Meta-Cognitive Activity (WEEK-4)

Meta-Cognitive Activity (WEEK-4)

by KHOIRUDIN 14301244002 -
Number of replies: 0

SPM-PMI 2014

Selasa, 1 Maret 2016

KHOIRUDIN-Mata kuliah Strategi Pembelajaran Matematika memasuki minggu keempat di semester 4. Minggu ini saya belajar tentang 

A. Tipe-tipe Memori

B. Teori Beban Kognitif

C. Model ADDIE

 

Berikut adalah penjelasan dari ketiga materti di atas:

A. Tipe-tipe Memori

1. Sensory Memory: sebentar menyimpan rangsangan untuk pengolahan persepsi awal dan pola identifikasi (sebelum informasi tersebut hilang)

2. Working (Short-Term) Memory: berarti berbasis pengolahan dan jangka pendek penyimpanan

3. Long-term Memory: penyimpanan tak terbatas informasi yang relevan untuk tujuan

tertentu

 

B. Teori Beban Kognitif

1. Beban Kognitif Instrinsik atau Intrinsic Cognitive

Beban kognitif instrinsik atau Intrinsic cognitive load adalahbeban pikiran yang dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan tuntutan konten yang ditentukan oleh tingkat kompleksitas informasi atau materi yang sedang dipelajari, sedangkan beban kognitif ekstrinsik atau Extraneous cognitive load ditentukan oleh teknik penyajian materi tersebut (Sweller & Chandler, 1994).

Ciri – ciri Beban kognitif intrinsik :

  • Tidak dapat dimanipulasi karena sudah menjadi karakter dari interaktifitas elemen-elemen dalam materi sehingga beban kognitif intrinsik ini bersifat tetap.
  • Beban kognitif intrinsik merujuk kepada beban yang harus dipikul memori kerja karena karakteristik dari materi yang sedang dipelajari. 

2. Beban kognitif ekstrinsik atau Extraneous cognitive load

Beban kognitif ekstrinsik atau Extraneous cognitive loadadalah beban pikiran yang dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan oleh kerja pikiran yang tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran (Clark et al, 2006) dan beban kognitif ekstrinsik ini adalah beban yang dapat dimanipulasi. Teknik penyajian materi yang baik, yaitu yang tidak menyulitkan pemahaman, akan menurunkan beban kognitif ekstrinsik. Pemahaman suatu materi dapat mudah terjadi jika ada pengetahuan prasyarat yang cukup yang dapat dipanggil dari memori jangka panjang. Jika pengetahuan prasyarat ini dapat hadir di memori kerja secara otomatis, maka beban kognitif ekstrinsik akan semakin minimum. Semakin banyak pengetahuan yang dapat digunakan secara otomatis, semakin minimum beban kognitif di memori kerja.

3. Beban Kognitif Germane

Beban kognitif germane adalah beban kognitif yang diakibatkan oleh banyaknya usaha mental yang diberikan dalam proses kognitif yang relevan dengan pemahaman materi yang sedang dipelajari dan proses konstruksi skema (akuisisi skema) pengetahuan. Beban kognitif germane memiliki hubungan positif dengan pembelajaran karena beban ini adalah hasil dari mempersembahkan sumber kognitif untuk pembentukan skema dan otomatisasi daripada kegiatan mental yang lain. Jika tidak ada beban kognitif germane, berarti memori kerja tidak dapat mengorganisasikan, mengkonstruksi, mengkoding, mengelaborasi atau mengintegrasikan materi yang sedang dipelajari sebagai pengetahuan yang tersimpan dengan baik di memori jangka panjang. 

 

C. Model ADDIE

Model ADDIE adalah proses generik tradisional digunakan oleh desainer instruksional dan pengembang pelatihan. Lima fase ADDIE yaitu Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation yang mewakili aspek dinamis, pedoman fleksibel untuk membangun alat pelatihan dan dukungan kinerja yang efektif.

 

ADDIE adalah model Instruksional Desain Sistem (ISD). Umpan balik diterima terus-menerus atau formatif sementara bahan ajar sedang dibuat. Model ini mencoba untuk menghemat waktu dan uang dengan menangkap masalah saat mereka masih mudah untuk memperbaikinya. Prosesnya yang bersifat interaktif yakni hasil evaluasi setiap fase dapat membawa pengembangan pembelajaran ke fase selanjutnya. Hasil akhir dari suatu fase merupakan produk awal bagi fase berikutnya.

 

Teori pembelajaran juga memainkan peran penting dalam desain bahan ajar. Teori seperti behaviorisme, konstruktivisme, pembelajaran sosial dan kognitivisme bentuk bantuan dan menentukan hasil dari bahan ajar.

  1. Tahap analisis

Suatu proses mendefinisikan apa yang akan dipelajari oleh peserta belajar. Maka untuk mengetahui atau menentukan apa yang harus dipelajari, kita harus melakukan beberapa kegiatan, diantaranya adalah melakukan analisis kebutuhan, mengidentifikasi masalah kebutuhan, dan melakukan analisis tugas.

Analisis dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.

  1. Siapa siswa yang akan kita didik dan bagaimana karakteristik mereka?
  2. Mengidentifikasi perilaku baru yang muncul?
  3. Apa jenis kendala pembelajaran yang ada?
  4. Apa saja metode pilihan dalam penyampaian materi?
  5. Apa pertimbangan strategi pembelajaran secara online?
  6. Kapan waktu yang akan digunakan untuk menyelesaikan target pembelajaran ?

 

Oleh karena itu, output yang akan kita hasilkan adalah berupa karakteristik atau profil calon peserta belajar, identifikasi kesenjangan, identifikasi kebutuhan dan analisis tugas yang rinci didasarkan atas kebutuhan.

2. Tahap desain

Tahap ini dikenal juga dengan istilah membuat rancangan. Ibarat bangunan, maka sebelum dibangun gambar rancang bangun diatas kertas harus ada terlebih dahulu. Apa yang kita lakukan dalam tahap desain ini?

  1. Dokumentasi instruksional, strategi desain visual dan teknis proyek
  2. Menerapkan strategi pembelajaran sesuai dengan hasil perilaku yang dimaksudkan dalam tujuan teori kognitif, afektif, psikomotor.
  3. Membuat kerangka cerita
  4. Mendesain hubungan materi dengan pengalaman peserta didik
  5. Menciptakan Prototype desain dasar pembelajaran
  6. Menerapkan desain visual (desain grafis)

3. Tahap pengembangan

Pengembangan adalah proses mewujudkan desain tadi menjadi kenyataan. Guru menerapkan isi materi yang telah dibuat dalam tahap desain. Guru berusaha mengembangkan dan menyatukan dengan teknologi yang ada. Penguji melakukan prosedur penulusuran, agar guru dapat meninjau dan merevisi dengan umpan balik yang diberikan penguji.

4. Tahap implementasi

Selama fase implementasi, prosedur untuk pelatihan para guru dan peserta didik dikembangkan. Pelatihan fasilitator harus mencakup kurikulum, hasil, metode pengiriman pembelajaran, dan prosedur pengujian. Persiapan peserta didik termasuk melatih mereka pada alat-alat baru (software atau hardware). Ini juga fase di mana guru memastikan bahwa buku, alat-alat, CD-ROM dan perangkat lunak berada di tempat, dan bahwa aplikasi pembelajaran atau situs Web dapat digunakan dengan baik.

5. Tahap evaluasi

Evaluasi adalah proses untuk melihat apakah sistem pembelajaran yang sedang dibangun berhasil, sesuai dengan harapan awal atau tidak. Tahap evaluasi terdiri dari dua bagian yaitu formatif dan sumatif. Evaluasi formatif hadir dalam setiap tahap proses ADDIE karena tujuannya untuk kebutuhan revisi. Evaluasi sumatif terdiri dari tes yang dirancang untuk hasil yang berhubungan dengan kriteria tujuan tertentu yang direferensikan dan memberikan kesempatan untuk umpan balik dari siswa.

 

896 words