Mendalami prinsip-prinsip pembelajaran bermakna dan belajar matematika bermakna
1. Belajar dimulai dengan pengetahuan yang sebelumnya sudah ada dan pengalaman dari siswa.
Hal yang mungkin dapat dilakukan oleh guru antara lain memulai kelas atu pembelajaran dengan memberikan pertanyaan penunjang yang menyangkut materi sebelumnya dan juga sedikit tentang materi yang akan diajarkan secara informal (tidak terlalu resmi) dan menyenangkan, selanjutnya mengkaitkan terlebih dahulu materi sebelumnya dengan materi yang akan diajarkan, serta membuat peta konsep yang menjelaskan hubungan antara materi yang lalu dengan materi yang sekarang atau dapat juga membuat peta konsep untuk materi mulai dari awal semester hingga akhir semester dengan tampilan yang indah.
2. Belajar adalah proses siklis
Belajar dimulai dari tahap yang terbawah (dasar) atau yang termudah lalu dilanjutkan ke tahap yang lebih tinggi begitu seterusnya di mana dalam proses ini sedikit demi sedikit ilmu dapat diambil hingga akhirnya pembelajar dapat menguasai pengetahuan atau ilmu yang telah dipelajari.
Pembelajaran bertahap dalam matematika antara lain menggunakan peraga benda-benda konkrit, kemudian menggunakan gambar-gambar pada tahap semi konkrit dan akhirnya ke simbol-simbol pada tahap abstrak. Contoh : Pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel, guru dapat menjelaskan konsep SPLDV dengan cara ilustrasi sederhana namun nyata ada di lingkungan siswa. Seperti pembelajaran dengan memperagakan jual beli pensil dan bolpoin di kelas.
3. Belajar adalah tentang mentransformasikan (mengubah) pengalaman
Tugas guru adalah “memindahkan” segala sesuatu yang ada di dunia ini, dalam hal ini pengetahuan yang tersebar luas di seluruh dunia ini ke dalam pikiran siswa agar siswa memiliki wawasan yang luas.
4. Belajar adalah tentang membangun hubungan-hubungan
Kognisi siswa akan berbentuk hubungan antara materi satu dengan yang lainnya, maka dari itu diperlukan hal-hal yang telah disebutkan di atas, yaitu guru harus memberikan pengantar dengan menghubungkan materi yang akan diajarkan dengan materi sebelumnya.
5. “Mengajar” adalah membuat pengalaman belajar yang bermakna
Guru yang baik adalah guru yang tidak hanya mengajar tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada siswa atau sebagai fasilitator, dimana guru mengkonstruksi pengetahuan siswa bukan hanya menyampaikan, memberikan instruksi bersifat fleksibel dan spontan sesuai dengan keadaan kelas, saling mengontrol kelas bersama siswa, dan menjadikan siswa menjadi aktif.
Belajar matematika bermakna terjadi jika siswa memahami tujuan belajar matematika, lebih spesifiknya siswa mampu memahami kompetensi yang akan dicapai pada setiap bab (materi) agar belajar lebih efektif. Pembelajaran matematika tidak bermakna jika siswa hanya belajar berhitung, menyelesaikan soal matematis, mengerjakan soal-soal dibuku, tanpa memahami maksud dan kegunaan suatu konsep matematika dalam menyelesaikan masalah sehari-hari. Siswa hanya menghafal rumus untuk menyelesaikan soal.