1. BAB 1 Pendahuluan

1.3. Bentuk-bentuk transformasi dan disrupsi yang disebabkan oleh perkembangan TIK dalam bidang Industri

Disrupsi teknologi adalah suatu inovasi yang secara signifikan mengubah bagaimana cara konsumen dan industri dalam berbisnis. Disrupsi teknologi menggantikan sistem atau pola yang sudah berjalan karena memiliki keunggulan tertentu. Istilah disruptive innovation dicetuskan pertama kali oleh Clayton M. Christensen dan Joseph Bower pada artikel "Disruptive Technologies: Catching the Wave" di jurnal Harvard Business Review (1995). Menjadi perusahaan digital membutuhkan perubahan yang jauh lebih besar daripada sekadar berinvestasi dalam teknologi terbaru. HaI ini membutuhkan perubahan dalam:

  • Model Bisnis Digital: Perusahaan perlu secara fundamental mengubah cara mengidentifikasi, mengembangkan, dan meluncurkan bisnis baru
  • Model Operasi Digital: Perusahaan perlu mengikuti pendekatan lean (ramping) untuk fungsi inti dan pendukung
  • Bakat dan Keterampilan Digital: Perusahaan perlu menarik, mempertahankan, dan mengembangkan talenta pegawai yang tepat
  • Metrik Traksi Digital: Perusahaan perlu mengadopsi metrik traksi Digital yang lebih baru karena KPI tradisional tidak lagi efektif dalam bisnis digital

 

Industri besar dipengaruhi oleh transformasi digital. Beberapa diantaranya adalah: asuransi, Perbankan dan Keuangan, Kesehatan, Manufaktur, Teknologi Informasi, Perjalanan, Transportasi dan Logistik, Eceran.

Bahasan mengenai contoh apa yang dilakukan oleh industri dalam transformasi digital ada pada penjelasan berikut :

1. Asuransi

Digitalisasi di sektor asuransi telah mengubah cara orang memanfaatkan polis asuransi. Sebagai contoh Allianz Life Indonesia memperkenalkan aplikasi digital untuk tenaga pemasar asuransi jiwa dan kesehatan, yaitu Allianz Discover. Aplikasi ini mengintegrasikan ekosistem penjualan lengkap, termasuk tools untuk interaksi dengan nasabah, mengajukan SPAJ, tracking, serta layanan untuk nasabah ke dalam perangkat tablet yang dapat dimanfaatkan oleh lebih dari 30.000 agen. Sejak diluncurkan pada bulan Januari 2015, aplikasi tersebut telah berkembang dari tools untuk mengirimkan polis asuransi jiwa secara online, menjadi pengalaman penjualan dan layanan secara digital yang menyeluruh (digital sales and service experience). Jika proses aplikasi polis asuransi jiwa menggunakan kertas konvensional membutuhkan waktu lebih dari tujuh hari sejak pengajuan hingga penerbitan polis asuransi, Allianz Discover dapat memproses aplikasi lengkap hanya dalam waktu lima menit.

2. Perbankan dan Keuangan

Adopsi digital di sektor perbankan telah membantu peningkatan dari perbankan tradisional ke pendekatan Omni-channel. Bank dan operator keuangan secara agresif memodernisasi infrastruktur teknologi untuk memungkinkan pertumbuhan saat ini dan masa depan di semua sektor bisnis. Transformasi digital lebih dari sekedar menyediakan layanan online dan mobile banking. Industri finansial perbankan perlu berinovasi dalam menggabungkan teknologi digital dengan interaksi nasabah, dalam hal ini temuan-temuan teknologi baru tersebut haruslah mempermudah dan memberikan kenyamanan bagi pengguna dalam mengakses layanan perbankan. Salah satunya adalah perbankan digital yang menggambarkan proses virtual penunjang seluruh layanannya.

Kini, banyak bank yang sudah mulai mengembangkan fitur-fitur perbankan digital mereka. Tak hanya penyediaan aplikasi dan website untuk bertransaksi saja, digitalisasi juga dilakukan pada kantor cabang. Misalnya, kini beberapa bank sudah memiliki aplikasi untuk reservasi nomor antrean, lalu untuk cetak dan ganti buku tabungan sudah bisa dilakukan lewat mesin. Bahkan untuk membuka rekening pun kini sudah dapat dilakukan secara self service oleh nasabah, tanpa harus datang ke kantor cabang. Begitu juga dengan kinerja teller, yang dulu menghitung uang secara manual, kini sudah menggunakan mesin khusus. Peralihan dunia perbankan konvensional menjadi digital dapat meningkatkan efisiensi proses kerja dan meningkatkan kualitas layanan nasabah. Apalagi, pola transaksi nasabah di zaman kini mengharuskan adanya kemudahan dalam setiap layanan perbankan. Terciptanya pasar baru dari generasi nasabah yang lebih muda juga menjadi salah satu faktor mengapa perbankan harus siap berubah. Dengan melakukan digitalisasi, bank sudah melakukan “investasi” jangka panjang untuk masa depan. Dikatakan demikian karena channel-channel digital mampu menghemat biaya cost per transaction.

3. Kesehatan

Penerimaan digital di sektor perawatan kesehatan telah merevolusi seluruh pelayanan kepada asien, mulai dari membuat janji temu hingga proses tindak lanjut, dengan cara yang baru dan menarik. Beberapa Rumah Sakit di Indonesia menerapkan sistem terintegrasi dengan SAP Electronic Medical Records and Business Process Management. Solusi ini meningkatkan rumah sakit untuk menerima informasi operasional dan klinis secara real-time yang dapat diandalkan sehingga proses pengambilan keputusan terakselerasi serta realisasi pendapatan yang optimal.
Solusi administratif dan klinis dari SAP akan berjalan di platform SAP HANA, termasuk keuangan, pengadaan, inventaris, manajemen pasien, tagihan dan rekam medis elektronik (Electronic Medical Records). (https://inet.detik.com/business/d-4296937/transformasi-digital-industri-kesehatan-di-indonesia-seperti-apa)

4. Manufaktur

Transformasi digital merevolusi cara produsen berbagi dan mengelola produk. Salah satu perusahaan manufaktur di Indonesia yang melakukan transformasi digital di Indonesia adalah PT Nutrifood. Salah satu yang dilakukan adalah implementasi transformasi digital di bagian sumber daya manusia. PT Nutrifood mengembangkan enterprise social network di media sosial sebagai peranti kerja yang menyokong pekerjaan tiap unit bisnis, seperti Divisi Penjualan dan Pemasaran. Namanya, Workplace dari Facebook, yang mewajibkan tenaga penjualan dan pemasaran menggunakan aplikasi tersebut. Selain itu, Workplace juga bisa digunakan untuk sharing knowledge, quarterly report, bahkan daily report omset (https://swa.co.id/business-champions/leaders/future-hr-leaders/herman-yosef-paryono-kreator-transformasi-digital-sdm-nutrifood)

5. Bisnis Perjalanan Wisata

Konsumen mengandalkan saluran dan platform digital untuk semua kebutuhan perjalanan mereka, mulai dari pemilihan tempat hingga pemesanan. Ini benar-benar mengubah pengalaman perjalanan wisatawan. Di industri pariwisata kegiatan search and share 70% sudah melalui platform digital. Bahkan salah satu perusahaan di Indonesia menawarkan virtual tour, yaitu jalan-jalan virtual ke berbagai destinasi favorit di Indonesia maupun mancanegara (https://industri.kontan.co.id/news/dukung-transformasi-digital-industri-pariwisata-blibli-sediakan-virtual-tour)

6. Transportasi dan Logistik

Integrasi digital telah membantu meningkatkan efisiensi, kecepatan, dan waktu, yang merupakan inti dari industri transportasi dan logistik. Salah satu perusahaan logistik di Indonesia yaitu JNE mengembangkan bisnisnya dengan melakukan perubahan di bidang teknologi. Lewat platform baru, baik konsumen maupun internal JNE dapat memantau beberapa inovasi melalui aplikasi, salah satunya adalah sistem pelaporan untuk pelacakan barang bagi para konsumen e-commerce. Hal ini memungkinkan konsumen untuk mengetahui di mana kiriman mereka berada di setiap tahap perjalanan pengiriman barang serta memberikan JNE visibilitas menyeluruh untuk keseluruhan transaksi, yang pada akhirnya menghasilkan performa yang baik serta waktu respons yang lebih cepat.                                              

(https://www.merdeka.com/uang/transformasi-digital-jne-gandeng-oracle-kembangkan-sistem-pintar-pelacakan-barang.html)

 

7. Ritel

Integrasi digital telah membantu dalam menciptakan layanan yang dipersonalisasi kepada pelanggan di sektor ritel. Salah satu usaha ritel di Indonesia yaitu PT Matahari Putra Prima MPPA menciptakan kembali bisnis berbasis online, dengan meluncurkan Hypermart Mobile, yakni sebuah aplikasi ponsel pintar untuk pembelian online, di 4 gerai di wilayah Jabodetabek hingga akhir tahun 2018 dan juga membangun Hypermart online dengan website https://shop.Hypermart.co.id. Bisnis online ini berkolaborasi dengan OVO dan Grab (Grab Delivery), yang masing-masing adalah sebuah perusahaan fintech terdepan dan penyedia jasa layanan antar berbasis komunitas di Indonesia, untuk mewujudkan pembayaran dan belanja online yang aman dan nyaman serta mampu diantar dalam waktu 30 menit di sekitar radius 5 kilometer Namun animo masyarakat belum terlihat positif dari peluncuran ini apabila dibandingkan dengan aplikasi e-commerce lainnya yang telah berjaya seperti tokopedia, shopee, JD.Id ataupun aplikasi khusus belanja keperluan dapur seperti tukangsyaur.co dan sayurbox. Basis online Hypermart pun belum memperoleh perhatian publik sehingga Hypermart harus pandai dalam mengatur keuangan agar tetap bertahan misalnya dengan efisiensi.