Problem Based Learning
Model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) adalah pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai langkah awal untuk mendapatkan pengetahuan baru. Seperti yang diungkapkan oleh Suyatno (2009 : 58) bahwa: ”Model pembelajaran berdasarkan masalah adalah proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran dimulai berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata siswa dirangsang untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman telah mereka miliki sebelumnya (prior knowledge) untuk membentuk pengetahuan dan pengalaman baru”.
Problem Based Learning menekankan prinsip kognitivistik, artinya peserta didik membangun sendiri pengetahuannya, berpusat pada peserta didik (student centered) dan guru sebagai fasilitator. Problem solving terdiri dari dua jenis, yaitu well defined problem solving (permasalahan dengan rangkaian solusi yang jelas) dan ill-defined problem solving (permasalahan dengan rangkaian solusi yang tidak jelas).
Kemampuan problem solving seseorang dipengaruhi oleh prior knowledge yang dimiliki. Prior knowledge digunakan untuk mengartikan dan memahami masalah yang diberikan kepada peserta didik. Apabila peserta didik memiliki prior knowledge yang cukup, maka mereka dapat memecahkan masalah sekaligus memahami konsep baru dari problem solving yang diberikan. Sebaliknya, apabila prior knowledge siswa belum cukup, maka siswa tidak dapat menyelesaikan masalah dengan baik.
Dilihat dari keterangan di atas, apabila prior knowledge peserta didik tidak mencukupi maka akan menimbulkan kekurangan pada proses pembelajaran berbasis masalah ini, yaitu :
Peserta didik akan cenderung menggunakan Heuristic Strategy. Strategi tersebut merupakan strategi yang tidak dapat membuat siswa membangun sendiri konsep pembelajaran. Heuristic Strategy terdiri dari :
- Trial and error. Trial and error atau lebih sering disebut metode coba-coba, peserta didik yang belum memiliki prior knowledge yang cukup untuk menyelesaikan suatu masalah, maka biasanya menggunakan metode coba-coba. Strategi ini sebenarnya kurang tepat diterapkan karena siswa kemungkinan bisa menyelesaikan masalah tetapi belum tentu dapat menemukan konsep pengetahuannya.
- Means-Ends Analysis. Peserta didik menganalisis suatu masalah dengan membuat sub-sub bagian untuk diselesaikan satu persatu, dikarenakan tidak memahami secara keseluruhan permasalahan yang diberikan.
- Working Backward. Pada strategi ini peserta didik cenderung bekerja dari belakang (working backward), artinya peserta didik hanya fokus pada jawaban, tanpa memperhatikan teoremanya, setelah mendapatkan jawaban, mereka merasa telah selesai memecahkan masalah.
- Generate and Test. Peserta didik menggeneralisasikan masalah, karena belum pernah menemukan variasi soal seperti yang diberikan, peserta didik mencoba mencari masalah yang mirip dengan masalah tersebut, kemudian mencobanya, mengecek apakah cara yang digunakan pada masalah yang telah dikenal dapat pula dilakukan pada masalah yang baru.
Selain menggunakan strategi heuristik, peserta didik akan menyelesaikan masalah dalam waktu yang cukup lama sehingga standar kompetensi minimal tidak tercapai yang membuat proses pembelajaran tidak efektif.
Strategi lain yang dapat digunakan adalah General Problem Solving Strategy yang dikemukakan oleh Polya. Terdapat empat langkah dalam strategi tersebut yaitu :
- Identifikasi Masalah. Peserta didik harus mampu memahami masalah sebelum dapat menyelesaikan suatu permasalahan. Untuk dapat memahami suatu masalah yang perlu dilakukan adalah memahami bahasa atau istilah yang digunakan dalam masalah tersebut, merumuskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, apakah informasi yang diperoleh cukup, kondisi/syarat apa saja yang harus terpenuhi, dan sebagainya.
- Merencanakan Pemecahan Masalah. Peserta didik harus memilih rencana pemecahan masalah yang sesuai. Kemampuan dalam memilih rencana pemecahan bergantung dari seberapa sering peserta didik menyelesaikan masalah sebelumnya. Semakin sering mengerjakan latihan pemecahan masalah maka pola penyelesaian masalah itu akan semakin mudah didapatkan.
- Melaksanakan Rencana/Memecahkan Masalah (Carry Out). Pada tahap ini peserta didik menjalankan strategi yang telah dibuat dengan ketekunan dan ketelitian untuk mendapatkan penyelesaian.
- Mengoreksi Kembali (Look Back). Pada langkah ini, peserta didik menganalisis dan mengevaluasi apakah strategi yang diterapkan dan hasil yang diperoleh sudah tepat, apakah ada strategi lain yang lebih efektif, apakah strategi yang dibuat dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah sejenis, dan sebagainya. Hal ini bertujuan untuk menetapkan keyakinan dan memantapkan pengalaman untuk mencoba masalah yang akan datang.
Ada pembelajaran yang mirip dengan PBL yaitu Project Based Learning (PjBL), Case Based Learning (CBL), Discovery Learning (DL), dan Inquiry Learning (IL). Pembelajaran tersebut memiliki karakteristik, diantaranya peserta didik diminta mencari sendiri masalah, bersifat konstruktivistik, dan menggunakan pendekatan tidak langsung (implisit).