Jurnalis Bukan Pekerjaan Terbuka.

Jurnalis Bukan Pekerjaan Terbuka.

by Nastiti Ajeng Priswari 18419141039 -
Number of replies: 0

Nastiti Ajeng_18419141039

Β 

Yang pertama, menurut hemat saya, saya tidak dapat menyepakati sepenuhnya atas pernyataan bahwa Jurnalis merupakan pekerjaan yang terbuka. Memang benar, di era keterbukaan informasi saat ini memungkinkan siapapun dapat melakukan kerja-kerja jurnalistik. Semua orang (sepertinya) yang memiliki akses atas informasi, mereka dapat memperoleh, mengolah, mendistribusikan, dan menyebarluaskan informasi yang mereka miliki, atau istilah kerennya citizen journalisme (jurnalisme warga). Keberadaan internet, pun sosial media, seolah semakin memanjakanΒ orang-orang untuk dapat melakukan kerja-kerja jurnalistik. Tapi bagi saya sendiri, seseorang yang melakukan kerja kejurnalistikan tidak semudah itu dapat disebut sebagai seorang Jurnalis. Menjadi Jurnalis tidak semudah mendapatkan dan menyebarluaskan informasi saja. Ada proses yang tidak instan di dalamnya, seperti proses reportase, wawancara, pengolahan data, validasi data, dan lainnya. Ada profesionalisme yang dijunjung oleh seorang Jurnalis. Jadi, apabila saya boleh berpendapat, profesi Jurnalis bukan merupakan pekerjaan yang sepenuhnya terbuka. Saya sepakat dengan pernyataan bahwa setiap orang (mungkin) dapat melakukan kerja jurnalistik. Tapi bukan berarti tiap-tiap orang yang dapat melakukan kerja-kerja jurnalistik tersebut, lantas dapat disebut sebagai seorang Jurnalis.

Β 

Yang kedua, berkaitan dengan pernyataan bahwa profesi Jurnalis merupakan profesi pembelajar, saya sangat sepakat. Seorang Jurnalis yang menjunjung profesionalitas, selalu dituntut untuk terus mempelajari sesuatu. Mengapa demikian? Karena dalam praktiknya, seorang Jurnalis akan bersinggungan dengan data, dan data tersebut diperoleh melalui proses reportase, baik wawancara, observasi, dan lainnya. Dalam prosesnya, seorang Jurnalis akan berhadapan dengan berbagai jenis situasi, bermacam narasumber, dan hal-hal yang mungkin tidak ia ketahui. Seorang jurnalis tidak mungkin hanya menghadapi satu narasumber yang sama, mengalami kesulitan yang sama, belum lagi kondisi lapangan yang dinamis di masyarakat menjadikan kita tidak mungkin terus menerus bergelut dalam satu isu yang sama. Akibat dari kedinamisan ini, juga situasi dan kondisi yang mungkin saja terjadi, seorang Jurnalis dituntut untuk harus terus mempelajari hal-hal baru atau memperdalam pengetahuan yang telah ia miliki. Akan sedikit aneh apabila seorang Jurnalis yang dalam profesinya sedang menggeluti suatu isu misalnya, tidak tahu menahu tentang isu tersebut. Menurut saya, kekritisan yang tidak dibarengi dengan peningkatan pengetahuan, hanyalah omong kosong belaka.

Β 

Terima kasih.