Section outline

  • Highlighted

    Dalam Topik ini kita akaan membicarakan implementasi Ilmu dalam Pendidikan Seni dan Seni. Sebagai acuan adalah buku ' Art and Konwledge '. Buku ini banyak mengungkap konsep ilmu dan seni; selama ini seni ditempatkan berada di luar ilmu, karena seni merupakan praktek mencipta.

    Apakah benar demikian?

    Seni dalam kerangka keilmuanyang digelar oleh David Cassidy digolongkan ke dalam Polus Humanistik dan Filsafat. Konstelasi ini memberikan pengertian bahwa seni itu dasar  pengetahuan yang dimulai dari kepercayaan dan sebagianmasuk  ke ranah humanistik sebagai ungkapan rasa. Pemahaman selama ini memang digolongkan sebagain pengetahuan umum. Di samping itu, seni hadir bukan sebagainkebutuhan poko, melainkan kebutuhan sekunder, maka kehadirannya sebagai manasuka. Pendapat demikian ini menyebabkan seni digolongkan tidak ilmiah. KarlYoung dalam 'Art and Konowledge' mengidentifikasi  dari cara-cipta yang sebenarnya memerlukan pola unik, sehingga masuk dalam bilangan konsep berpikir. Apakah demikian?

    Seni itu hadir karena latar belakang penciptaan seorang seniman yang ingin berbicara kepada orang lain (art as a language ) dari sini seniman mengemas pesan ke dalam simbol-simbol unik berdasarkan kebutuhan saat itu;ada yang menyatakan dalam gerak, suara, rupa atau penampilan. Kesemuanya merupakan representasi dari kondisi yang sesungguhnya. Namun, dengan kreatifitas dan gaya ekspresinya inilah seniman mengkreasikan objek menjadi berbeda karena proses representasi tersebut. Ketika representasi dilakukan, seniman mencoba menggabungkan infoermasi dan fakta sebagai delik pengembangan ide estetiknya. Kemudian melalui kemampuan teknik yang dipelajari akan menemukan sesuatu bentuk yang baru. Di sinilah proses berpikir muncul dan bahkan berpikir tingkat tinggi (high order thinking) dan sulit dideteksi; hal ini disebabkan oleh pemikiran-pemikiran seniman yang dikemas harus menarik, sehingga tugas befikutnya adalah menciptakan kemenarikan. Hal ini berbeda dengan ilmu (science) yang hadir begitu saja setelah pengujian sistematikanya dianggap selesai. Seni mempunyai sistematika yang berbeda dengan ilmu, namun tetap menggelar konsep-konsep yang dalam dan tinggi. Dalam karena seni hadir melalui rasa dan tinggi sebenarnya proses simbolisasi sebagai dasar pengunggahan ide kreatif dengan pikiran yang unik.

    Jika sebuah karya ilmiah struktur karya menjadi teratur karena harus mengikuti pola kerja sistematis dan runtut, sedangkan karya seni ketika akan mengabadikan ide terpaksa tidak runtut dan urut karena ekspresi (kehendak- desire) tidak dapat dikendalikan. Inilah perbedaan utamanya. Seni menjadi bersifat personal, berbeda deengan ilmu yang bersifat komunal. Maka, selanjutnya untuk menjelaskan secara rinci dapat dikemukakan dengan mengambil contoh Seni dalam bidang berkesenian dan pendidikan seni.

    Beberapa Filsuf Barat menghubungkap sistem keilmuan secara positivistik, artinya disusun berdasarkan kerangka sistematik berpikir yang urut; hal ini berbeda dengan filsuf Timur (Muhammad Iqbal). Iqbal berpendapat bahwa dunia ini terdiri akan dua faktor, yaitu benda-benda dan perubahannya. Terdapat kenyataan bahwa, waktu akan berbeda dalam level pengalaman yang berbeda dalam wujud yang sama. Dengan pemahaman tersebut apakah mungkin memandang benda-benda dengan melepaskannya dari perubahan yang dipengaruhi waktu dan ruang. Ketika ada perubahan, maka ada yang dinamakan waktu, dan dari sinilah secara tidak langsung ruang dan waktu menjadi subjektif. Subjektivitas ini  tidak diakui oleh Barat. Pengetahuan hanya merupakan fenomena atau hanyalah sesuatu yang nampak oleh manusia, kemungkinan mengenai pengetahuan noumena, atau tentang benda-benda dalam dirinya (benda itu) sendiri. Ruang wujud manusia dapat diukur ke dalam tiga dimensi: panjang, lebar, dan dalam. Dari hal tersebut, menurutnya terdapat kemungkinan untuk mempersempit atau menambah dimensi-dimensi tersebut dengan cara menambah atau mengurangi indera dan kemampuan psikis manusia.

    Muhammad Iqbal kemudian mengeluarkan pendapat akan adanya bentuk atau level pengetahuan yang lain, dan pengalaman normal bukanlah tahap akhir dari pengalaman. Oleh karena itu, menurutnya metafisika harus dianggap mungkin bila ada kemungkinan level pengalaman lainnya. Level di mana penampakan realitas dasar merupakan realitas sebagaimana dirinya sendiri, tanpa dipengaruhi determinasi temporal-spasial.(file:///C:/Users/HAJARP~1/AppData/Local/Temp/37-329-2-PB.pdf)

    Untuk menemukan prinsip keilmuan Pendidikn Seni diangkapkan dalam 2 topik:

    1. Hubungan filsafat ilmu dengan bidang keilmuan pendidikan seni
    2. Fungsi dan arah filsafat ilmu dalam konteks keilmuan pendidikan seni