Meningkatkan keberanian peserta didik untuk mengemukakan pendapat

Meningkatkan keberanian peserta didik untuk mengemukakan pendapat

by Prof. Dr. Dra. Wening Sahayu, M.Pd. 196408121988122001 -
Number of replies: 17

Pada forum kali ini, silahkan anda mengemukakan pendapat terkait dengan cara/teknik/metode pembelajaran keterampilan berbicara, khususnya yang memberikan solusi bagi peserta didik yang malu/ kurang berani mengemukakan pendapatnya. Hal-hal berikut yang perlu anda analisis:

1. Faktor-faktor apakah yang menjadi penghambat peserta didik untuk mengemukakan pendapatnya terkait isi teks/wacana/topik dalam pembelajaran keterampilan?

2. Bagaimana solusi mengatasi hambatan di atas (yang anda sebutkan)?

3. Ambilah salah satu contoh metode pembelajaran keterampilan berbicara yang mengedepankan peningkatan sisi kreatif (dan keterampilan berbicara peserta didik),  jelaskan langkah-langkahnya.

4. Terkait nomer 3, mengapa anda berpendapat metode tsb mengedepankan sisi kreativitas?

Selamat bekerja.

In reply to Prof. Dr. Dra. Wening Sahayu, M.Pd. 196408121988122001

Re: Meningkatkan keberanian peserta didik untuk mengemukakan pendapat

by MONICA MELINDA PUTRI SUSANTI 16203241009 -

Selamat malam, nama saya Monica Melinda. Saya akan menjelaskan tentang fenomena anak-anak SMA yang seringkali takut untuk mengemukakan pendapatnya atau secara ringkas berbicara di depan umum. Hal ini terjadi karena mereka sejak SD telah didoktrin oleh guru untuk selalu tenang atau diam dan memperhatikan pelajaran. Bahkan siapa pun yang berbicara di dalam kelas akan dimarahi, maka tak heran jika hal ini terbawa dan telah melekat dalam jiwa mereka hingga SMA. Tidak hanya itu, mereka juga bahkan takut apabila mereka salah menjawab, maka mereka akan dicemooh oleh teman-temannya, padahal belum tentu teman lainnya memiliki pemikiran yang lebih baik.

Solusi dari permasalahan tersebut adalah guru harus lebih proaktif untuk selalu melibatkan muridnya dalam setiap kegiatan belajar mengajar, bisa dilakukan dengan komunikasi dua arah atau lebih. Perlahan-lahan siswa akan terbiasa untuk berbicara di depan umum.

Contoh pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan berbicara siswa adalah dengan cara membagi kelas menjadi dua kelompok besar yang dihadapkan oleh sebuah fenomena sosial, dan dua kelompok tersebut harus saling berargumentasi. Setiap anggota dalam suatu kelompok diwajibkan untuk berbicara secara bergilir, sehingga semuanya mendapat kesempatan yang sama.

Sebuah contoh metode pembelajaran yang mampu membangkitkan keberanian berbicara adalah metode pembelajaran cooperative script: penyampaian materi ajar yang diawali dengan pemberian wacana atau ringkasan materi ajar kepada siswa yang kemudian diberikan kesempatan kepada siswa untuk membacanya sejenak dan memberikan/memasukkan ide-ide atau gagasan-gagasan baru kedalam materi ajar yang diberikan guru, lalu siswa diarahkan untuk menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dalam meteri yang ada secara bergantian sesama pasangan masing-masing (Alit, 2002:203). Metode ini menurut A'la (2011: 98) mampu meningkatkan kemampuan dan keberanian berbicara terutama dalam mengungkapkan kekurangan orang lainnya.

Demikian pandangan saya mengenai metode pembelajaran berbicara. Terima kasih.

In reply to MONICA MELINDA PUTRI SUSANTI 16203241009

Re: Meningkatkan keberanian peserta didik untuk mengemukakan pendapat

by KHANIFAH NAFULANI 16203241017 -

Assalamualaikum, Frau Wening. Saya ingin mengungkapkan pendapat saya mengenai hasil amatan saya mengenai anak-anak yang malu mengemukakan pendapatnya. Saya sependapat dengan Melinda bahwa siswa dituntut diam oleh guru atau dalam konteks lainnya guru yang dominan di kelas. Berdasarkan pengalaman saya di SMA, metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru kebanyakan monoton dengan metode ceramah. Siswa hanya diam, pasif dan mendengarkan. Walaupun setelah penjelasan materi siswa diberi kesempatan untuk bertanya, namun tidak ada siswa yang mau bertanya atau mengemukakan pendapatnya. Mereka takut salah dan malu jika pendapatnya itu tidak berbobot dan terkadang tidak berkaitan dengan materi yang disampaikan guru. Faktor lainnya yaitu siswa merasa minder karena ada siswa lain yang sangat dominan dan ingin terlihat paling aktif di kelas. Hal ini mematahkan semangat dan keberanian siswa lainnya.

Solusi mengenai permasalahan tersebut yaitu guru hendaknya lebih memotivasi siswa supaya lebih berani untuk mengemukakan pendapat. Selain itu, siswa diberi ruang untuk dapat mengungkapkan pendapatnya dan dari diri siswa sendiri seharusnya mereka juga mencoba dan jangan takut salah.

Pembelajaran yang baik yang dapat meningkatkan keberanian siswa yaitu dengan menggunakan metode pembelajaran yang membuat siswa lebih aktif. Salah satunya yaitu menggunakan metode Kooperatif Dessi (Diskusi, Ekspresi, Serang Balik dan Simpulan). Teknik ini cocok untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa karena teknik ini tidak hanya diskusi, tetapi juga menggabungkan antara ekspresi, serang balik dan simpulan. Langkah-langkah metode kooperatif Dessi yaitu siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri atas 4-6 orang. Lalu, guru memberikan bahan bacaan untuk didiskusikan dalam kelompok. Setelah itu, salah satu kelompok maju untuk menyampaikan hasil diskusinya. Bagi kelompok yang tidak maju dapat memberikan pendapat atau merespon kelompok yang maju. Hal ini dilakukan sampai beberapa kelompok dapat mengungkapkan pendapatnya dengan memperhatikan estimasi waktunya. Di akhir penerapan metode ini, guru memberikan simpulan berkaitan dengan bahan bacaan dan hasil diskusi dari kelompok-kelompok tersebut.

In reply to Prof. Dr. Dra. Wening Sahayu, M.Pd. 196408121988122001

Re: Meningkatkan keberanian peserta didik untuk mengemukakan pendapat

by ERIKA 16203241033 -

Hallo, saya Erika. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut.

 

Pertama. Faktor-faktor yang menghambat siswa untuk mengemukakan pendapatnya terkait teks/wacana adalah rasa malu atau tidak percaya pada kemampuan diri sendiri dan rasa ‘takut salah’. Solusinya adalah dengan memberikan dorongan atau motivasi pada siswa bahwa mengungkapkan pendapat bukanlah merupakan hal yang membuat malu serta siswa harus membuang jauh-jauh rasa minder ataupun takut salah dalam berpendapat. Guru juga harus bisa memotivasi bahwa setiap siswa pasti memiliki kemampuan yang memadai, oleh karena itu siswa harus berani dalam menyampaikan pendapatnya. Karena sejatinya tidak ada pendapat yang salah.

Kemudian menurut saya metode yang tepat untuk meningkatkan keterampilan berbicara adalah metode Time Token (Arends 1998).

Langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut :

  1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran/KD.
  2. Guru mengkondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi (cooperative learning / CL).
  3. Tiap siswa diberi sejumlah kupon berbicara dengan tema tertentu dan waktu ± 30 detik per kupon.
  4. Tiap siswa diberi sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan.
  5. Bila telah selesai bicara kupon yang dipegang siswa diserahkan.
  6. Siswa dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan siswa lainnya.
  7. Siswa yang telah habis kuponnya tak boleh bicara lagi. Siswa yang masih memegang kupon harus bicara sampai semua kuponnya habis.
  8. Demikian seterusnya.

 

Mengapa metode ini cocok digunakan dalam keterampilan berbicara adalah karena metode ini diterapkan  untuk melatih dan mengembangkan keterampilan berbicara sekaligus sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Dan tujuan dari metode inipun saya rasa cukup untuk meningkatkan kreativitas siswa dalam berbicara, yaitu:

  1. Mendorong siswa untuk meningkatkan inisiatif dan partisipasinya.
  2. Siswa menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran.
  3. Meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi (aspek berbicara) secara spontan.
  4. Melatih siswa untuk mengungkapkan pendapatnya dengan sekreatif mungkin.
  5. Menumbuhkan kebiasaan pada siswa untuk saling mendengarkan, berbagi, memberikan masukan dan keterbukaan terhadap kritik.
  6. Mengajarkan siswa untuk menghargai pendapat orang lain.

 

Sekian dari saya, terimakasih.

In reply to Prof. Dr. Dra. Wening Sahayu, M.Pd. 196408121988122001

Re: Meningkatkan keberanian peserta didik untuk mengemukakan pendapat

by OLGA PRAMESTI SIWI 16203241026 -

Faktor faktor yang menghambat siswa untuk menyatakan pendapatnya sendiri terkait isi teks atau wacana menurut saya faktornya adalah siswa malu untuk mengemukakan pendapat karena memang tidak terbiasa mengemukakan pendapatnya. Mengapa demikian? Siswa tidak terbiasa mengemukakan pendapat juga karena guru tidak bisa membangkitkan semangat atau tidak bisa memotivasi siswa untuk mengemukakan pendapat dengan baik. Kebanyakan guru masih menggunakan metode pengajaran yang konvensional, misalnya seperti ceramah, hal itulah yang membuat siswa menjadi pasif dan guru malah aktif menjelaskan bukan siswa yang aktif di dalam kelas. Faktor selanjutnya karena kurang percaya diri. Banyak siswa yang kurang percaya diri untuk menyatakan pendapat, karena siswa merasa bahwa pendapatnya salah, pendapatnya biasa-biasa saja, selain itu mungkin argumen mereka tidak pantas didengar oleh siswa lain atau guru, daripada nanti salah pendapatnya dan malah akan mempermalukan dirinya maka dari itu siswa tidak mau mengemukakan pendapatnya. Faktor lan karena siswa belum memahami isi teks atau wacana yang sedang dibahas, maka mereka tidak dapat memunculkan idenya mengenai isi teks tersebut, atau bahkan karena mereka kurang mempunyai pengetahuan lebih mengenai teks yang semacam itu dan kurang membaca teks yang hampir sama konteksnya dengan bacaan tadi. 

Solusi dari permasalahan ini adalah guru sebaiknya memberi ruang atau memberi kebebasan siswa untuk bisa berfikir kritis sehingga muncul ide-ide yang bagus dan hal tersebut akan meningkatkan keberanian siswa untuk menyatakan pendapatnya karena dirasa ide mereka bagus serta siswa menjadi lebih percaya diri. Guru juga sebaiknya mampu memotivasi siswa untuk berani menyatakan pendapat. Misalnya guru memberi teks bacaan ata wacana yang isinya mampu meningkatkan kreatifitas dan daya pikir siswa. Selain itu guru bisa memberikan materi dalam bentuk gambar-gambar sehingga siswa dituntut untuk menganalisis sendiri makna gambar tersebut sesuai dengan pemahaman dan pendapat siswa. Guru sebaiknya sedikit menjelaskan materi sebagai pengantar atau gambaran siswa, namun selebihnya siswa berdiskusi dalam kelompok untuk memahami materi bersama.

Selanjutnya, Metode pembelajaran yang mampu meningkatkan keterampilan berbicara siswa yaitu metode IOC ( Inside – Outside – Circle ). Langkah – langkah penerapan metode pembelajaran IOC dalam keterampilan  berbicara “sprechen”

  • Guru membagi siswa dalam lingkaran kecil dan lingkaran besar. Lingkaran luar yang besar berdiri menghadap dalam, sedangkan lingkaran kecil berdiri menghadap luar.
  • Pertama – tama Guru memberi teks pendek yang didalamnya terdapat pernyataan situasi mengenai hal atau materi yang akan dibahas hari
  • Selanjutnya guru menyuruh siswa berbagi informasi dengan pasangannya tentang situasi dalam teks bacaan pendek tersebut. Masing- masing siswa harus mampu menjelaskan situasi dalam teks tersebut kepada lawan bicaranya menggunakan bahasa jerman yang Begitu pula bergantian dengan pasangannya menjelaskan situasi dari teks yang berbeda. 
  • Setelah semua informasi didapat, semua siswa kembali kedalam lingkaran awal masing-masing. Lalu siswa berputar atau berpindah dua atau tiga langkah. Sehingga menemukan pasangan  atau lawan bicara yang baru. Mereka saling beradu argumentasi atau berdiskusi tentang informasi yang telah didapat dengan lawan bicara atau partner awal. Setelah itu setiap siswa membuat ringkasan. 

Metode  pembelajaran IOC  mengedepankan sisi kreativitas karena dengan metode tersebut setiap siswa harus bisa menjelaskan situasi dalam teks bacaan pendek atau gambar tersebut sesuai kreativitas dan pemahaman mereka. Selain itu siswa bisa mengembangkan ide sekreativ mungkin, bagaimana cara menyampaikan ide atau pendapatnya mengenai isi bacaan pendek tersebut agar  mampu dipahami dengan baik oleh lawan bicaranya. Mungkin bisa menggunakan bahasa jerman yang mudah dipahami.    

In reply to Prof. Dr. Dra. Wening Sahayu, M.Pd. 196408121988122001

Re: Meningkatkan keberanian peserta didik untuk mengemukakan pendapat

by ITA MAULITA 16203241004 -

Assalamualaikum Frau Wening. Saya ingin berpendapat mengenai faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat peserta didik untuk mengemukakan pendapat terkait isi teks. Menurut saya faktor penghambat hal tersebut adalah yang pertama siswa merasa malu atau tidak percaya diri untuk mengemukakan pendapat dihadapan guru dan teman-teman. Yang kedua siswa merasa takut salah untuk mengemukakan pendapat atau siswa tersebut belum terbiasa berbicara dihadapan orang banyak sehingga menimbulkan perasaan nervous. Selain itu faktor yang menjadi penghambat adalah guru mengajar dengan menggunakan metode ceramah dan siswa hanya diam dan memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru tersebut sehingga menyebabkan siswa tersebut kurang mendapatkan kesempatan untuk berpendapat karena didalam pembelajaran tersebut yang lebih dominan aktif adalah guru.
Untuk mengatasi hambatan diatas adalah guru harus memberikan kesempatan lebih kepada siswa untuk bebas berpendapat. Selain itu guru harus mengubah metode pembelajaran, dimana dalam metode pembelajaran tersebut siswa lebih dominan aktif untuk berpendapat dibandingkan oleh guru sehingga siswa tersebut akan kreatif dan inovatif dalam berpendapat dan lama kelamaan siswa tersebut akan terbiasa berpendapat tanpa ada rasa malu ataupun takut.
Metode pembelajaran yang saya ambil adalah Pembelajaran koooperatif TAI. Pembelajaran koooperatif TAI merupakan suatu program yang menggabungkan pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran individual untuk memenuhi kebutuhan berbagai kelas yang berbeda. Model pembelajaran kooperatif tipe TAI merupakan model pembelajaran yang membentuk kelompok kecil yang heterogen dengan latar belakang cara berfikir yang berbeda untuk saling membantu terhadap siswa lain yang membutuhkan bantuan. Pada pembelajaran ini diterapkan bimbingan antar teman, yaitu siswa yang pandai bertanggung jawab terhadap siswa yang lemah sehingga dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kelompok kecil. Siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan ketrampilannya, sedangkan siswa yang lemah dapat terbantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.
Langkah – langkah Metode TEAM ASSISTED INDUVIDUALIZATION (TAI)
Guru menyiapkan materi bahan ajar yang akan diselesaikan oleh kelompok siswa.
Guru memberikan pre-test kepada siswa atau melihat rata-rata nilai harian siswa agar guru mengetahui kelemahan siswa pada bidang tertentu. (Mengadopsi komponen Placement Test).
Guru memberikan materi secara singkat. (Mengadopsi komponen Teaching Group).
Guru membentuk kelompok kecil yang heterogen tetapi harmonis berdasarkan nilai ulangan harian siswa, setiap kelompok 4-5 siswa. (Mengadopsi komponen Teams).
Setiap kelompok mengerjakan tugas dari guru berupa LKS yang telah dirancang sendiri sebelumnya, dan guru memberikan bantuan secara individual bagi yang memerlukannya. (Mengadopsi komponen Team Study).
Ketua kelompok melaporkan keberhasilan kelompoknya dengan mempresentasikan hasil kerjanya dan siap untuk diberi ulangan oleh guru. (Mengadopsi komponen Student Creative).
Guru memberikan post-test untuk dikerjakan secara individu. (Mengadopsi komponen Fact Test).
Guru menetapkan kelompok terbaik sampai kelompok yang kurang berhasil (jika ada) berdasarkan hasil koreksi. (Mengadopsi komponen Team Score and Team Recognition).
Guru memberikan tes formatif sesuai dengan kompetensi yang ditentukan.

Menurut saya metode ini cocok untuk digunakan dalam meningkatkan pembelajaran keterampilan berbicara karena metode ini memiliki salah satu ciri yaitu produktif berbicara atau saling mengemukakan pendapat. Dengan adanya ciri tersebut saya berpendapat bahwa metode ini mengedepankan sisi kreativitas. Dalam metode ini juga terdapat beberapa kelebihan juga antara lain adalah :

Meningkatkan hasil belajar.
Meningkatan motivasi belajar
Mengurangi perilaku yang mengganggu dan konflik antar pribadi
Program ini bisa membantu siswa yang lemah/siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi belajar.
Model pembelajaran Team Assisted Individualization membantu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik dan mengurangi anggapan banyak peserta didik bahwa matematika itu sulit.
Pada model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization peserta didik mendapatkan penghargaan atas usaha mereka.
Melatih peserta didik untuk bekerja secara kelompok, melatih keharmonisan dalam hidup bersama atas dasar saling menghargai.

 Sekian dari saya. Terimakasih

Wassalamualaikum wr.wb

In reply to Prof. Dr. Dra. Wening Sahayu, M.Pd. 196408121988122001

Re: Meningkatkan keberanian peserta didik untuk mengemukakan pendapat

by ANGGITA RIANANDA 16203241030 -

Menurut pengalaman pribadi saya ketika di SMA dan bahkan terkadang terjadi sampai saat ini juga, saya sering mengalami kesulitan dalam berpendapat. Hal tersebut karena disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu saya berpikir bahwa mengemukakan pendapat di depan umum itu merupakan hal yang menegangkan, hal tersebut disebabkan karena kurangnya percaya diri atau rasa malu terhadap orang-orang sekitar atau teman-teman, selain itu ketika diperintahkan untuk berpendapat terkadang saat saya sedang tidak mempunyai ide-ide cemerlang sehingga tidak tahu apa yang harus diungkapkan. Kemudian, ketika saya berpendapat saya merasa takut karena mendapat kesan negatif dari orang lain/teman-teman saya dan juga saya mempunyai rasa minder ketika mengetahui jika terdapat teman yang lebih tahu daripada kemampuan diri saya sendiri sehingga hal tersebut membuat saya takut untuk mengungkapkan pendapat.

Solusi mengenai permasalahan tersebut yaitu guru hendaknya lebih memotivasi siswa-siswa yang mempunyai rasa malu ketika berbicara di depan umum supaya lebih berani untuk mengemukakan pendapat dan sebaiknya siswa-siswa harus lebih menanamkan pikiran positif dan tidak minder.

Pembelajaran yang efektif yang dapat meningkatkan keberanian siswa aktif dalam berbicara yaitu dengan menggunakan metode pembelajaran TTW (Think-Talk-Write). Langkah – langkah penerapan metode pembelajaran TTW dalam keterampilan berbicara, yaitu:

(1)   Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok, kemudian guru membagikan teks yang berisikan suatu tema berupa Lembar Kerja Siswa (LKS) yang di dalamnya memuat suatu masalah terkait materi yang sedang dipelajari untuk dikerjakan oleh siswa dan didalamnya disertai petunjuk serta prosedur pelaksanaannya.

(2)   Siswa membaca dan memahami tema yang diberikan, kemudian membuat catatan kecil oleh masing-masing siswa (think) untuk selanjutnya dibawa ke forum diskusi.

(3)   Siswa menyampaikan apa yang telah dilakukan pada tahap think kemudian berdiskusi dengan teman sekelompoknya membahas catatan yang telah dibuat masing-masing anggota (talk).

(4)   Dari hasil diskusi, siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka ke dalam diskusi (write) sebagai hasil diskusi kolaborasi.

(5)   Pembelajaran diakhiri dengan membuat refleksi dan kesimpulan dari materi yang telah dipelajarinya. Sebelumnya guru memilih beberapa siswa sebagai perwakilan kelompok untuk menyampaikan hasil diskusinya sedangkan anggota-anggota kelompok yang lain memberi tanggapan, berupa pertanyaan, saran, maupun pendapat.

 

Jadi menurut saya, dengan metode pembelajaran TTW ini siswa dapat menjadi kreatif dan juga aktif, karena dengan metode tersebut setiap siswa harus bisa menjelaskan serta mengungkapan suatu masalah yang terdapat dalam teks bacaan tersebut sesuai kreatifitas dan pemahaman mereka. Selain itu siswa juga dapat belajar bagaimana cara menyampaikan ide atau pendapatnya mengenai isi bacaan tersebut agar  mampu dipahami dengan baik oleh teman-teman anggota kelompok lain.

In reply to Prof. Dr. Dra. Wening Sahayu, M.Pd. 196408121988122001

Re: Meningkatkan keberanian peserta didik untuk mengemukakan pendapat

by WULAN INDAH CHAHYANI 16203241018 -
  1. Faktor-faktor yang menjadi penghambat peserta didik untuk mengemukakaan pendapat terkait isi teks/wacana/topik adalah minat peserta didik kurang pada bahasa asing (bahasa Jerman) karena   tidak diujikan dalam UN sehingga hanya dipandang sebelah mata, metode/cara/teknik pembelajaran yang monoton ataupun kurang tepat, penguasaan bahasa (kosakata dan stuktur) terbatas yang menyebabkan siswa takut mengemukakan pendapat, siswa pasif, siswa kurang percaya diri pada kemampuan yang dimiliki, guru kurang memberi motivasi pada peserta didik, dan lain-lain.
  2. Solusi dalam mengatasi hambatan diatas adalah guru memotivasi dan menjelaskan tujuan dalam mempelajari bahasa Jerman, sehingga siswa mengerti dan paham apa yang harus mereka lakukan; guru mencoba memberikan metode pembelajaran baru yang cocok dan  mengasikan sehingga siswa senang dan mudah dalam belajar, yang akan  menimbulkan kreativitas, kekritisan dan keaktifan siswa dalam pembelajaran.
  3. Contoh metode pembelajaran keterampilan berbicara yang mengedepankan peningkatan sisi kreatif adalah metode pembelajaran berbasis proyek. Langkah-langkah dari metode  pembelajaran berbasis proyek yaitu: (1) penyajian suatu permasalahan. Permasalahan diajukan dalam bentuk pertanyaan;(2) membuat perencanaan. Guru perlu merencanakan standar kompetensi yang akan dikaji ketika membahas permasalahan; (3) menyusun penjadwalan. Siswa harus pembuat penjadwalan pelaksanaan proyek yang disepakati bersama guru; (4) memonitor pembuatan proyek. Pelaksanaan pekerjaan siswa harus dimonitor dan difasilitasi prosesnya; (5) melakukan penilaian. Penilaian dilakukan secara autentik dan guru perlu memvariasikan jenis penilaian yang digunakan; (6) evaluasi. Memberikan kesempatan pada siswa dalam melakukan refleksi pembelajaran yang telah dilakukan baik secara individu maupun kelompok.
  4. Metode pembelajaran berbasis proyek ini megedepankan sisi kreativitas karena dalam metode ini siswa dituntut untuk mampu membentuk suatu konstruksi proyek, dapat memecahkan masalah dan menghasilkan suatu karya/produk yang dilakukan secara berkelompok maupun individu.
In reply to Prof. Dr. Dra. Wening Sahayu, M.Pd. 196408121988122001

Re: Meningkatkan keberanian peserta didik untuk mengemukakan pendapat

by EKA SEPTIARY MAGHFIRA 16203241019 -

1. Menurut saya ada beberapa faktor yang menyebabkan peserta didik sulit untuk mengemukakan pendapatnya terkait isi teks/wacana/topik dalam pembelajaran keterampilan. Salah satu contohnya adalah karena peserta didik yang tidak menguasai materi dengan baik. Hal ini menyebabkan peserta didik malu dan terkesan enggan untuk mengemukakan pendapatnya. Faktor percaya diri juga mempengaruhi peserta didik. Peserta didik yang memiliki kepercayaan diri yang rendah akan merasa malu dan takut salah jika mengemukakan pendapat. Padahal ia sudah menguasai materi dengan baik.

2. Untuk mengatasi masalah tersebut tentu saja ada solusi yang bisa digunakan. menurut saya solusi yang dapat digunakan oleh guru adalah memberikan motivasi yang lebih banyak kepada peserta didik agar mereka lebih bersemangat dan percaya diri untuk mengikuti pelajaran. Dengan semangat yang peserta didik miliki akan berdampak baik pula terhadap proses belajarnya. peserta didik akan lebih semangat untuk belajar dan pada akhirnya akan menguasai materi dengan baik. Itu akan mebuat peserta didik berani mengemukakan pendapatnya.

3. Terkait dengan keterampilan berbicara, saya mengambil contoh metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Langkah-langkah yang dapat digunakan adalah, (1) Siswa dikondisikan secara berkelompok, siswa secara berkelompok membaca, mengamati dan memahami isi teks artikel yang telah dibagikan oleh guru. (2) Siswa secara berkelompok mendata informasi dari sebuah artikel dengan mencantumkan sumbernya. (3) Siswa secara berkelompok merumuskan pokok persoalan yang menjadi bahan perdebatan umum (apa isunya, siapa yang memunculkan, kapan dimunculkan, apa yang menjadi latar belakangnya) dengan tepat. (4) Siswa secara kelompok berdiskusi untuk menuliskan hasil temuan terkait dengan data informasi dari artikel dengan mencantumkan sumbernya. (5) Siswa secara kelompok berdiskusi untuk menuliskan hasil temuan terkait dengan pokok persoalan yang menjadi bahan perdebatan umum di masyarakat (apa isunya, siapa yang memunculkan, kapan dimunculkan, apa yang menjadi latar belakangnya) dalam diskusi dengan saling menghargai, bekerja sama, dan bertanggung jawab. (6) Siswa secara kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok terkait dengan dengan pokok persoalan yang menjadi bahan perdebatan umum di masyarakat (apa isunya, siapa yang memunculkan, kapan dimunculkan, apa yang menjadi latar belakangnya). (7) Siswa menanggapi presentasi teman/ kelompok secara santun, kritis, dan bertanggung jawab.

4. Dari langkah-langkah yang disebutkan di nomor 3, metode ini dapat mengasah kreatifitas peserta didik karena mereka dituntun untuk menyelesaikan sebuah masalah yang mereka dapatkan. Dari masalah yang didapat tersebut, peserta didik memecahkannya dalam diskusi kelompok. Dalam hal tersebut peserta didik juga dituntut untuk berpikir kritis dalam menyikapi masalah yang ada. 

In reply to EKA SEPTIARY MAGHFIRA 16203241019

Re: Meningkatkan keberanian peserta didik untuk mengemukakan pendapat

by SUCIASTUTI BUDIASIH 16203241023 -

Selamat Pagi Frau wening , saya suci disini saya akan mengemukakan pendapat saya mengenai faktor penghambat peserta didik dalam mengemukakan pendapat.

faktor penghambat dari hal itu tentunya banyak dari hal yang saya tahu adalah rasa gugup atau cemas berlebihhan karena takut salah dan dimarahi atau di ejek oleh teman-temannya. Faktor lain adalah faktor lingkungan tempat dimana dia tinggal juga mempengaruhi terbentuknya mental psikis dari peserta didik itu sendiri.

Cara untuk mengatasi faktor yang telah saya sebutkan diatas adalah mengubah menset otak kita agar tidak takut lagi dalam mengemukakan pendapat. Didalam metodologi penelitian pendidikan saya menemukan metode baru yang cocok untuk peserta didik didalam meningkatkan kemampuan berbicara supaya mereka aktif melalui metode IGA (Informations GAP Activities).

Metode IGA adalah kegiataan pembelajaran dimana siswa berkewajiban bekerja secara berpasangan. Satu siswa memiliki informasi sementara satu siswa lain tidak mempunyai informasi. Mereka harus saling menukar informasinya satu sama lain. Setiap pasangan memiliki peranan penting sebab tugas tidak dapat diselesaikan jika pasangan tidak dapat memberikan informasi pada yang lain.

Adapun langkah-langkah dari metode ini adalah sebagai berikut :

1.Guru membahasa kosa kata yang ada pada lembar tugas (task) yang akan dibahasa

2.Guru melatihkan pengucapan kosa kata yang ada pada tugas

3.Guru membahas languanges function yang dibahas

4.Guru melatih cara pengucapan

5.Guru membagi siswa menjadi kelompok dan berpasangan

6.Guru membagi lembar tugas kepada siswa A dan B

7.Guru meminta siswa mengisi dialog sambil mengisi lembar tugas

8.Guru mengamati dan menilai dialog siswa

9.Guru meminta siswa membandingkan lemabar kerja siswa A dan B

10.Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya

11.Guru memberikan penguatan

In reply to Prof. Dr. Dra. Wening Sahayu, M.Pd. 196408121988122001

Re: Meningkatkan keberanian peserta didik untuk mengemukakan pendapat

by NOVIA SOLEHATI 16203241002 -
Selamat pagi, menurut saya dan berdasarkan pengamatan saya semasa sekolah hingga saat ini yang menjadi faktor penghambat peserta didik untuk mengemukan pendapatnya terkait isi teks/wacana/topik dalam pembelajaran keterampilan antara lain: peserta didik memiliki rasa takut kepada guru yang tidak begitu bersahabat dalam mengajar, peserta didik memiliki rasa malu untuk bertanya, tidak paham dengan isi teks yang dibacanya, kurangnya apresiasi bertanya oleh sang guru dan ejekan teman-teman yang terkadang membuat peserta didik malu dan mengurungkan niatnya untuk bertanya. Dan untuk mengatasi permasalahan tersebut secara umumnya adalah dalam hal proses mengajar sang guru haruslah memahami peserta didiknya dan juga sebaliknya. Peserta didik dapat mengkonsultasikan permasalahan tersebut dengan guru BK. Seorang guru haruslah mengapresiasi segala bentuk pertanyaan yang diberikan siswanya, sehingga siswa tidak merasa takut untuk bertanya dan memberikan nasehat kepada peserta didik bahwa mengapresiasi pertanyaan seseorang itu sangatlah penting dan yang lebih penting adalah mengajar dengan suasana yang menyenangkan dan nyaman, namun tetap kondusif. Setelah melihat permasalahan ini saya rasa metode Kooperativ Talking Stik dapat meningkatkan keterampilan berbicara peserta didik dengan lebih kreatif dan tentu menyenangkan. Model pembelajaran Talking Stik ini merupakan suatu model pembelajaran kelompok dengan bantuan tongkat, lalu kelompok yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya, selanjutnya kegiatan tersebut diulang terus-menerus sampai semua kelompok mendapat giliran untuk menjawab pertanyaan dari guru. Dalam penerapan model pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stik ini, guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 orang yang heterogen. Kelompok dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban, persahabatan atau minat, yang dalam topik selanjutnya menyiapkan dan mempersentasekan laporannya kepada seluruh kelas. Adapun Langkah-Langkah Metode Talking Stik sebagai berikut : 1. Guru membentuk kelompok yang terdiri atas 5 orang. 2. Guru menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm. 3. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan para kelompok untuk membaca dan mempelajari materi pelajaran. 4. Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana. 5. Setelah kelompok selesai membaca materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru mempersilahkan anggota kelompok untuk menutup isi bacaan. 6. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu anggota kelompok, setelah itu guru memberi pertanyaan dan anggota kelompok yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru. 7. Siswa lain boleh membantu menjawab pertanyaan jika anggota kelompoknya tidak bisa menjawab pertanyaan. 8. Guru memberikan kesimpulan. 9. Guru melakukan evaluasi/penilaian, baik secara kelompok maupun individu. 10. Guru menutup pembelajaran. Menurut Sri Widayati metode pembelajaran talking stick dapat menciptakan suasana yang menyenangkan, sehingga siswa tidak tegang dan bisa belajar dengan baik, sehingga siswa merasa termotivasi dan senang untuk dapat mengikuti pelajaran serta dapat menguasai materi pelajaran. Siswa menjadi termotivasi untuk kreatif dengan terlebih dahulu berdiskusi dengan teman sekelompokknya lalu bertukar pikiran, yang dapat membuka wawasan dan pengetahuan antar teman sebayanya mengenai teks yang telah mereka baca, sehingga dapat memunculkan ide-ide kreatif untuk menjawab atau mengutarakan suatu pertanyaan ataupun jawaban.
In reply to Prof. Dr. Dra. Wening Sahayu, M.Pd. 196408121988122001

Re: Meningkatkan keberanian peserta didik untuk mengemukakan pendapat

by AYU WULANDARI 16203241032 -

Selamat Pagi! Menurut pengamatan saya, faktor-faktor yang menjadi penghambat peserta didik untuk mengemukakan pendapatnya terkait isi teks/wacana/topik dalam pembelajaran adalah:

1. Tidak percaya diri

Siswa merasa minder terhadap teman-temannya, menganggap pendapat yang lain lebih baik dari pendapatnya, padahal belum tentu;

2. Guru yang cara pengajarannya kurang bersahabat, misalnya sering menggunakan nada tinggi sehingga membuat suasana tegang;

3. Jika pendapatnya kurang tepat, langsung dijudge salah, sehingga menimbulkan perasaan takut salah;

4. Kurangnya Informasi yang Mendukung Pendapat Siswa

Siswa merasa informasi yang mendukung pendapatnya dianggap kurang sehingga ia beranggapan pendapat yang akan ia lontarkan lemah atau kurang berkualitas (dalam forum diskusi);

Solusi:

1. Menumbuhkan mindset bahwa semua orang boleh berpendapat selama mereka saling menghormati pendapat mereka satu sama lain.

2. Cara mengajar guru sebaiknya diperbaiki.

3. Jika pendapat seorang siswa kurang tepat, guru tidak langsung berkata "salah" namun sebaiknya diganti dengan "Terima kasih atas pendapatnya, pendapat yang bagus, namun ada beberapa poin yang perlu dibenahi disini,..." atau kalimat yang lebih halus lainnya sehingga siswa merasa pendapatnya dihargai.

4. Dalam forus diskusi, ada baiknya siswa mencari fakta pendukung untuk mendukung pendapat atau argumen yang akan dilontarkan.

Salah satu contoh metode pembelajaran keterampilan berbicara yang mengedepankan peningkatan sisi kreatif (dan keterampilan berbicara peserta didik: Metode DRTA (Directed Reading Thinking Activity)

Langkah-langkah:

  1. Membuat prediksi berdasarkan petunjuk judul. Pada tahap ini guru menuliskan judul teks bacaan yang akan dibaca oleh siswa di papan tulis. Setelah itu guru menyuruh siswa memprediksikan isi teks bacaan yang akan dibaca berdasarkan judul tersebut.
  2. Membuat prediksi dari petunjuk gambar. Langkah yang dilakukan guru pada tahap ini adalah memajang gambar dari teks bacaan yang akan dibaca oleh siswa. Setelah itu suruhlah siswa memprediksi apa kira-kira isi dari teks bacaan yang akan dibacanya nanti.
  3. Membaca bahan bacaan atau teks. Menyuruh siswa membaca teks bacaan yang dibagikan guru berdasarkan pilihannya terhadap gambar yang dipilih oleh siswa tersebut.
  4. Menilai prediksi dan menyesuaikan prediksi. Setelah membaca teks tersebut guru melakukan penilaian terhadap hasil prediksi siswa, dengan cara mengajukan pertanyaan siapakah diantara kamu yang prediksinya tadi sama dengan teks bacaan yang baru saja dibaca. 
  5. Ulangi kembali semua prosedur (1-4) hingga semua bagian pelajaran diatas telah tercakup. 
  6. Membuat ringkasan sesuai dengan versinya masing-masing.

Menurut saya cara ini membuat siswa kreatif karena siswa akan dilatih untuk memprediksi isi bacaan teks. Dimulai dari judul, ditunjang dengan gambar dan kemudian dilanjutkan dengan membaca teks itu. Semakin lama, kemampuan memprediksi siswa akan terlatih dan ini sangat membantu untuk memilah sumber informasi dari sebuah buku/teks yang berjumlah banyak, hanya dengan melihat judul dan gambarnya saja.

Demikian pendapat saya, terima kasih!

In reply to Prof. Dr. Dra. Wening Sahayu, M.Pd. 196408121988122001

Re: Meningkatkan keberanian peserta didik untuk mengemukakan pendapat

by VINNY SEFITRIANA 16203241003 -

Selamat Pagi, Frau Wening. Disini saya akan mengungkapkan pendapat saya mengenai faktor yang menjadi penghambat peserta didik untuk mengemukakan pendapatnya terkait isi teks/wacana/topik dalam pembelajaran keterampilan. Menurut pengalaman yang saya alami ketika masih duduk di bangku SD, SMP, dan SMA banyak teman-teman saya yang tidak berani bersuara mengungkapkan ide dan pendapatnya. Hal ini mungkin karena didikan orang tua dan pengaruh dari lingkungan sekitar, misalnya teman-teman yang selalu merendahkannya, ketika di sekolah gurunya memperlakukannya dengan tidak mengapresiasinya dengan baik.

solusi yang tepat untuk mengurangi ketidakberanian peserta didik dalam berbicara adalah dengan menerapkan metode pembelajaran berbicara yang sekiranya efektif. menurut saya, metode yang mungkin dapat digunakan adalah metode pembelajaran kooperatif : Artikulasi.

Langkah-langkah metode pembelajaran Artikulasi, antara lain sbb:

  1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
  2. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa.
  3. Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang.
  4. Menugaskan salah satu siswa dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya.
  5. Menugaskan siswa secara bergiliran/ diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya.
  6. Guru mengulangi/ menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa.

metode ini menurut saya tergolong dapat meningkatkan kreativitas peserta didik, karena melibatkan semua siswa untuk turut berbicara.

In reply to Prof. Dr. Dra. Wening Sahayu, M.Pd. 196408121988122001

Re: Meningkatkan keberanian peserta didik untuk mengemukakan pendapat

by PUTRI MAHMUDAH 16203241021 -

Assalamualaikum Frau Wening. Saya akan mencoba menjawab dan mengemukakan pendapat saya mengenai pertanyaan tersebut.

1.      Menurut pengalaman saya, faktor yang menjadi penghambat peserta didik untuk mengemukakan pendapatnya terkait isi teks/wacana/topik dalam pembelajaran keterampilan yaitu: biasanya dari mereka pertama tidak mengerti apa yang dibahas dalam topik tersebut, fakor tersebut bisa menjadi penghalang siswa tidak dapat mengemukakan pendapatnya, hal ini membuat mereka enggan dala mengemukakan pendapat. Selain itu, kurangnya keberanian yang dimiliki siswa dalam mengemukakan pendapatnya di depan umum. Kurangnya percaya diri juga dapat menjadi penghambat siswa enggan dalam mengemukakan pendapatnya mengenai wacana yang dibahas dalam kelas. Mereka takut akan salah dalam pendapat merea atau mereka takut dalam mengemukakn pendapatnya bahasa yang digunakannya tidak baik dan benar.

2.      Beberapa solusi dalam mengatasi beberapa masalah atau hambatan yang dialami siswa dalam mengemukakan pendapatnya, yaitu: guru yang sebagai motivatr bagi para siswanya dapat memberikan motivasi – motivasi terhadap siswanya agar mereka berani dalam mengemukakan pendapatnya di depan umum. Selain itu guru dapat mengganti metode pembelajaran yang mereka terapkan dalam kelas tersebut dengan menggunakan metode yang lebih inovatif maupun kreatif agar siswa juga tidak bosan dengan metode yang tradisional.

3.      Salah satu metode yang dapat diterapkan guru dalam pembelajaran keterampilan dalam berbicara, yaitu metode pembelajaran inkuiri. Metode inkuiri sendiri sangatlah berkaitan atau cocok dalam pembelajaran HOTS yang menerpakan agar siswa lebih aktif, kreatif fan kritis dalam belajar di kelas. Metode inkuiri sendiri merupakan metode yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan pembelajar untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, dan analitis, sehingga pembelajar dapat merumuskan sendiri berbagai penemuan atas berbagai persoalan dengan penuh percaya diri. Adapun langkah – langkah penerapan metode inkuiri, yaitu:

a.       Peserta didik diberi sebuah tugas yang jawabannya bisa didapatkan pada proses pembelajaran yang selama ini telah dialami oleh siswa itu sendiri. Namun sebelum itu para siswa dibenuk dalam sebuah kelompok kecil. Setelah itu, tugas tersebut mengenai hal yang menanamkan rasa keingintahuan kepada peserta didik terhadap sesuatu, dan mempradugakan sebuah jawaban dan jawaban tersebut diperoleh dari pembelajaran yang sudah dialami oleh peserta didik itu sendiri.

b.      Mengembangkan hipotesis. Dimana siswa harus melihat dan merumuskan hubungan yang ada secara logis.

c.       Menguji jawaban tentative. Dalam hal ini, siswa harus mampu mengidentifikasi maslah atau peristiwa yang telah diberikan oleh guru dan dapat menganalisisnya. Dalam metode ini, guru menjadi fasilitator untuk peserta didik. Dimana guru hanya memberikan penjelasan terhadapa persoalan-persoalan jika peserta didik kurang memahaminya.

d.      Setelah itu, peserta didik menarik kesimpulan dan membuat keputusan yang valid untuk menjawab permasalahan yang didukung oleh bukti-bukti dan dapat dipertanggungjawabkan.

e.       Hasil yang sudah dikerjakan oleh peserta didik dipresentasikan di depan semua teman-temannya guna merangsang adanya pendapat yang lain.

 

4.  Dari soal nomor 3, mengapa metode tersebut mengedepankan sisi kreatif pada masing – masing siswa. Karena metode ini mengajarkan para siswanya pertama untuk melatih dirinya untuk aktif dalam pembelajaran di kelas, kedua pembelajaran tersebut para siswa lah yang menjadi subjeknya yang menetukan dam memcahkan masalah dalam tugas yang diberikan guru tersebut. Karena dalam memecahkan sebuah masalah juga dibutuhkannya sebuah kreativitas yang dimiliki dalam diri siswa tersebut.

 

In reply to Prof. Dr. Dra. Wening Sahayu, M.Pd. 196408121988122001

Re: Meningkatkan keberanian peserta didik untuk mengemukakan pendapat

by INGGRID PRINSIA MAHARANI 16203241001 -

Selamat siang Frau Wening, berikut adalah pendapat saya tentang metode yang tepat bagi siswa yang kurang berani mengemukakan pendapatnya dalam pembelajaran Bahasa Jerman.

1. Faktor-faktor yang menjadi penghambat peserta didik untuk mengemukakan pendapatnya terkait isi teks/wacana/topik dalam pembelajaran keterampilan adalah:
- Faktor internal, yaitu yang berkaitan dengan hal-hal yang ada di dalam diri siswa. Misalnya keadaan psikologi atau kepribadian siswa. Siswa yang memiliki kepribadian pemalu atau pendiam akan lebih susah untuk mengemukakan pendapatnya, terutama dalam mempelajari bahasa asing. Mereka pasti akan merasa terbebani untuk berbicara dan untuk mengemukakan pendapatnya, berbeda dengan anak yang memiliki kepribadian yang mudah bergaul, mereka akan lebih mudah mengemukakan pendapatmnya.
- Faktor eksternal, yaitu faktor-faktor yang berasal dari luar. Misalnya, keadaan kelas yang kurang kondusif atau guru yang tidak mengayomi siswa-siswanya. Hal-hal ini dapat menghambat siswa untuk mengemukakan pendapatnya. Cara guru mengajar juga sangat berpengaruh. Jika guru hanya menggunakan metode yang tidak memberikan kesempatan bagi siswa untuk berbicara, maka siswa akan menjadi kurang terbiasa untuk berbicara dalam bahasa asing. Kepercayaan diri mereka pun akan berkurang karena tidak terbiasa.

2. Solusi untuk mengatasi hambatan di atas adalah:
- Guru memegang peran penting. Guru harus bisa mengayomi, memperhatikan siswanya satu per satu, dan guru harus senantiasa mengajar dengan metode yang mengasyikkan agar siswa tidak cepat bosan dan lebih aktif di kelas.
- Siswa harus menanamkan sifat percaya diri dalam dirinya masing-masing.
- Metode pembelajaran yang digunakan harus tepat.

3. Salah satu contoh metode pembelajaran keterampilan berbicara yang saya pilih adalah Task Based. Metode ini menekankan pada pembelajaran bahasa yang didasarkan pada tugas yang diberikan guru. Task-based language learning (TBLL) adalah metode instruksi yang memfokuskan pada penggunaan bahasa yang otentik (asli), dan siswa melakukan tugas-tugas dengan tujuan tertentu menggunakan bahasa yang ingin dipelajari, contohnya mengunjungi dokter, melakukan interview, atau menelepon customer service untuk mendapatkan bantuan.

Langkah-langkah dalam TBLL dibagi menjadi tiga fase, yaitu pre-task phase (fase sebelum mengerjakan tugas), doing of the task (fase saat mengerjakan tugas), dan post-task phase (fase setelah mengerjakan tugas). Digabungkan ketiga fase ini membentuk siklus tugas. Peran utama guru berubah dari fase ke fase.

4. Menurut saya metode Task Based Language Learning ini sangat mengedepankan kreativitas siswa karena dengan metode berbasis tugas siswa dituntut untuk bereaksi secara spontan. Misalnya, siswa diberi tugas untuk melatihkan keterampilan berbicara mereka dalam situasi memesan makanan di restoran. Secara spontan mereka harus tahu kata-kata yang digunakan dalam situasi tersebut.

In reply to Prof. Dr. Dra. Wening Sahayu, M.Pd. 196408121988122001

Re: Meningkatkan keberanian peserta didik untuk mengemukakan pendapat

by WINDA ISMIYATUN 16203241007 -

Faktor yang menjadi penghambat peserta didik untuk mengemukakan pendapat terkait isi teks/wacana/ topik menurut saya adalah takut mengemukakan pendapatnya karena bingung cara menyampaikannya (tidak dapat berbahasa dengan baik) dan takut jika pendapatnya itu disalahkan.

 

Solusinya : Guru sebagai fasilitator adalah meyakinkan siswa bahwa mereka tidak akan disalahkan, ditertawakan, atau dipermalukan jika salah. Namanya saja belajar, wajar kalau masih salah. Apabila salah, guru cukup katakan "belum tepat", bukan "salah". Tidak perlu terlalu ditekankan bahwa mereka salah karena akan membuat nyali ciut untuk mengemukakan pendapat.

 

Lalu menurut saya metode yang tepat untuk pembelajaran keterampilan berbicara yang mengedepankan peningkatan sisi kreatif adalah metode Probing-Prompting Learning. Langkah-langkahnya yaitu:

1. Guru menghadapkan siswa pada situasi baru, misalkan dengan membeberkan gambar, rumus, atau situasi lainnya yang mengandung permasalahan.

2. Menunggu beberapa saat untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk merumuskan jawaban atau melakukan diskusi kecil dalam merumuskan permasalahan.

3. Guru mengajukan persoalan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus (TPK) atau indikator kepada seluruh siswa.

4. Menunggu beberapa saat untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk merumuskan jawaban atau melakukan diskusi kecil.

5. Menunjuk salah satu siswa untuk menjawab pertanyaan.

6. Jika jawabannya tepat, maka guru meminta tanggapan kepada siswa lain tentang jawaban tersebut untuk meyakinkan bahwa seluruh siswa terlibat dalam kegiatan yang sedang berlangsung. Namun, jika siswa tersebut mengalami kemacetan jawaban atau jawaban yang diberikan kurang tepat, tidak tepat, atau diam, maka guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain yang jawabannya merupakan petunjuk jalan penyelesaian jawaban. Kemudian, guru memberikan pertanyaan yang menuntut siswa berpikir pada tingkat yang lebih tinggi, hingga siswa dapat menjawab pertanyaan sesuai dengan kompetensi dasar atau indikator. Pertanyaan yang diajukan pada langkah keenam ini sebaiknya diberikan pada beberapa siswa yang berbeda agar seluruh siswa terlibat dalam seluruh kegiatan probing prompting.

7. Guru mengajukan pertanyaan akhir pada siswa yang berbeda untuk lebih menekankan bahwa TPK/indikator tersebut benar-benar telah dipahami oleh seluruh siswa.

 

 

Saya berpendapat metode Probing-Prompting Learning mengedepankan sisi kreativitas karena metode tersebut menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali gagasan siswa sehingga dapat menaikkan proses berpikir yang kreatif yang mampu mengaitkan pengetahuan dan pengalaman siswa dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari.

In reply to Prof. Dr. Dra. Wening Sahayu, M.Pd. 196408121988122001

Re: Meningkatkan keberanian peserta didik untuk mengemukakan pendapat

by ZAENUNNNI HAYAH MARIFAH 16203241006 -
Hallo, selamat malam Frau Wening. Berikut saya akan mengemukakan pendapat terkait dengan metode pembelajaran keterampilan berbicara. Menurut saya saat ini masih banyak siswa yang tidak/belum percaya diri dalam mengemukakan pendapat di depan umum. Selain tidak percaya diri, siswa juga terkadang masih merasa malu dan takut salah. Hal itu disebabkan karena kebiasaan dari Sekolah Dasar yang dibawa sampai Sekolah Menengah Atas, yaitu kebiasaan siswa yang dituntut untuk tenang, dan hanya memperhatikan guru yang sedang menjelaskan. Ketika ada siswa yang berisik saat guru sedang menjelaskan maka siswa tersebut akan dimarahi. Tidak hanya disebabkan oleh siswa yang kurang percaya diri, malu, dan takut salah. Faktor lain yang menghambat siswa dalam mengemukakan pendapat bisa juga berasal dari guru. Kemungkinan saat mengajar guru menggunakan metode ceramah, yang mana siswa hanya diperbolehkan untuk mendengarkan, memperhatikan, serta mencatat apa saja yang dijelaskan oleh guru. Selain itu guru yang saat mengajarnya itu monoton/membosankan pun membuat siswa pasif dan tidak bersemangat dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Solusi agar peserta didik mampu mengemukakan pendapat diantaranya: guru harus mengganti metode pembelajaran ceramah ke metode pembelajaran yang baru, yaitu metode yang lebih menuntut siswa untuk aktif dan banyak berpartisipasi dalam kelas, selain itu guru juga harus memberikan kesempatan peserta didik untuk berpendapat, sehingga peserta didik mampu mengemukakan pendapat dengan kreatif, percaya diri, dan kritis. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk keterampilan berbicara yakni Metode Pembelajaran Kooperatif tipe STAD (Student Team Achievment Division). Metode pembelajaran STAD ini sangat sederhana dan sangat cocok digunakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa karena metode ini menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk lreatif, saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Keunggulan dari metode pembelajaran STAD dapat dijabarkan sebagai berikut. a. Siswa berperan aktif dalam membantu dan memberikan motivasi semangat untuk keberhasilan bersama dalam kelompok. b. Interaksi yang terjadi antara siswa seiring dengan peningkatan kemampuan siswa dalam menyampaikan suatu pendapat. c. Membantu siswa dalam memudahkan untuk melakukan penyesuaian. d. Mampu meningkatkan perasaan saling percaya di antara anggota kelompok dan lebih luas, di antara sesama manusia. e. Membantu siswa menghilangkan sifat yang suka mementingkan diri sendiri dan egois terhadap orang lain. f. Mampu meningkatkan kepekaan terhadap lingkungan sosial dan kesetiakawanan dalam lingkungan sosial. g. Siswa dapat berperan aktif sebagai seorang tutor sebaya. Sehingga kelompok menjadi lebih berhasil untuk mencapai prestasi. h. Siswa dapat saling bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok, dengan cara menjunjung tinggi norma – norma yang hidup dalam kelompok.