengan kebutuhan siswa tersebut, tidak sedikit dan tidak terlalu banyak, sehingga siswa tersebut akan tumbuh menjadi siswa yang konstruktif.