Social media use and adaptation among Chinese students beginning to study in the United States

Social media use and adaptation among Chinese students beginning to study in the United States

by MARIA HARTININGSIH 13808141002 -
Number of replies: 0

Abstrak

Mahasiswa Internasional Cina yang belajar di Amerika Serikat melakukan pengubahan gaya hidup yang bermanfaat untuk Mahasiswa Cina dan rakyat Amerika. Literatur sebelumnya menunjukkan bahwa jaringan sosial yang beragam, sangat ideal untuk meningkatkan adaptasi para Mahasiswa Internasional. Dengan memberikan kuesioner secara online yang diberikan untuk 120 Mahasiswa Internasional Cina yang belajar di AS, mereka mengeksplorasi dampak potensial dari penggunaan Social Networking Sites (SNSs), ketika digunakan selama persiapan studi di luar negeri. Ditemukan bahwa mahasiswa lebih sering  menggunakan SNSs dalam melakukan studinya di luar negeri. Dilaporkan bahwa mahasiswa Amerika Serikat yang menggunakan SNSs tingkat sosial adaptasi dan akademisnya lebih tinggi dibandingkan mahasiswa Cina yang studi di AS. Mereka menyarankan agar Universitas dan penasihat memberikan pelatihan penggunaan SNSs untuk mahasiswa Cina dalam mempersiapkan studi di luar negeri, dalam rangka meningkatkan adaptasi sosial dan akademisnya.

 

Introduction

Jumlah Mahasiswa Internasional yang belajar di AS secara konsisten telah meningkat sejak 1952 (Institute of International Education (2014). Pendaftaran tahun akademik 2013-2014 mencatat rekor tinggi dengan 886,052 mahasiswa asing yang memulai studi mereka di Universitas dan perguruan tinggi nasional.

Masuknya Mahasiswa Internasional dari seluruh dunia berdampak positif bagi ekonomi dan budaya di  AS. Selain itu juga dapat memberi dampak yang signifikan bagi keuangan dan tenaga kerja ibukota negara, yaitu memiliki kontribusi lebih dari 27 milyar dolar untuk perekonomian AS. Hampir 80% dari mahasiswa Internasional dalam pendanaan college datang dari luar AS (sebagian besar dari keluarga dan diri mereka sendiri).

Cina merupakan negara nomor satu yang mahasiswa Internasionalnya belajar di AS selama lima tahun, saat ini mewakili 31% dari semua siswa Internasional. Tidak hanya mempertahanan posisi teratas namun juga jumlah mahasiswa Cina di AS telah meningkat pada tingkatan rata-rata 25% per tahunnya. Namun, untuk beradaptasi dengan kehidupan di AS (27.000 jiwa + mahasiswa Cina) bukanlah hal yang mudah, karena banyaksekali perbedaan antara AS dan Cina. Dari sekian banyaknya isu-isu yang dihadapi mahasiswa, dapat diidentifikasi bahwa sosial adaptasi dan akademik merupakan suatu hal yang paling penting.

 

Untuk itu SNSs disini dapat berfungsi sebagai jalan untuk menghasilkan jaringan sosial yang mendukung aktifitas Mahasiswa Internasional Cina. Penggunaan SNSs sebagai aktivitas online paling populer di dunia 73% dari orang dewasa AS menggunakan SNSs, seperti facebook dan Twitter, dan lebih dari 400 juta orang dewasa Cina menggunakan SNSs, seperti Weibo dan RenRen dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

 

 

SNSs memiliki dampak positif dalam menciptakan dan mempertahankan modal sosial, serta meningkatkan kesejahteraan psikologis bagi Mahasiswa AS, sehingga mungkin juga dapat membantu Mahasiswa Internasional. Dalam tulisan ini, mereka menyajikan hasil studi pemeriksaan apakah SNSs ini dapat dimanfaatkan untuk mempengaruhi jaringan sosial Mahasiswa Cina, dan pada akhirnya mempengaruhi adaptasi mereka ketika belajar di AS.

Theoretical background

  1. International students

Sementara beberapa literatur melihat perbedaan antara Mahasiswa Internasional, imigran dan ekspatriat, beberapa studi telah menguji apakah perbedaan antar kelompo-kelompok seperti itu tidak benar-benar bermakna. Kim (2001) memisahkan semua individu dari satu negara ke dalam dua kategori: jangka pendek dan jangka panjang. Jangka panjang individu diwakili oleh imigran yang berniat tinggal di negara tersebut secara permanen. Jangka pendek individu juga dikenal sebagai pendatang, diwakili oleh Mahasiswa Internasional dan pekerja asing (ekspatriat) yang berniat pada walnya akan kembali ke negara asal mereka. Studi ini berupaya untuk memeriksa individu dalam kedua kelompok.

 

  1. Acculturation, stressors and adaptation

Akulturasi awalnya didefinisikan oleh Redfield, Linton, dan Herskovits (1936) sebagai "fenomena ketika kelompok individu yang memiliki budaya berbeda datang dan terus menerus beradaptasi pertama dengan perubahan dalam pola-pola budaya asli dari salah satu atau kedua kelpmpok. Para peneliti telah mengembangkan sejumlah perspektif dalan studiakulturasi, salah satu yang paling penting adalah pengembangan model bi-dimensional atau bi-cultural. Berry (2005) mendefinisikan akulturasi sebagai "dual proses perubahan budaya dan psikologis yang terjadi, sebagai akibat dari kontak antara dua atau lebih kelompok budaya dan anggota individu.

Dalam menghadapi acculturative stres, kebanyakan memilih strategi akulturasi yang berbeda berdasarkan akulturasi dua dimensi: pemeliharaan budaya dan kontak dan partisipasi. Sedangkan mereka yang mengambil tindakan positif dari kedua dimensi dengan mempertahankan beberapa praktek-praktek budaya dan identitasmereka sendiri bersamaan dengan sikap terbuka terhadap masyarakat tuan rumah, diidentifikasi menggunakan strategi Integratif acculturation1. Orang-orang yang menggunakan Integratif akulturasi lebih bisa beradaptasi.

Beberapa faktor telah dicatat sebagai pengaruh adaptasi seperti, kepribadian, pengetahuan budaya, tingkat kontak dan dukungan sosial (Berry, 2005). Smith dan darikis (2011), dalam review mereka, 94 studi acculturative stres, mengidentifikasi lima kategori utama yang berhubngan secara khusus para Mahasiswa Internasional yaitu, berdasarkan bahasa, pendidikan, penerangan, diskriminatif dan praktis stres. Hambatan bahasa menginduksi banyak kecemasan untuk mahasiswa Internasional dalam sosial dan akademisnya. Mahasiswa yang tidak mahir bahasa negara tuan rumah, sulit untuk berteman dengan penduduk setempat. Mahasiswa Internasional yang fasih dalam bahasa negara tuan rumah mungkin sulit untuk menyesuaikan diri dengan gaya belajar yang berbeda, seperti hafalan vs diskusi yang berbasis belajar. Perbedaan-perbedaan ini yang menjadi masalah utama untuk mahasiswa internasional Asia yang belajar di negara Barat.

  1. Social Networks

Orang-orang yang membentuk kelompok sosial dapat dianggap sebagai jaringan sosial. Dalam jaringan sosial yang tinggal diantaramu, ada sejumlah aktor yang memiliki hubungan yang berbeda. Misalnya, teman, kenalan, guru, keluarga, mitra romantis dan rekan kerja yang terhubung dalam persahabatan dan lain-lain. Masing-masing aktor ini dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori berdasarkan identitas nasional: co-nationals(aktor dari negara asing sendiri), host nationals (aktor lokal dari negara tuan rumah) dan multi-culturals (aktor-aktor internasional dari negara lain).

Secara umum, jaringan sosial memberikan sejumlah manfaat, termasuk sumber daya spesifik, dukungan sosial dan rasa kepemilikan. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa jaringan sosial yang stabil dapat mengurangi stres yang terkait dengan transisi, seperti transisi dari SD ke SMP atau dari SMA ke pergutuan tinggi. Literatur menunjukkan bahwa mahasiswa internasional, dengan aringan sosial yang beragam, menekankan masuknya warga tuan rumah, dan terhubung melalui ikatan yang lemah, yang terbukti kurangnya memiliki ketidakpastian, stres, frustasi dan ambiguitas; meningkatkan kesejahteraan mereka secara keseluruhan dan kemampuan untuk beradaptasi.

  1. Social Networking Sites

Sosial media adalah intilah umum yang mengacu pada beberapa jenis aplikasi berbasis internet yang memungkinkan pengguna untuk membuat pertukaran konten mereka sendiri. SNSs adalah salah satu jenis media sosial yang aplikasinya memungkinkan pengguna untuk terhubung dengan menciptakan profil informasi pribadi, mengundang teman dan kolega untuk dapat akses ke profil tersebut, dan mengirim e-mail dan pesan instan antar satu sama lain. Penelitian menunjukkan bahwa SNSs menawarkan sejumlah manfaat bagi mahasiswa internasional, termasuk pembentukan jaringan sosial yang lebih besar, dan meningkatkan hubungan dengan mahasiswa lokal.

Berbagai penulis telah menyoroti pengaruh positif SNSs dalam menghasilkan dukungan interpersonal dan modal sosial. Beberapa penelitiankhusus memandang mahasiswa menggunakan Facebook dalam pengaturan pendidikan, dan mereka semua merasa bahwa situs jaringan sosial dibantu dalam menghubungkan mahasiswa internasional dan lokal. McCarthy (2010) mencatat bahwa “salah satu aspek yang paling berharga dari lingkungan pembelajaran online adalah meningkatnya interaksi antara murid lokal dan internasional. Banyak siswa internasional melihat lingkungan online sebagai sebuah kesempatan sempurna untuk terlibat dengan rekan-rekan mereka. Salah satu mahasiswa mengatakan bahwa “untuk siswa internasional, kita dapat mengetahui lebih lanjut tentang kehidupan AS dari Facebook dan kita juga bisa membuat teman baru.

  1. Importance of timing in preparedness

Banyak literatur sejauh ini membahas SNSs berkaitan dengan isu-isu yang berkaitan dengan adaptasi mahasiswa internasional, tetapi tidak satupun dari mereka menekankan pada pentingnya waktu dalam menerapkan teknologi tersebut. Mahasiswa internasional menghadapi beberapa tantangan terbesar dalam beradaptasi dan tingkat kesepian ketika pertama tinggal di negara baru. Tingginya stres dan kecemasan membuat kurangnya persiapan murid-murid yang cenderung mencari perlindungan dilingkungan akrab yang diciptakan oleh negara lain. Studi lain, yang secara tidak sengaja mengidentifikasi pentingnya waktu dan kesiapan, menunjukkan hasil yang positif dari program perr-mentor dalam membantu mahasiswa internasional beradaptasi ketika tuan rumah warga negara mengajak berinteraksi secara tiba-tiba.

  1. Hypotheses

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk meneliti hubungan antara mahasiswa internasional Cina dengan menggunakan SNSs sebelum pergi untuk belajar ke luar negeri yaitu di AS, dan tingkat adaptasi setelah mereka tiba, dengan penekanan khusus pada bagaimana menggunakan SNSs yang berhubungan dengan keberagaman jaringan sosial Mahasiswa Internasional Cina.

Hasil hipotesis:

H1: Mahasiswa Internasional Cina yang menggunakan SNSs lebih sering selama persiapan untuk studi di luar negeri, akan memiliki jaringan sosial yang lebih bessar di AS, daripada mahasiswa yang jarang menggunakan SNSs.

H2: Mahasiswa Internasional Cina yang menggunakan SNSs lebisering selama persiapan untuk studi ke luar negeri, akan memilii jaringan sosial yang lebih beragam di AS, daripada mahasiswa yang jarang menggunakan SNSs.

H3: Mahasiswa Internasional Cina yang memiliki jaringan awal lebih besar, akan melaporkan tingkat sosial adaptasi dan akademiknya lebih tinggi, daripada mahasiswa dengan jaringan sosial yang lebih rendah.

H4:, akan melaporkan tingkat adaptasi sosial dan adaptasi akademiknya lebih tinggi, daripada mahasiswa dengan jaringan sosial yang lebih rendah.

H5: Mahasiswa Internasional Cina yang memiliki jaringan awal lebih beragam akan melaporkan tingkat adaptasi sosial dan adaptasi akademiknya lebih tinggi, daripada mahasiswa yang jaringan sosialnya kurang beragam.

H6: Mahasiswa Internasional Cina yang memiliki jaringan awal lebih beragam akan melaporkan tingkat adaptasi sosial dan adaptasi akademiknya lebih tinggi, daripada mahasiswa yang jaringan sosialnya kurang beragam.

Method

  1. Participants

Total 120 peserta mengambil bagian dalam penelitian ini. Semua peserta adalah warga negara Cina, yang berusia 18 tahun lebih, dan telah belajar di Universitas di AS kurang dari satu tahun. Peneliti menggunakan sampel purposive untuk memeriksa populasi kasus ini, dan tidak termasuk mahasiswa dari Hong Kong, Makau dan Taiwan. Peneliti mengecualikan mahasiswa dari daerah luar daratan Cina, tidah hanya karena perbedaan budaya dan ekonomi antara daratan Cina dan daerah tersebut, tetapi juga karena variasi dalampenggunaan SNSs dan akses antara daerah ini.

Enam puluh empat dari 120 responden yang wanita, 53 laki-laki, dan 3 memilih untuk tidak menjawab. Hampir semua mahasiswa sedang menempuh S1 (n=38) atau pascasarjana (n=77). Sisanya 5 mahasiswa sedang menempuh associate’s degree. Usia rata-rata untuk semua mahasiswa berumur 23.13 tahun.

  1. Materials

Kami mengerjakan survei online yang terdiri dari 38 pertanyaan dalam bahasa Mandarin Cina. Menggunakan survei jaringan sosial yaitu mengukur frekuensi penggunaan untuk berbagai SNSs selama studi diluar negeri untuk mempersiapkan sebelum tiba di AS. Penggunaan angka dalam hipotesis ini untuk mempengaruhi ukuran dan keragaman mahasiswa SNSs di AS. Menggunakan 5-point-likers scale, mulai dari 1(pernah) sampai 5 (sepanjang waktu).

  1. Procedure

Survei diterjemahkan sari bahasa Inggris ke bahasa Mandarin Cina dan diberikan melalui Survey Monkey. Data dikumpulkan dalam dua putaran. Putaran pertama dikumpulkan dari November 2013-Maret 2014, dan putaran kedua dikumpulkan dari Maret 2015–Mei 2015. Hasil dari kedua sampel dibandingkan dengan memastikan distribusi not bimodal dan oleh karena itu, dapat dikombinasikan untuk analisis berikutnya. Semua pertanyaan diperlukan setidaknya sebagai jawaban untuk memastikan ada beberapa tanggapan yang tidak lengkap. Semua prosedur dan bahan ditinjau dan disetujui oleh kedua penulis Lembaga Universitas Institutional Review Boards (IRBs) sebelum survei administrasi.

 

Results

  1. Path analysis model

Penulis menguji hipotesis dengan melakukan analisis jalur menggunakan paket lavaan package in R.

  1. Hypotheses tests

H1: Menyatakan  bahwa penggunaan SNSs akan positif dikaitkan sengan ukuran jaringan sosial (a) sebelumnya dan (b) setekahnya di AS. Penulis menemukan dukungan untuk H1a, tapi menolak H1b. Hasil ini menunjukkan bahwa mahasiswa Cina menggunakan SNSs positif dikaitkan dengan ukuran jaringan sosial mereka sesaat setelah tiba di AS. Tapi tidak dengan jaringan sosial mereka 6-12 bulan setelah tiba.

H2: Mengemukakan pengguna SNSs akan positif dikaitkan dengan keragaman jaringan sosial (a) sebelumnya dan (b) kemudian di AS. Penulis menemukan dukungan untuk H2a tetapi tidak untuk H2b. Hasilnya sama dengan H1.

H3: Menyatakan awal ukuran jaringan sosial akan positif dikaitkan dengan adaptasi sosial (a) dan (b) adaptasi akademik. Penulis menemukan tidak ada dukungan untuk H3a atau H3b.

H4: Menyatakan bahwa ukuran jaringan sosial akan positif dikaitkan dengan adaptasi sosial (a) dan (b) adaptasiakademik. Hasilnya sama dengan H3.

H5: Menyatakan bahwa keragaman jaringan sosial awal akan positif dikaitkan dengan adaptasi sosial(a) dan adaptasi akademik (b). Penulis menemukan dukungan untuk H5a dan H5b.

H6: Menyatakan bahwa kemudian keragaman jaringan sosial akan positif dikaitkan dengan adaptasi sosial (a) dan adaptasi akademik (b). Penulis menemukan dukungan untuk kedua hipotesis ini.

 

Discussion

Studi ini meneliti bagaimana menggunakan SNSs selama persiapan studi di luar negeri dapat mempengaruhi komposisi jaringan sosial mahasiswa internasional setelah mereka belajar di luar negeri. Hasilnya, penulis telah menyoroti peran SNSs dalam menghasilkan berbagai jaringan sosial untuk mahasiswa Cina yang belajar di AS.

Temuan utama peneliti yang pertama adalah bahwa pengguna SNSs memiliki efek signifikan positif dengan keragaman jaringan sosial mahasiswa sesaat setelah tiba di AS. Temuan utama yang kedua adalah bahwa penggunaan SNSs memiliki efek sinifikan positif pada ukuran jaringan sosial mahasiswa sesaat setelah tiba di AS.

 

  1. Implications

Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dapat digunakan untuk meningkatkan adaptasi mahasiswa internasional Cina. Studi lain telah menemukan rekan mentor program, dimana warga negara tuan rumah bertindak sebagai Duta besar untuk mahasiswa internasional, agar efektifdalam meningkatkan keragaman jaringan sosial mahasiswa Internasional serta meningkatkan adaptasi.

  1. Limitations and future work

Meskipun studi ini memberikan wawasan penting bagaimana jaringan sosial dapat digunakan untuk meningkatkan hasil bagi mahasiswa Cina yang belajar di AS, hal ini tidak tanpa pembatasan. Pertama, hasil bergantung pada akurat diri laporan penggunaan media sosial dan jaringan sosial pada tiga titik waktu. Kedua, seperti yang disebutkan sebelumnya, keterbatasan yang ditetapkan oleh undang-undang ketat sensor  diCina, yang memblokir hampir semua SNSs AS, membuat sulit bagi banyak mahasiswa Cina untuk secara bebas mengakses SNSs yang mereka pilih.

Meskipun banyak keterbatasan, peneliti percaya bahwa hasil kajian ini menunjukkan bahwa SNSs sangat menjanjikan untuk mendukung mahasiswa yang studi di AS.