Mentilin (Tarsius Bancanus) Satwa Identitas Kepulauan Bangka Belitung

Mentilin (Tarsius Bancanus) Satwa Identitas Kepulauan Bangka Belitung

oleh TRIE KURNIA HAPSARI 14405244022 -
Jumlah balasan: 0

MENTILIN (Tarsius Bancanus) SATWA IDENTITAS KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

 

Pulau Belitung merupakan sebuah pulau yang masih menjadi bagian dari gugusan Kepulaun Bangka Belitung. Secara geografis, Pulau Belitung atau dalam bahasa Melayu disebut Belitong terletak pada 107°31,5' - 108°18' Bujur Timur dan 2°31,5'-3°6,5' Lintang Selatan. Secara keseluruhan luas pulau Belitung mencapai 4.800 km² atau 480.010 ha. Pulau Belitung disebelah utara dibatasi oleh Laut Cina Selatan, sebelah timur berbatasan dengan selat Karimata, sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa dan sebelah barat berbatasan dengan selat Gaspar. Di sekitar pulau ini terdapat pulau-pulau kecil seperti Pulau Mendanau, Kalimambang, Gresik, Seliu dan lain-lain. Pulau Belitung sendiri dibagi menjadi dua wilayah berdasarkan aspek administratif, yaitu Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur dimana Ibukota dari Belitung sendiri terletak di Kabupaten Belitung yaitu Kota Tanjungpandan.
Apabila dilihat dari aspek geologi dan fisiografi, keadaan geologi Pulau Belitung terbagi menjadi empat formasi, yaitu batuan Plutonik berupa Granit (pTgr) berumur Perm sampai Kapur, formasi Bintan anggota Batupasir (TRbp), formasi Bintan anggota Batupasir dan Batulempang (TRbl) yang berumur Trias serta Aluvium (Qal) berumur Holosen. Sementara itu, berdasarkan aspek fisiografinya, Pulau Belitung terbagi menjadi 6 kategori. Enam kategori tersebut adalah grup Aluvial (A), Marin (B), Perbukitan (H), Pegunungan dan Plato (M), Dataran (P), dan grup Aneka Bentuk (X). Sementara itu, kondisi tanah Pulau Belitung umumnya bergelombang atau berbukit di daerah pedalaman. Sedangkan permukaan yang relative datar banyak dimiliki oleh daerah yang lebih rendah di sekitar pantainya.Sebagian jenis tanah pulau ini adalah podsolik merah kuning yang memiliki horizon penimbunan besi, Al-oksida dan bahan organic Spodik. Horizon eluviasi (pencucian) yang berwarna pucat (albic) terdapat di lapisan atas.
Secara umum, jenis penggunaan lahan di Kabupaten Belitung terbagi menjadi perkampungan/perkotaan, pertanian, pertambangan, perkebunan, hutan, lahan yang belum diusahakan, dan tanah rusak/kritis. Pulau Belitung saat ini sudah menjadi salah satu dari tujuan wisata yang paling banyak dikunjungi di Indonesia. Dengan keanekaragaman sumberdaya alam yang dimiliki oleh Pulau Belitung, tentunya juga menjadikan Pulau Belitung ini menjadi pulau yang sangat kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk didalamnya keanekaragaman flora dan fauna yang hidup di Pulau Belitung.
Salah satu contoh keanekaragaman fauna yang hidup di Pulau Belitung ini adalah Tarsius. Tarsius Bancanus atau yang sering disebut Mentilin merupakan fauna identitas dari Pulau Bangka Belitung. Terdapat 4 subspesies Horsfield’s Tarsier, yaitu Tarsius bancanus bancanus, Tarsius bancanus borneanus, Tarsius bancanus natunensis, dan Tarsius bancanus saltator. Mentilin yang dalam bahasa ilmiah (latin) dikenal sebagai Horsfield’s Tarsier atau Western Tarsier mempunyai ciri-ciri dan perilaku seperti jenis-jenis tarsius yang lainnya. Tubuh primata ini ralatif mungil dengan panjang tubuhnya berkisar antara 12-15 cm dengan berat tubuh sekitar 128 gram (jantan) dan 117 gram (betina). Bulu tubuh mentilin berwarna cokelat kemerahan hingga abu-abu kecoklatan. Primata yang dijadikan fauna identitas provinsi Bangka Belitung ini memiliki ekor yang panjang, bahkan melebihi panjang tubuhnya. Panjang ekor mentilin (Tarsius bancanus) bisa mencapai 18-22 cm. Seperti tarsius lainnya, Horsfield’s Tarsier memiliki sepasang mata yang sangat besar.
Mentilin (Tarsius bancanus) merupakan binatang karnivora. Makanannya terutama adalah serangga seperti belalang, kumbang, kupu-kupu, belalang sembah, semut, dan jangkrik, tetapi fauna identitas provinsi Bangka Belitung ini juga memakan berbagai vertebrata kecil lainnya seperti kelelawar dan ular. Mentilin tergolong binatang nokturnal yang banyak berisitirahat pada siang hari pada dahan-dahan kecil dengan ketinggian 3 hingga 5 meter dari permukaan tanah dan baru bangun untuk beraktifitas saat menjelang malam tiba.
Di Indonesia, Tarsius ini dapat ditemukan di pulau Kalimantan, Sumatera, dan pulau-pulau sekitar seperti Bangka, Belitung, dan Karimata. Selain itu terdapat juga di Sabah dan Serawak (Malaysia) dan Brunei Darussalam. Persebaran lebih spesifik dilihat berdasarkan jenisnya. Tarsius bancanus saltator terdapat di Belitung, Indonesia. Tarsius bancanus natunensis terdapat di pulau Natuna dan pulau Subi Island, Indonesia. Tarsius bancanus borneanus terdapat di Brunei, Indonesia (Kalimantan dan pulau Karimata) dan Malaysia (Sabah dan Sarawak) and on the island of Karimata (Indonesia). Tarsius bancanus bancanus 
terdapat di sebagian Sumatra dan pulau Bangka, Indonesia.
Salah satu lokasi konservasi Tarsius di Pulau Belitung adalah Batu Mentas Ecolodge and Tarsius Sanctuaryyang dikelola oleh Komunitas Pencinta Lingkungan Belitung (KPLB). Batu Mentas Ecolodge and Tarsius Sanctuaryini terdiri dari lahan seluas enam hektar di Dusun Keleka Datu, Desa Badau, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung. Area Batu Mentas Ecolodge and Tarsius Sanctuary berada di buffer atau daerah penyangga. Tarsius Belitung (Tarsius bancanus saltator), orang lokal menyebutnya pelile’an atau monyet hantu, tersebar di seluruh Pulau Belitung sehingga dianggap tidak spesial bahkan tak jarang diburu karena dianggap membawa sial. Tarsius adalah hewan endemik dan sudah termasuk endangered species. Salah satu alasan mengapa Mentilin (Tarsius bancanus) ini dikelola dan dikonservasi di daerah ini karena wilayah Dusun Keleka Datu, Desa Badau ini masih termasuk wilayah dengan kondisi hutan yang alami dan belum terlalu banyak terkena pengaruh dari gangguan luar (pencemaran dan aktivitas manusia), dimana kita ketahui bahwa habitat Mentilin (Tarsius bancanus) ini sendiri adalah tinggal di batang-batang pohon.
Perbedaan tarsius Belitung dengan yang ada di Sulawesi dan Bohol, Filipina terletak pada ukuran tubuh dan pola hidupnya. Panjang tubuh tarsius Belitung dewasa 15 sentimeter atau lebih besar daripada yang ada di Sulawesi dan Bohol. Tarsius di Tangkoko, Sulawesi dan di Filipina hidup berkelompok terdiri dari 5-7 ekor, tapi di Belitung hanya hidup sepasang. Yang di Tangkoko bersuara namun yang di sini cenderung lebih diam. Yang di Tangkoko hidup dalam lubang pohon tapi yang di sini hidup di bawah kanopi daun, hidup berpindah-pindah dalam wilayah jelajahnya yang ditandai dengan air seni, keluar pada malam hari (nokturnal) dan menyukai berada atau tinggal di pohon dengan ketinggian sekitar 1,5-2 meter. Di Batu Mentas, konservasi tarsius dilakukan dengan memberdayakan masyarakat. Pilihannya dengan menjadikan daerah ini sebagai destinasi wisata agar mereka juga merasakan efek ekonomi dan sosial dari sebuah konservasi tarsius. Secara tidak langsung masyarakat pun akan mau turut terlibat dan bersemangat dalam kegiatan konservasi.
 
 

Â