Section outline

  • Hallo Semua

    Semoga senantiasa sehat, bersemangat, dan penuh berkah

    Hari ini, kita akan belajar liputan, khususnya, mengenal membuat liputan khusus

    Apa itu liputan khusus, bagaimana mempersiapkannya? Mari kita belajar bersama.

    Merencanakan dan Mempersiapkan Liputan

    Teknik peliputan (reportase) berita merupakan hal mendasar yang perlu dikuasai para jurnalis. Teknik peliputan membahas bagaimana jurnalis merencanakan, mempersiapkan, dan melakukan peliputan. Namun, membahas teknik peliputan berarti juga membahas bagaimana cara media bekerja, sebelum mereka memutuskan untuk meliput suatu acara, kegiatan atau peristiwa.

    Setiap media memiliki apa yang disebut kriteria kelayakan berita (news value). Selain itu, mereka juga memiliki apa yang disebut kebijakan redaksional (editorial policy). Kriteria kelayakan berita itu bersifat umum (universal) dan tak jauh berbeda antara satu media dan media yang lain. Sedangkan kebijakan redaksional setiap media bisa berbeda, tergantung visi dan misi atau ideologi yang dianutnya.


    Tujuan utama perencanaan peliputan adalah memperoleh hasil peliputan yang berkualitas, layak diberitakan, dan memperoleh perhatian besar dari khalayak media, yang ujungnya tentu berimplikasi pada iklan dan pemasukan keuangan.
    Tujuan kedua yang juga penting adalah media dapat melakukan perencanaan anggaran, sebagai bagian dari langkah efisiensi operasional. Ini menjadi penting karena perusahaan media bukan cuma menjalankan fungsi sosial, tetapi sebagai sebuah industri ia juga memerlukan profit untuk bertahan hidup dan berkembang. Di tengah iklim persaingan antarmedia yang semakin ketat, efisiensi anggaran merupakan langkah krusial.

    Liputan Terjadwal dan Tidak Terjadwal
    Ada dua macam jenis liputan. Pertama, liputan peristiwa yang bisa dijadwalkan dan bisa direncanakan. Kedua, liputan peristiwa yang tak bisa dijadwalkan dan tak bisa direncanakan.
    Liputan peristiwa yang bisa dijadwalkan ada banyak jenis. Jika media Anda memperoleh undangan konferensi pers, peluncuran produk baru dari sebuah perusahaan, peliputan festival musik tertentu, atau undangan mengikuti lawatan gubernur atau bupati, itu adalah jenis liputan yang bisa dijadwalkan.
    Sedangkan liputan peristiwa yang tak bisa dijadwalkan, misalnya bencana alam (gempa bumi, tsunami, tanah longsor), kecelakaan (pesawat jatuh, kereta api terguling, kapal tenggelam, tabrakan bus), kriminalitas (perampokan, pencurian, pemerkosaan), aksi terorisme, dan sebagainya.
    Karena semua peristiwa ini tak bisa direncanakan, yang bisa dilakukan media hanyalah menyiapkan jurnalis atau desk khusus yang selalu bersiaga untuk mengantisipasi kejadian-kejadian dadakan.
    Selama tidak ada kejadian yang luar biasa, jurnalis atau desk khusus ini bukan lantas menganggur, tetapi mereka membantu melakukan liputan rutin biasa. Atau, bisa juga mereka didedikasikan untuk melakukan liputan investigatif, yang memang butuh waktu lama.

    Merencanakan Liputan
    a. Perencanaan Peliputan Jangka Pendek dan Jangka Panjang
    Dari segi waktu, perencanaan peliputan mengenal perencanaan jangka pendek dan jangka panjang. Perencanaan liputan untuk seminggu atau sebulan ke depan, termasuk perencanaan jangka pendek. Sedangkan perencanaan peliputan untuk setahun ke depan, merupakan perencanaan jangka panjang. Rentang setahun ini sudah maksimal.

    b. Perencanaan Peliputan Berdasarkan Momen Hari Besar
    Perencanaan peliputan dapat dilakukan dengan mengacu pada momen-momen tertentu, yang sudah diketahui sebelumnya. Misalnya, liputan yang terkait dengan hari-hari besar dan hari libur nasional. Perencanaan liputan untuk bulan puasa dan Idulfitri, Natal, Tahun Baru, dan sebagainya sudah bisa dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya, karena hari-hari besar itu sudah tertera di kalender.
    Ada juga momen-momen lain yang lebih khusus, seperti Hari Pendidikan Nasional (2 Mei), Hari Lingkungan Hidup Sedunia (5 Juni), Hari Bhayangkara (1 Juli), HUT TNI (5 Oktober), Hari Guru (25 November), dan Hari Hak Asasi Manusia (10 Desember), HUT Provinsi Lampung, dan HUT Kemerdekaan RI.
    Bahkan media bisa menyiapkan liputan khusus untuk mengenang atau melakukan refleksi atas momen-momen istimewa, seperti kaleidoskop akhir tahun, bencana tsunami Aceh.
    c. Perencanaan Peliputan Berdasarkan Fenomena dan Isu yang Berkembang
    Jurnalis harus peka dan kritis mengamati fenomena dan isu-isu yang berkembang dalam masyarakat. Jika ada isu atau tren yang penting dan memengaruhi kehidupan masyarakat banyak, staf redaksi harus sigap dalam mengarahkan peliputan. Bahkan, jika perlu harus siap mengubah prioritas pemberitaan karena ada isu-isu yang dipandang lebih mendesak.
    Kasus penculikan anak yang tiba-tiba marak, penemuan banyaknya anak ular cobra di permukiman, kasus terorisme yang memakan korban besar, terungkapnya korupsi besar di lingkungan pejabat, dan lain-lain, semua itu bisa mengubah arah pemberitaan.


    Oleh karena itu, harus dipahami bahwa perencanaan peliputan tidak selalu mengikuti garis linear, seperti rencana peliputan berdasarkan momen hari besar nasional. Justru “ketidakteraturan” dan adanya “unsur kejutan” inilah yang membuat dunia jurnalistik sangat dinamis, menantang, dan menarik diterjuni.
    Misalnya adalah fenomena tentang perubahan iklim. Sebagai jurnalis, kita melihat dan mencatat adanya abrasi di wilayah pesisir, cuaca yang tidak menentu, melelehnya salju di berbagai tempat di bumi, dan lain-lain. Berdasarkan kejadian ini, jurnalis bisa membuat liputan mendalam bahwa perubahan iklim tengah terjadi.

    d. Perencanaan Peliputan Berdasarkan Pertimbangan Sirkulasi
    Bagi media cetak seperti Lampung Post, tak bisa tidak jika ingin memperbesar sirkulasinya mereka harus memperbesar cakupan wilayah liputan, yang menjadi sasaran utama distribusi medianya.
    Wilayah yang menjadi sasaran itu tentunya adalah wilayah yang memiliki potensi pembaca cukup besar, baik dilihat berdasarkan populasi ataupun daya belinya. Agar media cetak itu diapresiasi dan dikonsumsi di wilayah bersangkutan, media perlu mengangkat isu-isu atau pemberitaan yang terkait dengan kepentingan atau minat pembaca di wilayah bersangkutan.
    Harian Lampung Post menyediakan halaman khusus berisi berita-berita yang terkait dengan daerah di seluruh kabupaten di Provinsi Lampung. Pembaca yang berdomisili di kabupaten akan menemukan informasi tentang daerahnya di halaman khusus tersebut.

    e. Perencanaan Peliputan Berdasarkan Pertimbangan Iklan (Marketing)
    Tren yang menguat dalam bisnis media, yang diwujudkan dalam mekanisme kerja newsroom (keredaksian) pada beberapa tahun terakhir ini, adalah semakin tipisnya sekat atau batas antara bidang keredaksian dan bidang usaha atau bisnis (mencakup pemasaran dan iklan). Terdapat koordinasi atau sinergi yang semakin erat antara kedua bidang tersebut, yang sebelumnya seolah-olah jalan sendiri-sendiri dan enggan bersinggungan.


    Sebagai contoh, sejumlah surat kabar memiliki rubrik khusus yang tampil berkala, setiap satu minggu sekali. Halaman khusus itu, misalnya, berisi mengenai otomotif, teknologi informasi, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.
    Jadi, sudah dimasukkan dalam perencanaan peliputan bahwa setiap hari Kamis akan ada rubrik dan halaman khusus kesehatan karena bagian bisnis sudah ada kontrak kerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Sejumlah staf redaksi pun ditugaskan untuk menyiapkan liputan yang terkait dengan isu-isu kesehatan. Begitu juga dengan halaman khusus seperti otomotif.

    Persiapan Liputan
    Sebelum jurnalis pergi ke lapangan untuk melakukan tugas liputan, ia harus melakukan beberapa persiapan. Sebab, tanpa melakukan persiapan, jurnalis akan bingung di lapangan dan tidak tahu harus mengumpulkan fakta apa.
    Saat berada dalam suatu peristiwa, banyak jurnalis yang bingung dan bertanya kepada temannya, apa pentingnya atau sudut pandang apa yang paling menarik untuk ditulis? Untuk menghindari persoalan di atas, jurnalis perlu melakukan beberapa persiapan.

    1. Memperbarui informasi
    Menjadi pewarta menuntut kita untuk selalu belajar sesuatu yang baru. Memang tidak perlu sangat mendalam, tetapi ada baiknya kita tahu soal-soal yang mendasar dalam pelbagai topik, misalnya politik, ekonomi, budaya, sosial, perubahan iklim. Untuk ini, pewarta harus rajin membaca, sebab membaca itu ibarat bensin yang akan memberikan energi sehingga kita dapat lancar menulis. Apalagi saat ini, pengetahuan-pengetahuan baru cepat muncul, pewarta harus selalu update! Dengan memiliki banyak pengetahuan maka kita tidak akan ‘blank’ sama sekali saat meliput pelbagai peristiwa berbeda setiap hari. Setidaknya, kita tahu, aturan-aturan dasar berkaitan dengan peristiwa yang kita liput.

    2. Melakukan riset kecil
    Jika kita memiliki waktu dan tahu persoalan spesifik yang akan kita liput, sempatkan membuat riset kecil-kecilan untuk mendalami persoalan itu. Kita bisa bertanya kepada Google. Dengan berbekal ini, kita dapat mengetahui latar peristiwa sehingga dapat menuntun kita dalam bertanya kepada narasumber dan memilih sudut pandang yang tepat. Percaya atau tidak, saat wawancara banyak pertanyaan dari jurnalis yang dimentahkan narasumber. Karena si jurnalis salah bertanya akibat tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun soal peristiwa yang diliputnya.

    3. Membuat Outline Liputan
    Membuat garis besar liputan (outline) adalah langkah penting sebelum meliput. Garis besar liputan membantu pewarta untuk fokus pada penelusuran sumber utama peristiwa. Outline terutama penting untuk membuat liputan panjang, misalnya liputan mendalam dan laporan investigasi.

    4. Mempersiapkan peralatan
    Untuk melakukan liputan, jurnalis harus membawa peralatan yang dibutuhkan, misalnya, block note dan alat tulis, alat perekam, dan kamera. Periksa apakah semua peralatan masih berfungsi dan pastikan baterai alat perekam dan ponsel cukup. Alat perekam suara sangat penting, apalagi untuk meliput peristiwa konflik. Dengan alat perekam, kita punya bukti kuat andai berita kita dipersoalkan.


    Jika melakukan liputan di suatu tempat yang jauh, siapkan pula perbekalan, terutama air minum dan makanan. Kalau melakukan peliputan di wilayah konflik, baca kembali prinsip-prinsip cara meliput yang aman agar tetap aman dan dapat menulis berita. Terakhir, jangan lupa bawa kartu identitas dan kartu pers.

    Di bawah ini link Lipsus dari beberapa media

    Berteman Widji Thukul dan Pramoedya di Sekolah Kampung Kumuh

    Jalan Terjal Memutus Kekerasan