Dalam sebuah organisasi atau perusahaan, berkumpulnya orang-orang dengan karakteristik dan latar belakang yang berbeda dapat memberi pengaruh yang positif jika dikelola dengan baik. Karakteristik ini dapat berpengaruh terhadap nilai-nilai dan persepsi individu pada diri sendiri dan orang lain, seperti gender, ras, kemampuan, pengalaman kerja dan asal daerah. Pada dasarnya, keragaman dapat membawa keuntungan bagi perusahaan tersebut terutama saat melayani pelanggan yang juga beragam dan berasal dari segala daerah sehingga dalam menyusun strategi bisnis akan lebih mudah dilakukan. Dalam menghadapi keragaman karyawan dalam perusahaan, diperlukan strategi khusus, sehingga karyawan dari latar belakang yang berbeda merasa diperlakukan secara fair.
Jelaskan peran Belief dalam meningkatkan kinerja karyawan dan komitmen organisasinya! LILIS KURNIA SARI
Jelaskan peran Value dalam meningkatkan kinerja karyawan dan komitmen organisasinya! NOVA TRY ANTI
Jelaskan peran Personality dalam meningkatkan kinerja karyawan dan komitmen organisasinya! AMARENDRA GANA A.W
jelaskan mengapa terjadi sering terjadi Over Discrimination (Diskriminasi jahat) dalam perusahaan yang memiliki keragaman individu karyawan! ELBAGUS TOMMYN W.
jelaskan apa penyebab sering terjadinya sexual harassment di dunia kerja! MUKHLIS ABROR
- Jelaskan Peran Belief dalam meningkatkan kinerja karyawan dan komitmen
Belief merupakan sebuah kepercayaan. Belief System adalah sesuatu yang di yakini dan di anggap benar. Belief System bertindak seperti saringan pada otak, yang menyebabkan individu melihat orang lain maupun dunia menurut cara tertentu tergantung apa yang ada dalam pikiran individu tersebut. Peran Belief dalam hal ini dapat mempengaruhi realita individu, dan mempengaruhi tindakan sindividu tersebut .
Individu meniru atau mencontoh apa yang ada disekitarnya, dan hasilnya sangat peka terhadap pengaruh external. Di perusahaan seorang karyawan pertama kali dipengaruhi oleh atasan, dan lingkungan perusahaan. Pada proses adaptasi, individu belajar dari atasan tentang apa yang dapat dan tidak dapat kita lakukan. Semua informasi terekam oleh panca indera karyawan tersebut, misalnya: apa yang dilihat (visual), didengar(auditory), maupun yang dirasakan (kinestetik).
Dalam hal ini seorang manajer bisa meningkatkan kinerja karyawan dan komitmen melalui tindakannya yang meyakinkan. Bisa dari nilai diri kita sebagai seorang manajer apakah diri kita seseorang yang optimis atau pesimis? Apakah kita orang yang tenang atau pemarah? Dalam hal ini belief juga berperan sebagai motivasi. Seorang manajer harus bisa memotivasi karyawan melalui dirinya sendiri, menunjukkan bahwa dirinya dapat diyakini dalam melaksanakan tugas dan mencapai keberhasilan atau kesuksesan. Agar dapat dipercaya, seorang manager harus yakin dengan dirinya sendiri terlebih dahulu, misalnya seorang manajer harus yakin bahwa apapun mungkin saja terjadi. Manajer harus tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, kemudian mempertahankannya hingga mencapai sukses. Manajer harus berfikir “kalau anda ingin sukses, anda harus percaya anda bisa sukses”. Sehingga belief disini dapat dicontoh dari seorang manajer yang menanamkan bahwa “Sukses adalah suatu keterampilan dan dapat dipelajari oleh siapapun”. Pada akhirya seorang karyawan akan meniru atau belajar dari atasan yang sukses tersebut, yang membuat karyawan terus belajar dan mencari tahu strategi-strategi untuk meningkatkan kemampuan. Sedangkan komitmen dapat terbentuk dengan sendirinya ketika kepercayaan atau belief telah ditemukan oleh seorang karyawan.
Pertanyaan : Jelaskan apa penyebab sering terjadinya sexual harassment di dunia kerja!
Jawab :
Pelecehan seksual adalah suatu keadaan yang tidak bisa diterima, baik secara lisan, fisik atau isyarat seksual, pernyataan yang bersifat menghina secara tegas, atau keterangan secara seksual bersifat membedakan dibuat oleh seseorang yang menyerang pada pekerja yang terlibat, dimana menyebabkan pekerja tersebut merasa terancam, dipermalukan,dibodohi, dilecehkan, atau melemahkan kondisi keamanan kerja atau menciptakan ancaman atau intimidasi lingkungan kerja.
Pelecehan seksual dapat terjadi di berbagai konteks kerja, seperti: pabrik, sekolah/universitas, dan berbagai bidang bisnis. Industri jasa dan hiburan cukup menghadapi resiko pelecehan seksual yang cukup tinggi (Wikipedia, 2015; Yeater, & O’Donohue, 1999). Misalkan, demi bisa mendapatkan pekerjaan menjadi artis, harus mau melayani keinginan seksual calon Bos; atau pelayan diminta mau melayani keinginan seksual tamu karena dijanjikan uang/hadiah.
Pelecehan seksual di tempat kerja dapat terjadi dalam relasi antar pribadi di dalam konteks lingkungan kerja; artinya, pelaku dan korban biasanya saling mengenal satu dengan yang lain, misalkan: atasan-bawahan, antara kolega, pemberi layanan-pengguna layanan. Namun dapat juga dilakukan oleh orang yang tidak dikenal yang juga berada di lingkungan kerja, misalkan: tamu hotel.
Peristiwa pelecehan seksual di tempat kerja dapat terjadi karena kesalahan pemahaman (misunderstanding) dalam komunikasi.
- pelaku merasa telah menjelaskan maksud dan keinginannya , namun tidak dipahami jelas oleh korban, sehingga dipahami sebagai pelecehan seksual.
- Korban merasa telah menyatakan tidak menginginkan pelaku meneruskan lelucon/komentar/permintaannya, namun tidak jelas; akibatnya pelaku tidak memahami dan terus melakukan perilaku pelecehannya.
- Korban merasa lelucon seks tidak lucu dan merugikan, namun tidak mampu menjelaskan posisinya akhirnya bersikap pasrah. Hal ini malah dianggap penerimaan dan persetujuan korban oleh pelaku, maka pelaku malah berperilaku semakin menjadi.
Jika hal ini terjadi, maka yang perlu dilakukan adalah memperbaiki komunikasi di lingkungan kerja. Seluruh pekerja harus memahami isu-isu sensitif di bidang kerja yang beresiko menjadi pelecehan seksual. Lalu pekerja akan berusaha untuk mencegah agar faktor beresiko tidak berkembang menjadi perilaku pelecehan seksual yang akan merugikan korban dan nama baik institusi kerjanya.
Nova Try Anti/16808144026
Nilai-nilai korporat (corporate value) berkaitan erat dengan pemberdayaan karyawan dalam suatu perusahaan. Semakin kuat nilai korporat, maka semakin besar dorongan para karyawan untuk maju bersama dengan perusahaan. Berdasarkan hal tersebut, pengenalan, penciptaan, dan pengembangan nilai-nilai korporet dalam suatu perusahaan mutlak diperlukan dalam rangka membangun perusahaan yang efektif dan efisien sesuai dengan visi dan misi yang hendak dicapai. Apabila kita membahas corporate value, maka secara tidak langsung akan berhubungan dengan budaya organisasi (organizational culture).
Menurut Robert G.owens dalam bukunya organizational behavior in education mengemukakan definisi budaya menurut Terrence Deal dan Allan Kennedy sebagai berikut “culture is a system of shared values and benefit that interact with an organization’s people, organizational structures, and control system to produce behavioral norms”. Dengan kata lain budaya adalah suatu system pembagian nilai dan kepercayaan yang berinteraksi dengan orang dalam sutu organisasi, struktur organisasi, dan system control yang menghasilkan norma perilaku. Nilai-nilai korporat sangat berkaitan dengan tujuan perusahaan, oleh karena itu para karyawan perlu memahami tujuan perusahaan tersebut. Sehingga akan terbentuk iklim perusahaan yang kondusif. Dampak dari nilai korporat yang membudaya di lingkungan organisasi akan memotivasi karyawan yang biasanya mereka akan berusaha secara maksimal untuk melaksanakan pekerjaan mereka dengan dedikasi dan semangat yang tinggi.
Corporate value adalah nilai-nilai dalam perusahaan yang dapat memotivasi karyawan guna mencapai tujuan perusahan. Corporate value dirumuskan oleh manajement tingkat atas dan dirancang untuk mencapai tujuan perusahaan secara keseluruhan. Nilai-nilai yang saling berinteraksi dalam perusahaan akan mengakibatkan terbentuknya budaya organisasi.
hal itu sering terjadi karena biasanya terdapat perbedaan suku,ras,agama dan budaya dari pegawai di perusahaan tersebut. Diskriminasi jahat juga biasanya terjadi karena faktor individu diperusahaan tersebut, semisal kenaikan pangkat seseorang dan ada yang berusaha untuk menjatuhkan seseorang tersebut.
Diskriminasi dalam dunia kerja adalah hal yang terus menerus terjadi dan menjadi ancaman dalam dunia kerja. Diskriminasi dapat terjadi pada siapapun, termasuk pada diri anda. Bahkan, terkadang secara tidak sadar, anda dapat melakukan diskriminasi kepada rekan kerja anda. Seperti apa bentuk diskriminasi dalam dunia kerja dan bagaimana cara mengantisipasinya?
Pertama yang harus kita sadari, bahwa diskriminasi terjadi sebagai akibat adanya keberagaman atau diversitas dalam dunia kerja. Diskriminasi muncul karena tenaga kerja yang berada didalamnya tidak menghargai adanya perbedaan-perbedaan yang disebabkan dari adanya keberagaman tersebut, atau ketidakpengetahuan dari tenaga kerja dalam menyikapi diversitas tersebut. Ketidakpengetahuan tersebut bisa dimunculkan karena percaya begitu saja pada stereotype dan berasumsi bahwa semua stereotype tersebut adalah sama.
Salah satu bentuk diskriminasi adalah terjadinya praktek diskriminasi ataupun kebijakan yang diskriminatif yang menyebabkan tidak meratanya seseorang untuk mendapatkan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pengakuan, penghargaan atas pencapaian kinerja dan ataupun prinsip yang adil dalam melakukan penilaian kinerja. Bentuk diskriminasi yang lain adalah mengucilkan seseorang, melakukan intimidasi, melakukan penghinaan, prilaku tidak sopan atau tidak menghargai pendapat seseorang. Bahkan pelecehan seksual pun adalah sebuah bentuk diskriminasi. Diskriminasi dapat terjadi karena karakter biologis seperti umur, jenis kelamin, ras dan etnis, serta disabilitas, ataupun karena karakter lainnya seperti masa jabatan, agama, budaya, bahkan terhadap orientasi seksual dan gender.
Diskriminasi pada umur misalnya terjadi pada karyawan-karyawan yang berumur tua yang seringkali dikaitkan dengan isu produktivitas. Ketika karyawan dengan usia yang lebih tua menawarkan pengalaman, komitmen dan nilai etika yang lebih tinggi, karyawan dengan usia yang lebih tua seringkali di persepsikan sebagai karyawan yang kaku dan menolak perubahan. Karyawan yang lebih tua juga dipersepsikan atau dikait-kaitkan dengan isu kesehatan.
Diskriminasi pada jenis kelamin utamanya terjadi pada kaum wanita dan sering dikait-kaitkan dengan isu performa kinerja. Diskriminasi pada wanita juga sering dialami khususnya pada ibu hamil. Diskriminasi pada ras dan etnis terjadi karena adanya favoritism terhadap sebuah ras tertentu dan mengucilkan kesempatan orang lain hanya karena faktor ras dan etnis. Diskriminasi dengan ras dan etnis juga sama sensitifnya dengan diskriminasi yang terjadi karena agama.
Diskriminasi pada orang-orang yang mengalami ketidakberuntungan atau (mohon maaf) –cacat- juga masih merupakan salah satu kendala yang terjadi di Indonesia. Padahal berdasarkan UU No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat (UU Penyandang Cacat), dan Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.: 01.KP.01.15.2002 tentang Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Cacat di Perusahaan tertanggal 26 Februari 2002 (SE Menakertrans No. 01/2002), penyandang cacat seharusnya turut diberikan kesempatan untuk bekerja.
Diskriminasi lainnya seperti diskriminasi akibat masa jabatan atau mempertimbangkan seseorang berdasarkan senioritasnya merupakan budaya feodal warisan Belanda yang masih mewarnai perusahaan-perusahaan di Indonesia. Padahal senioritas tidaklah secara pasti menunjukkan kemampuan seseorang lebih baik daripada orang lain yang bekerja lebih sebentar dari dirinya.
Diskriminasi dapat menurunkan tingkat kepuasan seorang karyawan dalam bekerja, dapat menurunkan motivasi karyawan yang terkena diskriminasi, dan dapat meningkatkan turn over atau perpindahan karyawan. Bayangkan bila karyawan yang pindah atau resign itu adalah karyawan-karyawan yang sebenarnya punya potensi yang luar biasa.
hal itu sering terjadi karena biasanya terdapat perbedaan suku,ras,agama dan budaya dari pegawai di perusahaan tersebut. Diskriminasi jahat juga biasanya terjadi karena faktor individu diperusahaan tersebut, semisal kenaikan pangkat seseorang dan ada yang berusaha untuk menjatuhkan seseorang tersebut.