Section outline

  • Hallo Semangat Pagi

    Semoga senantiasa sehat dan penuh berkah dari Allah swt

    Senang rasanya kita bisa bertemu lagi dengan mata kuliah yang berbeda tentunya, yaitu Jurnalistik dan Teknik Reportase. 

    Mata Kuliah ini dirancang untuk membekali mahasiswa teknik peliputan jurnalistik. Semoga mahasiswa kajian media, teknik peliputan merupakan ilmu alat dan menjadi penciri bagi pengkaji jurnalistik. Tidak afdal rasanya jika seorang pembelajar komunikasi belum melakukan atau tidak bisa melakukan reportase belum sah menjadi mahasiswa komunikasi, apalagi kajian media. 

    Ok, mata kuliah ini akan diampu oleh dua dosen. Pertama oleh Profesor Suroso dan Benni Setiawan. 

    Beberapa pokok materi bahasan yang akan dibahas dalam kuliah ini adalah

    1. Pers sebagai media independen

    2. Liputan Jurnalistik untuk Kemanusiaan

    3. Teknik Liputan Jurnalistik

    4. Praktik Liputan 

    5. Karya Jurnalistik untuk hidup lebih baik. 

    Ada pun penugasan untuk lulus kuliah ini adalah

    membuat karya jurnalistik (portofolio). 

    1. Menulis opini, resensi, esai, puisi, dan lain-lain di media massa cetak/online terverfikasi dewan pers (bukan blog atau kanal penulisan tanpa kurasi editor). Minimal satu buah.

    2. Membuat konten di TikTok, YouTube, InstaStroy tentang jurnalistik dan atau konten positif lainnya.

    3. Membuat liputan jurnalistik tentang isu dan tema aktual (satu buah). 

    Demikian pengantar kuliah ini. Semoga teman-teman bersemangat untuk menyelesaikan tantangan di kelas ini. Salam sehat.

  • Hallo Teman-teman

    Pertemuan ini mari kita merefresh sejenak apa dan bagaimana pers haru bertindak.

    Ada satu tulisan yang pernah saya tulis dan merupakan rangkuman dari beberapa kajian, silahkan dibaca. 

    Menjaga Spirit Pers Sehat

    Selamat membaca dan menikmati.

  • Bahasa jurnalistik atau biasa disebut dengan bahasa pers, merupakan salah satu ragam bahasa kreatif bahasa Indonesia di samping terdapat juga ragam bahasa akademik (ilmiah, ragam bahasa usaha (bisnis), ragam bahasa filosofik, dan ragam bahasa literer (Sudaryanto, 1995). Dengan demikian bahasa jurnalistik memiliki kaidah-kaidah tersendiri yang membedakannya dengan ragam bahasa yang lain.

    Bahasa jurnalistik merupakan bahasa yang digunakan oleh wartawan (jurnalis dalam menulis karya-karya jurnalistik di media massa). (Anwar, 1991). Dengan demikian, bahasa Indonesia pada karya-karya jurnalistiklah yang bisa dikategorikan sebagai bahasa jurnalistik atau bahasa pers. Bukan karya-karya opini (artikel dan esai). Oleh karena itu jika ada wartawan yang juga ingin menulis cerpen, esai, kritik, dan opini, maka karya-karya tersebut tidak dapat digolongkan sebagai karya jurnalistik, karena karya-karya itru memiliki varian tersendiri.

    Lebih lanjut baca bahan di bawah ini

  • Hallo 

    Semangat Pagi

    Kali ini kita membahas tentang teknik Menulis Opini dan Feature

    Mengapa ini penting? 

    Menulislah maka kamu ada – Socrates

    Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah – Pramoedya Ananta Toer

    Dua kutipan di atas selayaknya mendorong kita untuk mau menulis dan berkarya.

    Bagaimana cara menulisnya? Simak catatan di bawah ini

    Semangat menulis

  • Bahasa bukan hanya mengisahkan dunia, ia juga membentuk dunia. Tak selalu gampang. Sebab sering bahasa punya hubungan dengan sesuatu yang tak selamanya nyaman: kekuasaan. Sejak akhir 1950-an, bahasa Indonesia berubah. Ia hanya berperan dengan satu pola, jadi bahasa politik yang dikuasai doktrin. Ia bukan lagi bahasa yang hidup dari percakapan yang leluasa. Ia sulit jadi bahasa yang kontemplatif, atau kocak, atau bermain-main, penuh hal yang tak terduga.

    Sejak Bung Karno meletakkan Indonesia di bawah “demokrasi terpimpin”, bahasa didominasi kata-kata yang diringkas, diiulang bersama-sama, tanpa difikirkan. Slogan dan singkatan bergemuruh: “Manipol”, “Usdek”, “nekolim”, “kontrev”, dan seterusnya. Makna kata-kata tak lagi diuraikan. Orang tak lagi diberi kesempatan menelaah, bahwa “Manipol” berasal dari “manifesto politik”, dan kita tak dirangsang untuk menilai isi manifesto itu. Kata “Usdek” sebenarnya ringkasan serangkaian kebijakan Negara, (melaksanakan Undang-undang Dasar 1945, demokrasi terpimpin, ekonomi terpimpin, kebudayaan nsional), tapi kemudian ia jadi kata tersendiri yang diucapkan secara otomatis. Orang dihimpun untuk dijejali doktrin Negara, yang dirumuskan dalam “Tubapi” —“Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi”.

    Indoktrinasi adalah alat yang efektif untuk mengendalikan pikiran. Ia disampaikan dengan sejumlah slogan yang bertubi-tubi — dan membuat orang gentar, atau merasa bersalah, untuk membantah. Hitler dan Stalin mengukuhkan kekuasaan mereka dengan mengedarkan sebuah bahasa dengan kata yang diringkas jadi akronim dan dikumandangkan: “Gestapo” dan “Stalag”, “Politbiro” dan “Proletkult”.

    Ketika “demokrasi terpimpin” diganti dengan kekerasan oleh “Orde Baru”, sifat “terpimpin”-nya dilanjutkan dengan lebih brutal. Slogan dan akronim ala Bung Karno (dan PKI) ditiadakan, tapi bahasa berubah jadi bahasa kekuasaan yang otoriter dan birokratik. Akronim yang baru beredar: “kopkamtib”, “Gestapu”, “dikbud”, “rapim” — umumnya melanjutkan akronimisasi yang dipakai dokumen militer. (Goenawan Muhamad) 

  • Hallo semua

    Apa kabar? Semoga senantiasa sehat dan penuh berkah. 

    Kali ini kita akan membahas tentang Jurnalisme Data. Namun sebelum ke sana, ada baiknya sedikit dijelaskan tentang apa itu reportase. 

    Pengertian Reportase

    Reportase artinya pemberitaan atau pelaporan. Dari kata “report” yang artinya “melaporkan” atau “memberitakan”.

    Reportase berasal dari kata reportage (Inggris). Mirriam Webster Dictionary mengartikan reportage sebagai “the act or process of reporting news” (aksi atau proses pemberitaan) dan “something (as news) that is reported” (sesuatu yang dilaporkan”.

    Kamus Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan reportase sebagai “pemberitaan”, “pelaporan, dan “laporan kejadian (berdasarkan pengamatan atau sumber tulisan).

    “Kamus Google” mengartikan reportase sebagai berikut:

    • The reporting of news, for the press and the broadcast media. Melaporkan berita untuk pers dan media penyiaran.
    • Factual presentation in a book or other text, especially when this adopts a journalistic style. Presentasi faktual di buku atau teks lainnya, khususnya ketika mengadopsi gaya jurnalistik.

    Laman Glosarium mengartikan reportase sebagai “proses pengumpulan data yang digunakan untuk penulisan karya jurnalistik”.

    Ensiklo mendefinisikan reportase sebagai berikut: reportase adalah aktivitas atau kegiatan dari reporter/jurnalis untuk turun ke lapangan melakukan observasi langsung dan tidak langsung, mengumpulkan fakta-fakta dan data mengenai sebuahperistiwa/isu yang sedang terjadi, lalu merangkainya menjadi sebuah bahan laporan/tulisan.

    Dalam konteks jurnalistik, reportase adalah proses pengumpulan data untuk menyusun berita. Reportase bisa dikatakan merupakan proses jurnalistik terpenting karena dari proses inilah terkumpul bahan-bahan atau informasi untuk diberitakan.

    Reportase adalah proses mengumpulkan data dan fakta sebuah peristiwa sebagai bahan penulisan atau penyajian berita di media massa.

    Teknik Reportase

    Teknik Reportase ada tiga:

    1. Observasi

    Teknik reportase observasi (pengamatan) yaitu wartawan langsung datang ke lokasi kejadian, mengamati, dan mengumpulkan data atau fata kejadian tersebut mengacu pada formula 5W1H.

    Pengamatan merupakan teknik reportase dengan cara mengamati baik setting maupun alur sebuah peristiwa di lapangan atau lokasi kejadian. Wartawan menggunakan semua indera saat melakukan pengamatan. Dengan terjun langsung ke lapangan, reporter akan merasakan langsung peristiwa yang terjadi di lapangan sehingga ia bisa menyampaikan informasi yang valid kepada pembaca.

    2. Wawancara

    Wawancara adalah proses reportase dengan cara bertanya kepada narsumber untuk menggali informasi atau keterangan.  Narasumber dalam wawancara bisa pengamat, pelaku, saksi, korban, dan siapa pun yang memiliki informasi.

    Wawancara merupakan bentuk reportase dengan cara mengumpulkan data berupa pendapat, pandangan, dan pengamatan seseorang tentang suatu peristiwa. Orang yang menjadi objek wawancara disebut narasumber.

    Unsur berita 5W1H menjadi pertanyaan yang wajib dalam sebuah wawancara. Rumus ini digunakan untuk mengetahui jalan sebuah peristiwa yang hendak reporter jadikan berita.

    Narasumber dalam wawwancara terbagi dua, yaitu narasumber primer (narasumber yang paling tahu dan memiliki peranan penting dalam sebuah peristiwa) dan narasumber sekunder (narasumber yang keterangannya hanya berfungsi untuk melengkapi atau mendukung).

    3. Riset Data

    Disebut juga studi literatur dan riset dokumentasi, yaitu wartawan membuka-buka arsip, buku, atau referensi terkait dengan berita yang akan ditulisnya.

    Dalam memilah bukti, semua indera kita harus terlibat untuk memilah mana yang berarti dan tidak berarti untuk mendukung suatu peristiwa.

    Riset data termasuk mencari latar belakang informasi yang bisa memperkaya sebuah tulisan atau berita.

    Jurnalisme Data

    Jika Anda pernah menyaksikan Bandersnatch, serial Black Mirror yang populer belum lama ini, tentu Anda berkontemplasi bahwa hidup bukanlah sebuah pilihan bebas yang bisa ditentukan begitu saja. Pepatah hidup adalah pilihan bukan lagi menjadi hak paling mendasar yang dimiliki Stefan Butler (Fionn Whitehead), dimana kita sebagai penonton telah berpartisipasi terhadap keputusan-keputusan yang ia ambil.

    Sejak film dimulai, kita mulai menentukan pilihan hidup Stefan. Mulai dari sarapan yang ia makan, musik yang ingin didengar, dan pilihan lainnya yang menentukan kehidupan remaja depresi tersebut. Netflix, lewat Bandersnatch, memberikan kita pengalaman menonton yang berbeda.

    Lantas, seperti Netflix yang memberikan pengalaman menonton yang berbeda, jurnalisme data (data driven journalism) juga menerapkan pendekatan yang berbeda dalam menikmati karya jurnalisme. Pendekatan tersebut membawa ke ragam pilihan bagi audiens dalam menikmati berita, seperti ikut memeriksa keakuratan informasi dan penyajian informasi lewat visualisasi data. Hal yang sama juga dialami oleh si jurnalis saat membuat karya berita.

    Jurnalisme data mengizinkan pembaca memeriksa dan menguji keakuratan informasi. Dalam penerapannya lewat media online, misalnya, sebuah tulisan akan menggiring pembaca untuk mengklik hyperlink dari data yang digunakan. Tidak hanya untuk memverifikasi tulisan tersebut, tapi juga menjadi uji klaim terhadap isu yang berkembang. Jika tidak memberikan link tautan sumber data, penulis biasanya akan mencantumkan instansi dimana data diperoleh. Badan Pusat Statistik (BPS), data kementerian, atau hasil riset Lembaga Swadaya Masyarakat (NGO) adalah beberapa contoh lembaga yang digunakan sebagai sumber bagi jurnalisme data. Kebebasan untuk menguji informasi tersebut merupakan pilihan pertama.

    Pilihan tidak hanya diberikan kepada pembaca dalam menikmati berita, namun juga jurnalis. Dulu misalnya, dalam menguji klaim atas sebuah informasi, jurnalis perlu mewawancarai pemerintah atau peneliti, kemudian percaya terhadap pendapat mereka, dan mengutipnya ke dalam tulisan. Kini, lewat jurnalisme data dan cepatnya arus informasi, jurnalis bisa membandingkan hasil wawancara dan data yang tersedia. Beberapa newsroom, yang saya tahu, seperti Tirto, Beritagar, atau Katadata bahkan melakukan support data kepada jurnalis. Dimana jurnalis yang liputan di lapangan dibantu oleh tim data yang menyediakan informasi untuk verifikasi.

    Jurnalisme data yang baik juga memberi pilihan pada jurnalis untuk mengembangkan cerita atau memvisualisasikannya lewat grafik, peta, scatter plot, dan berbagai jenis visualisasi lainnya. Ada media yang memberikan pendekatan cerita yang personal kepada pembaca, ada pula yang ingin menampilkan visualisasi yang mutakhir. Tidak ada yang salah dengan kedua pendekatan tersebut, lagi pula keduanya merupakan cara dalam menyampaikan informasi.

    Sebuah media bisa saja memproduksi laporan mendalam berbasis data yang tentunya terasa sangat personal bagi pembaca. Namun, jenis laporan ini tentunya membutuhkan waktu dalam pengerjaannya. Level kesulitan isu yang digarap juga menentukan lamanya pengerjaan laporan. Dan laporan mendalam dengan data yang kuat dan cerita yang personal tidak terbit setiap hari.

    Untuk mengakali ini, perusahaan media juga memiliki pilihan lain, yakni mengangkat isu tersebut lewat rubrik lain. Hard news dan artikel mild bisa menjadi pilihan. Ibaratnya sebagai pintu masuk pada sebuah isu besar. Pada kedua rubrik ini, pengerjaan laporan tidak memakan waktu lama dan tidak perlu pendekatan yang terlalu personal.

    Pilihan lain yang menjadi alasan kemutakhiran jurnalisme data adalah visualisasi data itu sendiri. Menampilkan visualisasi dan teknologi yang mutakhir juga sebuah pilihan dalam proses bercerita. Entah menggunakan grafik, peta, gif, animasi, dan jenis teknologi lain yang tersedia. Lantas, sama seperti newsroom yang menekankan pendekatan cerita, mereka yang fokus pada visualisasi tentu punya timeline dan alur kerja tersendiri. Mau berapa kali membuat cerita visual dalam seminggu, seperti apa jenis tulisan yang ditampilkan, dan berapa banyak grafik yang ditampilkan.

    Nah, ulasan ini adalah beberapa pilihan yang terjadi dalam proses jurnalisme dan bagaimana pembaca akan menikmatinya. Pembaca juga memiliki pilihan bermacam-macam, entah itu membaca khusyu dari awal hingga akhir, melihat grafik terlebih dahulu baru cerita, atau sekedar membaca skimming.

    Pada akhirnya, jurnalisme data membuat kita berpikir, seperti ideologi Bandersnatch. Siapa sebenarnya yang menentukan tren dan pendekatan jurnalisme kedepannya, apakah keinginan dan kebutuhan pembaca ataukah jurnalis sebagai pembuat cerita.

    (https://medium.com/@journocodersindonesia/jurnalisme-data-cara-baru-menikmati-berita-9a05f2f1e2b8

    Baca Juga Artikel ini

  • Hallo Semua
    Semoga senantiasa sehat dan penuh berkah dari Allah swt
    Hari ini kita akan melanjutkan pembasan tentang Teknik Wawancara Jurnalistik. 
    Saya mulai dengan pembahasan apa itu liputan dan reportase
    Kemudian bagaimana melakukan wawancara
    Saya juga sertakan video pendek tentang wawancara
    dari Larry King dan Andy Noya
    Semoga bermanfaat
    Liputan atau reportase merupakan salah satu kegiatan yang ditempuh wartawan atau jurnalis
    dalam pencarian bahan atau materi yang akan dijadikan berita
    Secara istilah, liputan lebih mengacu pada proses keseluruhan dalam pencarian berita.
    Sedangkan reportase bertumpu pada aspek teknikal atau keterampilan yang ditempuh untuk mendapatkan bahan berita
    Jika ditinjau dari prosesnya, ada dua liputan jurnalistik:
    Liputan terduga: penciptaan berita dari masalah-masalah yang sifatnya sudah dapat diduga sebelumnya—wartawan sbg news maker atau pembuat berita.
    Liputan tak terduga: perburuan berita atas masalah-masalah yang sifatnya tidak terduga. Wartawan sebagai news hunter atau pemburu berita.
    Wawancara pun tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Ada teknik wawancara yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuan suatu berita. Adapun keterampilan dasar dalam wawancara berita adalah sebagai berikut:
    • memahami maksud dan tujuan wawancara
    • menguasai topik dan materi wawancara
    • mampu menata organisasi wawancara, termasuk waktu wawancara
    • mampu mendeteksi kesesuaian hasil wawancara dengan proyeksi berita yang akan ditulis
    Dari segi orientasinya, wawancara berita harus bertumpu pada:
    1. Mempersiapkan outline wawancara sebagai pijakan.
    2. Memahami tata krama mewawancarai
    3. Menghindari perdebatan dengan narasumber.
    4. Menanyakan topik yang khusus/spesifik.
    5. Bertanya dalam bahasa yang singkat dan jelas.
    6. Menyesuaikan diri dengan karakter narasumber.
    7. Menjalin hubungan personal dengan narasumber.
    8. Memihak kepada narasumber.
    Sumber: Buku "Jurnalistik Terapan" karya Syarifudin Yunus (cetakan ke-4)
  • Assalamu'alaikum

    Semoga senantiasa bergembira dengan berbagai keadaan yang dialami.

    Kali ini kita akan melanjutkan perbincangan tentang Teknik Penyajian Berita.

    Menurut keluasan informasi yang diberikan reportase dibagi menjadi 3 (tiga):
    1.     Reportase Dasar (straight news)
    2.     Reportase Madya (news feature)
    3.     Reportase Lanjutan (news analysis)

    Tiga  kegiatan jurnalistik diatas ibarat sebuah rumah. Reportase Dasar mutlak dipakai dalam Reportase Madya serta Reportase Lanjutan. Tetapi tidak demikian sebaliknya. Banyak teknik-teknik Reportase Lanjutan yang tidak perlu dipakai dalam Reportase Madya dan Reportase Dasar. Demikian juga halnya teknik Reportase Madya dalam Reportase Dasar.

    Perbedaan pokok diantara ketiganya adalah cakupan informasi. Berita tidak lagi sekedar peristiwa langsung (straight) seperti pada Reportase Dasar, tetapi sudah dilengkapi dengan sosok (featured) seperti dalam Reportase Madya karena lebih luas informasinya. Atau akan menjadi Reportase Lanjutan, jika Reportase Madya tersebut dilengkapi dengan analisa (News analysis).

    Dalam penyajian berita televisi dengan sistem ROSS, reporter penyaji atau penyampai harus disebutkan, sebagai pertanggungjawaban isi naskah berita yang disajikan.

    Sistem ROSS mempunyai beberapa makna, yaitu :

     

    Reporter On the Spot and On the Screen

    Reporter berada di lokasi dan sewaktu menyajikan muncul di layar televisi.

    Reporter On the Spot and Off the Screen

    Reporter berada di lokasi dan sewaktu menyajikan tidak muncul di layar televisi.

    Reporter Off the Spot and On the Screen

    Reporter tidak berada di lokasi, tetapi dalam penyajian reporter muncul di layar televisi.

    Reporter Off the Spot and Off the Screen

    Reporter tidak berada di lokasi dan tidak muncul di layar televisi.

    Menggali Informasi

    Tugas seorang reporter pada dasarnya adalah mengumpulkan informasi, yang membantu publik untuk memahami peristiwa-peristiwa yang mempengaruhi kehidupan mereka. Penggalian informasi ini membawa sang reporter untuk melalui tiga lapisan atau tahapan peliputan:

    Lapisan pertama, adalah fakta-fakta permukaan. Seperti: siaran pers, konferensi pers, rekaman pidato, dan sebagainya. Lapisan pertama ini adalah sumber bagi fakta-fakta, yang digunakan pada sebagian besar berita. Informasi ini digali dari bahan yang disediakan dan dikontrol oleh narasumber. Oleh karena itu, isinya mungkin masih sangat sepihak. Jika reporter hanya mengandalkan informasi lapisan pertama, perbedaan antara jurnalisme dan siaran pers humas menjadi sangat tipis.

    Lapisan kedua, adalah upaya pelaporan yang dilakukan sendiri oleh si reporter. Di sini, sang reporter melakukan verifikasi, pelaporan investigatif, liputan atas peristiwa-peristiwa spontan, dan sebagainya. Di sini, peristiwa sudah bergerak di luar kontrol narasumber awal. Misalnya, ketika si reporter tidak mentah-mentah menelan begitu saja keterangan Humas PT. Lapindo Brantas, tetapi si reporter datang ke lokasi meluapnya lumpur, dan mewawancarai langsung para warga korban lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur.

    Lapisan ketiga, adalah interpretasi (penafsiran) dan analisis. Di sini si reporter menguraikan signifikansi atau arti penting suatu peristiwa, penyebab-penyebabnya, dan konsekuensinya. Publik tidak sekadar ingin tahu apa yang terjadi, tetapi mereka juga ingin tahu bagaimana dan mengapa peristiwa itu terjadi. Apa makna peristiwa itu bagi mereka, dan apa yang mungkin terjadi sesudahnya (dampak susulan dari peristiwa tersebut).

    Seorang reporter harus selalu berusaha mengamati peristiwa secara langsung, ketimbang hanya mengandalkan pada sumber-sumber lain, yang kadang-kadang berusaha memanipulasi atau memanfaatkan pers. Salah satu taktik yang dilakukan narasumber adalah mengadakan media event, yakni suatu tindakan yang sengaja dilakukan untuk menarik perhatian media.

    Verifikasi, pengecekan latar belakang, observasi langsung, dan langkah peliputan yang serius bisa memperkuat, dan kadang-kadang membenarkan bahan-bahan awal yang disediakan narasumber.

  • Halloo..Hallo...semangat pagi

    Semoga semakin hari semakin memahami materi jurnalistik dan teknik reportase.

    Bagi yang belum paham tenang saja, nanti kita akan diskusikan lebih lanjut.

    Jika tetap belum paham, eemmm, tenang masih banyak waktu untuk belajar, hehe

    Kali ini kita akan membincang tentang News Value. Apa itu news value dan bagaimana kita mewujudkan news value tersebut.

    Secara sederhana berita merupakan laporan seorang wartawan/jurnalis mengenai fakta. Karena ada banyak fakta dalam kehidupan atau realitas sosial lantas apakah fakta/realitas merupakan berita?

    Tidak. Fakta itu akan menjadi berita setelah dilaporkan oleh seorang wartawanKarena itu berita merupakan konstruksi dari sebuah fakta. Lantas seperti apa fakta yang semestinya dilaporkan wartawan lalu menjadi berita?

    Secara teoritis ada banyak sekali ukuran, namun secara umum ukuran itu dibagi dua, yakni penting dan menarik. Kemudian, seberapa penting dan menarikkah suatu peristiwa itu layak dijadikan berita?

    Maka untuk mempertimbangkan hal tersebut dibutuhkan nilai-nilai sebagai pertimbangan untuk menentukan suatu peristiwa itu layak dijadikan berita. Dalam jurnalistik nilai-nilai tersebut disebut dengan News Value (nilai berita).

    Sifat Berita:

    1. Mengarahkan (Directive),karena berita ini dapat mempengaruhi khalayak, baik disengaja atau tidak. Maka berita ini sifatnya mengarahkan
    2. Menbangkitkan Perasaan (effectife),melalui berita ini dapat membangkitkan perasaan public
    3. Memberi Informasi (Informatife), berita in harus memberi informasi tentang keadaan yang terjadi sehingga memberi gambaran jelas dan menjadi pengetahuan public.

    Objek Berita:

    Karena berita adalah laporan fakta yang ditulis oleh seorang jurnalis, maka objek beritanya adalah fakta. Dan fakta dalam jurnalsitik dikenal dalam beberapa kriteria, yaitu:

    1. Peristiwa, adalah suatu kejadian yang baru terjadi, artinya kejadian itu hanya sekali terjadi.
    2. Kasus, adalah merupakan kejadian yang tidak selesai setelah peristiwa terjadi. Maksudnya kejadian tersebut meninggalkan kejadian selanjutnya, peristiwa melahirkan peristiwa berikutnya. Maka kejadian demi kejadian tersebut disebut dengan kasus.
    3. Fenomena, adalah merupakan suatu kasus yang ternyata tidak terjadi hanya pada batas teritorial tertentu, artinya kasus tersebut sudah mewabah, terjadi dimana-mana.

    Nilai-nilai Berita (News Value):

    Secara umum nilai berita ditentukan oleh 10 komponen. Semakin banyak komponen tersebut dalam berita maka semakin besar nilai khalayak pembaca terhadap berita tersebut, secara lebih rinci dapat diringkaskan sebagai berikut:

    1. Kedekatan (Proximity), peristiwa yang memiliki kedekatan dengan khalayak, baik secara geografis maupun psikis.
    2. Bencana (Emergency), tiap manusia membutuhkan rasa aman. Dan setiap rasa aman akan menggugah perhatian setiap orang.
    3. Konflik (Conflict),ancaman terhadap rasa aman yang ditimbulkan manusia. Konflik antar individu, kelompok maupun Negara tetap akan mengugah perhatian setiap orang.
    4. Kemashuran (Prominence), biasanya rasa ingin tahu terhadap seseorang yang menjadi Public figurecukup besar.
    5. Dampak (Impact)peristiwa yang memiliki dampak langsung dalam kehidupan khalayak/masyarakat.
    6. Unik, manusia cenderung ingin tahu tentang segala hal yang unik, aneh dan lucu. Hal-hal yang belum pernah atau tak bias ditemui dalam kehidupan sehari-hari dan menarik perhatian.
    7. Baru (Actual),suatu peristiwa yang baru terjadi akan memancing minat orang untuk mengetaui.
    8. Kontroversial,suatu peristiwa yang bersifat controversial akan menarik untuk diketahui karena mengandung kejanggalan.
    9. Human Interest,derita cenderung dijahui manusia, dan derita sesame cenderung menarik minat untuk mengetahui. Karena manusia menyukai suguhan informasi yang mengesek sisi kemanusiaan.
    10. Ketegangan (Suspense),sesuatu yang membuat manusia ingin mengetahui apa yang terjadi cenderung menarik minat, karena orang ingin tahu akhir dari peristiwa.

    Namun sering kali ditemui dalam beberapa media yang melaporkan peristiwa yang sama. Ini karena perbedaan sudut pandang (angel) yang diambil wartawan dalam menulis berita.

  • Hallo Semua

    Hari ini kita akan melihat bagaimana sih wartawan itu bekerja

    Bagaimana menjadi wartawan profesi(onal)?

    Jurnalis yang baik adalah yang mau belajar. Ayo simak catatan dan video di bawah ini

    Mari menyimak beberapa artikel dan video di bawah ini.

  • Hallo Semua

    Semoga senantiasa sehat, bersemangat, dan penuh berkah

    Hari ini, kita akan belajar liputan, khususnya, mengenal membuat liputan khusus

    Apa itu liputan khusus, bagaimana mempersiapkannya? Mari kita belajar bersama.

    Merencanakan dan Mempersiapkan Liputan

    Teknik peliputan (reportase) berita merupakan hal mendasar yang perlu dikuasai para jurnalis. Teknik peliputan membahas bagaimana jurnalis merencanakan, mempersiapkan, dan melakukan peliputan. Namun, membahas teknik peliputan berarti juga membahas bagaimana cara media bekerja, sebelum mereka memutuskan untuk meliput suatu acara, kegiatan atau peristiwa.

    Setiap media memiliki apa yang disebut kriteria kelayakan berita (news value). Selain itu, mereka juga memiliki apa yang disebut kebijakan redaksional (editorial policy). Kriteria kelayakan berita itu bersifat umum (universal) dan tak jauh berbeda antara satu media dan media yang lain. Sedangkan kebijakan redaksional setiap media bisa berbeda, tergantung visi dan misi atau ideologi yang dianutnya.


    Tujuan utama perencanaan peliputan adalah memperoleh hasil peliputan yang berkualitas, layak diberitakan, dan memperoleh perhatian besar dari khalayak media, yang ujungnya tentu berimplikasi pada iklan dan pemasukan keuangan.
    Tujuan kedua yang juga penting adalah media dapat melakukan perencanaan anggaran, sebagai bagian dari langkah efisiensi operasional. Ini menjadi penting karena perusahaan media bukan cuma menjalankan fungsi sosial, tetapi sebagai sebuah industri ia juga memerlukan profit untuk bertahan hidup dan berkembang. Di tengah iklim persaingan antarmedia yang semakin ketat, efisiensi anggaran merupakan langkah krusial.

    Liputan Terjadwal dan Tidak Terjadwal
    Ada dua macam jenis liputan. Pertama, liputan peristiwa yang bisa dijadwalkan dan bisa direncanakan. Kedua, liputan peristiwa yang tak bisa dijadwalkan dan tak bisa direncanakan.
    Liputan peristiwa yang bisa dijadwalkan ada banyak jenis. Jika media Anda memperoleh undangan konferensi pers, peluncuran produk baru dari sebuah perusahaan, peliputan festival musik tertentu, atau undangan mengikuti lawatan gubernur atau bupati, itu adalah jenis liputan yang bisa dijadwalkan.
    Sedangkan liputan peristiwa yang tak bisa dijadwalkan, misalnya bencana alam (gempa bumi, tsunami, tanah longsor), kecelakaan (pesawat jatuh, kereta api terguling, kapal tenggelam, tabrakan bus), kriminalitas (perampokan, pencurian, pemerkosaan), aksi terorisme, dan sebagainya.
    Karena semua peristiwa ini tak bisa direncanakan, yang bisa dilakukan media hanyalah menyiapkan jurnalis atau desk khusus yang selalu bersiaga untuk mengantisipasi kejadian-kejadian dadakan.
    Selama tidak ada kejadian yang luar biasa, jurnalis atau desk khusus ini bukan lantas menganggur, tetapi mereka membantu melakukan liputan rutin biasa. Atau, bisa juga mereka didedikasikan untuk melakukan liputan investigatif, yang memang butuh waktu lama.

    Merencanakan Liputan
    a. Perencanaan Peliputan Jangka Pendek dan Jangka Panjang
    Dari segi waktu, perencanaan peliputan mengenal perencanaan jangka pendek dan jangka panjang. Perencanaan liputan untuk seminggu atau sebulan ke depan, termasuk perencanaan jangka pendek. Sedangkan perencanaan peliputan untuk setahun ke depan, merupakan perencanaan jangka panjang. Rentang setahun ini sudah maksimal.

    b. Perencanaan Peliputan Berdasarkan Momen Hari Besar
    Perencanaan peliputan dapat dilakukan dengan mengacu pada momen-momen tertentu, yang sudah diketahui sebelumnya. Misalnya, liputan yang terkait dengan hari-hari besar dan hari libur nasional. Perencanaan liputan untuk bulan puasa dan Idulfitri, Natal, Tahun Baru, dan sebagainya sudah bisa dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya, karena hari-hari besar itu sudah tertera di kalender.
    Ada juga momen-momen lain yang lebih khusus, seperti Hari Pendidikan Nasional (2 Mei), Hari Lingkungan Hidup Sedunia (5 Juni), Hari Bhayangkara (1 Juli), HUT TNI (5 Oktober), Hari Guru (25 November), dan Hari Hak Asasi Manusia (10 Desember), HUT Provinsi Lampung, dan HUT Kemerdekaan RI.
    Bahkan media bisa menyiapkan liputan khusus untuk mengenang atau melakukan refleksi atas momen-momen istimewa, seperti kaleidoskop akhir tahun, bencana tsunami Aceh.
    c. Perencanaan Peliputan Berdasarkan Fenomena dan Isu yang Berkembang
    Jurnalis harus peka dan kritis mengamati fenomena dan isu-isu yang berkembang dalam masyarakat. Jika ada isu atau tren yang penting dan memengaruhi kehidupan masyarakat banyak, staf redaksi harus sigap dalam mengarahkan peliputan. Bahkan, jika perlu harus siap mengubah prioritas pemberitaan karena ada isu-isu yang dipandang lebih mendesak.
    Kasus penculikan anak yang tiba-tiba marak, penemuan banyaknya anak ular cobra di permukiman, kasus terorisme yang memakan korban besar, terungkapnya korupsi besar di lingkungan pejabat, dan lain-lain, semua itu bisa mengubah arah pemberitaan.


    Oleh karena itu, harus dipahami bahwa perencanaan peliputan tidak selalu mengikuti garis linear, seperti rencana peliputan berdasarkan momen hari besar nasional. Justru “ketidakteraturan” dan adanya “unsur kejutan” inilah yang membuat dunia jurnalistik sangat dinamis, menantang, dan menarik diterjuni.
    Misalnya adalah fenomena tentang perubahan iklim. Sebagai jurnalis, kita melihat dan mencatat adanya abrasi di wilayah pesisir, cuaca yang tidak menentu, melelehnya salju di berbagai tempat di bumi, dan lain-lain. Berdasarkan kejadian ini, jurnalis bisa membuat liputan mendalam bahwa perubahan iklim tengah terjadi.

    d. Perencanaan Peliputan Berdasarkan Pertimbangan Sirkulasi
    Bagi media cetak seperti Lampung Post, tak bisa tidak jika ingin memperbesar sirkulasinya mereka harus memperbesar cakupan wilayah liputan, yang menjadi sasaran utama distribusi medianya.
    Wilayah yang menjadi sasaran itu tentunya adalah wilayah yang memiliki potensi pembaca cukup besar, baik dilihat berdasarkan populasi ataupun daya belinya. Agar media cetak itu diapresiasi dan dikonsumsi di wilayah bersangkutan, media perlu mengangkat isu-isu atau pemberitaan yang terkait dengan kepentingan atau minat pembaca di wilayah bersangkutan.
    Harian Lampung Post menyediakan halaman khusus berisi berita-berita yang terkait dengan daerah di seluruh kabupaten di Provinsi Lampung. Pembaca yang berdomisili di kabupaten akan menemukan informasi tentang daerahnya di halaman khusus tersebut.

    e. Perencanaan Peliputan Berdasarkan Pertimbangan Iklan (Marketing)
    Tren yang menguat dalam bisnis media, yang diwujudkan dalam mekanisme kerja newsroom (keredaksian) pada beberapa tahun terakhir ini, adalah semakin tipisnya sekat atau batas antara bidang keredaksian dan bidang usaha atau bisnis (mencakup pemasaran dan iklan). Terdapat koordinasi atau sinergi yang semakin erat antara kedua bidang tersebut, yang sebelumnya seolah-olah jalan sendiri-sendiri dan enggan bersinggungan.


    Sebagai contoh, sejumlah surat kabar memiliki rubrik khusus yang tampil berkala, setiap satu minggu sekali. Halaman khusus itu, misalnya, berisi mengenai otomotif, teknologi informasi, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.
    Jadi, sudah dimasukkan dalam perencanaan peliputan bahwa setiap hari Kamis akan ada rubrik dan halaman khusus kesehatan karena bagian bisnis sudah ada kontrak kerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Sejumlah staf redaksi pun ditugaskan untuk menyiapkan liputan yang terkait dengan isu-isu kesehatan. Begitu juga dengan halaman khusus seperti otomotif.

    Persiapan Liputan
    Sebelum jurnalis pergi ke lapangan untuk melakukan tugas liputan, ia harus melakukan beberapa persiapan. Sebab, tanpa melakukan persiapan, jurnalis akan bingung di lapangan dan tidak tahu harus mengumpulkan fakta apa.
    Saat berada dalam suatu peristiwa, banyak jurnalis yang bingung dan bertanya kepada temannya, apa pentingnya atau sudut pandang apa yang paling menarik untuk ditulis? Untuk menghindari persoalan di atas, jurnalis perlu melakukan beberapa persiapan.

    1. Memperbarui informasi
    Menjadi pewarta menuntut kita untuk selalu belajar sesuatu yang baru. Memang tidak perlu sangat mendalam, tetapi ada baiknya kita tahu soal-soal yang mendasar dalam pelbagai topik, misalnya politik, ekonomi, budaya, sosial, perubahan iklim. Untuk ini, pewarta harus rajin membaca, sebab membaca itu ibarat bensin yang akan memberikan energi sehingga kita dapat lancar menulis. Apalagi saat ini, pengetahuan-pengetahuan baru cepat muncul, pewarta harus selalu update! Dengan memiliki banyak pengetahuan maka kita tidak akan ‘blank’ sama sekali saat meliput pelbagai peristiwa berbeda setiap hari. Setidaknya, kita tahu, aturan-aturan dasar berkaitan dengan peristiwa yang kita liput.

    2. Melakukan riset kecil
    Jika kita memiliki waktu dan tahu persoalan spesifik yang akan kita liput, sempatkan membuat riset kecil-kecilan untuk mendalami persoalan itu. Kita bisa bertanya kepada Google. Dengan berbekal ini, kita dapat mengetahui latar peristiwa sehingga dapat menuntun kita dalam bertanya kepada narasumber dan memilih sudut pandang yang tepat. Percaya atau tidak, saat wawancara banyak pertanyaan dari jurnalis yang dimentahkan narasumber. Karena si jurnalis salah bertanya akibat tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun soal peristiwa yang diliputnya.

    3. Membuat Outline Liputan
    Membuat garis besar liputan (outline) adalah langkah penting sebelum meliput. Garis besar liputan membantu pewarta untuk fokus pada penelusuran sumber utama peristiwa. Outline terutama penting untuk membuat liputan panjang, misalnya liputan mendalam dan laporan investigasi.

    4. Mempersiapkan peralatan
    Untuk melakukan liputan, jurnalis harus membawa peralatan yang dibutuhkan, misalnya, block note dan alat tulis, alat perekam, dan kamera. Periksa apakah semua peralatan masih berfungsi dan pastikan baterai alat perekam dan ponsel cukup. Alat perekam suara sangat penting, apalagi untuk meliput peristiwa konflik. Dengan alat perekam, kita punya bukti kuat andai berita kita dipersoalkan.


    Jika melakukan liputan di suatu tempat yang jauh, siapkan pula perbekalan, terutama air minum dan makanan. Kalau melakukan peliputan di wilayah konflik, baca kembali prinsip-prinsip cara meliput yang aman agar tetap aman dan dapat menulis berita. Terakhir, jangan lupa bawa kartu identitas dan kartu pers.

    Di bawah ini link Lipsus dari beberapa media

    Berteman Widji Thukul dan Pramoedya di Sekolah Kampung Kumuh

    Jalan Terjal Memutus Kekerasan

  • Hallo Semua

    Setelah materi disampaikan, teman-teman saatnya mempraktikan ilmu reportase

    Silahkan melakukan liputan tentang apa saja, yang dekat dengan Anda.

    Tulis hasiil liputan itu sekitar 500 kata. 

    tulis dengan dengan standar liputan jurnalistik yang memadai. 

    Semangat.