Garis besar topik
-

Selamat datang di kuliah Jurnalisme Data, saya akan belajar belajar bersama Anda dalam kelas ini dalam satu semester ke depan. Nama saya Benni Setiawan, bennisetiawan@uny.ac.id.Ā
Untuk gambaran umum jurnalisme data bisa membaca catatan singkat ini.,Ā
Setiap jaman dalam peradaban manusia memiliki teknologinya sendiri karena sejatinya teknologi tidak pernah mandeg, tidak terkecuali dengan teknologi komunikasi. Terlepas dari perubahan yang terjadi di bidang teknologi komunikasi, tugas utama seorang jurnalis tidak pernah berubah. Jurnalis sebagai pekerja etis tidak ubahnya seperti seorang filsuf dan peneliti, selalu bertugas mencari kebenaran yang dapat diverifikasi. Yang senantiasa berubah adalah tantangan dalam pencarian dan penyajian kebenaran di setiap jaman. Di era digital tantangan utama jurnalis adalah fakta bahwa teknologi komunikasi yang berkembang cepat memungkinkan siapapun menjadi media. Informasi yang tersiar luas tidak hanya datang dari media massa mainstream yang bereputasi namun juga datang dari media abal-abal,Ā blogĀ personal dan media sosial. Bill Kovach dan Rosenstiel dalam bukunya yang berjudul Blur menyebut gejala ini sebagai tsunami informasi.
Tsunami informasi terjadi ketika gelombang besar informasi melibas masyarakat kita hingga masuk ke ruang-ruang pribadi melalui telepon pintar dan perangkat komunikasi digital lainnya. Produk jurnalistik ideal harus bersaing dengan berbagai produk informasi lain yang tersiar sangat cepat karena melewatkan proses verifikasi yang ideal dalam jurnalistik. Seringkali para pembuat berita hanya mengutip inti pembicaraan seorang narasumber tanpa diuji kebenarannya, yang oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel disebut sebagai jurnalisme pernyataan.
Sangat sulit bagi produk jurnalisme ideal untuk bersaing dalam hal kecepatan. Karenanya jurnalis di jaman ini dituntut untuk dapat menyajikan transparansi informasi sebagai bentuk objektivitas baru di era digital agar tetap memenangkan kepercayaan publik. Mantan Direktur Global News Division BBC, Richard Sambrook, mengemukakan bahwa transparansilah yang menciptakan kepercayaan publik pada media sekarang ini. Benar bahwa berita tetap harus akurat dan adil, namun yang jauh lebih penting adalah khalayak luas tahu bagaimana berita diproduksi?, dari mana informasi berasal?, dan bagaimana cara kerja jurnalis?.
Era big data sesungguhnya membuka banyak peluang bagi jurnalis untuk menghasilkan karya jurnalistik yang lebih menarik, rinci sekaligus kredibel karena didasari oleh analisa data yang mendalam. Analisa yang bersumber dari sejumlah data dalam ukuran besar dan diolah sesuai dengan kebutuhan, mulai dari membuat prediksi, melihat tren tertentu, mengamati perilaku konsumen hingga kemungkinan bagi penyusunan keputusan. Model pelaporan dengan melibatkan analisis dari sekumpulan data (dataset) ini disebut dengan jurnalisme data.Jurnalisme Data
Jurnalisme data dalam konteks analisis data digital untuk menghasilkan sebuah pelaporan seolah-olah merupakan hal yang baru dalam bidang jurnalistik. Dalam sejarah praktik jurnalisme data sesungguhnya sudah dilakukan sejak abad 17. Praktik jurnalisme data pertama kali dilakukan oleh Florence Nightingale, seorang perawat dalam perang Inggris di Krimea yang dulu adalah bagian dari Uni Soviet, sekarang Ukraina. Ia merilis data jumlah kematian tentara Inggris dalam perang itu di tahun 1858. Karya jurnalisme data yang tercatat berikutya adalah liputan pertama The Manchester Guardian mengenai biaya sekolah dan jumlah siswa di Manchester dan Salford, Inggris pada 1821.
ĀPraktik jurnalisme data di media TV pun sudah dilakukan di tahun 1952, yakni berupa pelaporan dengan bantuan analisis data oleh komputer yang dilakukan saluran TV CBS berupa prediksi hasil pemilihan presiden. Di tahun 1960-an jurnalis Detroit Philip Meyer menggunakan jurnalisme data untuk menunjukkan bahwa bukan hanya orang-orang Selatan yang kurang berpendidikan yang terlibat dalam kerusuhan 1967 di Detroit. Di tahun 70an muncul istilah ājurnalisme presisiā untuk menjelaskan proses pengumpulan data secara ilmiah yang menggunakan statistik. Hingga akhirnya di tahun 2000an muncul terminologi ājurnalisme dataā yang merujuk pada proses liputan berita berdasarkan statistik. Data disajikan pada khalayak melalui beragam bentuk seperti infografik, gambar, teks, video, peta atau bentuk apa pun yang sesuai dengan narasi data.
ĀMedia Barat yang menjadi pionir dalam praktik jurnalisme data di era mediaĀ onlineĀ adalah The Guardian. Di tahun 2010 mereka mengolah ribuan data perang Afganistan yang diperoleh dari Wikileaks. Media lain yang giat mengembangkan praktik jurnalisme data adalah The New York Times. Saat ini Jurnalisme data telah menjadi studi khusus di sejumlah universitas, seperti Columbia University, Stanford University, dan The University of Texas. Di Indonesia media yang mempraktikan jurnalisme data dalam peliputan investigatif yang khas adalah Tempo. Beberapa media online yang secara konsisten mempraktikan jurnalisme data saat ini antara lain Tirto.id, Katadata dan Beritagar.
ĀJurnalisme data menurut Alexander Howard adalah keseluruhan proses mengumpulkan, membersihkan, menganalisis, memvisualisasikan, hingga mengolahnya menjadi sebuah karya jurnalistik. Ia menyebutnya sebagai implementasiĀ data scienceĀ dalam ruang redaksi. Proses dari pelaporan jurnalisme data melibatkan dua tahapan yakni menganalisis data untuk memahami konteks cerita serta memvisualisasikan data dan temuan. Keunggulan praktik jurnalisme data tersebut dapat menjadi alternatif solusi bagi jurnalis untuk dapat menyajikan kebenaran dengan cara yangĀ up to dateĀ di tengah terjangan tsunami informasi. Adanya peralihan peran jurnalis dari pewarta pertama pada jurnalis yang menyampaikan realitas sebenarnya melalui pendalaman data sesuai dengan kebutuhan berita pun akan memperkuat kepercayaan khalayak.
ĀPraktik jurnalisme data di era internet pun memungkinkan kolaborasi jurnalis dari berbagai negara dalam menjawab berbagai isu global dalam bentuk analisis data mendalam. Salah satu contoh karya jurnalistik data yang cukup mencengangkan publik global adalah investigasi Panama Papers. Investigasi berdasarkan jutaan dokumen keuangan sebuah firma hukum di Panama yang mengindikasikan korupsi global ini melibatkan wartawan dari berbagai negara yang tergabung dalamĀ The International Consortium of Investigative JournalistsĀ (ICIJ). Karya jurnalistik data ini melibatkan 376 jurnalis dari 109 media dan salah satu diantaranya adalah jurnalis dan media asal Indonesia.
ĀPersoalan Etika dalam Jurnalisme Data
Praktik jurnalisme data sangat mengandalkan kekuatan data dalam menemukan kebenaran. Profesionalitas jurnalis dalam menjalankan praktik jurnalisme data di setiap tahapannya sangat menentukan kualitas kebenaran analisis data. Setiap tahapan memiliki pertimbangan etis tersendiri. Nilai-nilai etika yang menjadi dasar pertimbangan dalam jurnalisme data pada dasarnya tidak berbeda secara signifikan dari jurnalisme pada umumnya.
Dalam tahap pemillihanĀ data setĀ jurnalis harus menilai sungguh asal dan isi data terutama dalam hal validitasnya. Saat melakukan analisis data, akurasi melalui pemeriksaan yang cermat untuk menghindari bias dan sikap tidak kritis dalam melihat data menjadi sangat penting. Selain itu, sangat penting bagi jurnalis untuk memastikan bahwa dasar pemikiran dalam interpretasi data hingga menghasilkan kesimpulan adalah benar. Pada tahap publikasi hasil analisis data jurnalis harus memastikan telah melakukan verifikasi hasil analisis serta mampu menunjukkan relevansinya dengan realitas yang diangkat.Selain itu cara memvisualisasikan data dan persoalan privasi terkait data perlu dipertimbangkan secara khusus. Mencermati pertimbangan etis dalam setiap tahap kerja jurnalisme data tersebut dapat dikatakan bahwa dalam praktik jurnalisme data jurnalis sudah melakukan setidaknya tiga diantara delapan peran jurnalis dalam menghadapi tsunami informasi menurut Bill Kovach dan Rosenstiel. Pertama, sebagaiĀ authenticatorĀ jurnalis diperlukan untuk memeriksa otentisitas suatu informasi sebelum sampai pada khalayak. Kedua sebagaiĀ sense maker, di tengah terjangan gelombang informasi peran jurnalis dibutuhkan untuk menjelaskan suatu informasi benar atau malah sebaliknya. Ketiga, sebagaiĀ investigatorĀ jurnalis harus mampu melakukan investigasi untuk menyajikan kebenaran di balik suatu peristiwa.
Ketika seorang jurnalis tidak sekedar andal dalam menghasilkan produk jurnalisme data namun juga mempertimbangkan sungguh rambu-rambu etika di setiap tahapan jurnalisme data maka diharapkan kebenaran yang ditemukan pun dapat dipertanggungjawabkan secara moral. Karya jurnalistik semacam inilah yang dapat menjadi harapan bagi jurnalisme ideal di tengah tsunami infromasi.
Course ContentUrgensi jurnalismeĀ dataĀ semakin tinggi di era kelimpahan informasi saat ini. Situasi tersebut melahirkan paradoks, semakin banyak informasi, semakin sulit pula menentukan mana yang sungguh berarti. Di sinilah peran data dinilai menjadi penting dalam kerja-kerja jurnalistik.Ā
Dengan keterampilan mengolah data, fokus pekerjaan wartawan bergeser dari āorang pertama yang melaporkan suatu kejadian" menjadi orang yang menyampaikan āapa makna dari sebuah kejadianā bagi pembacanya. Dalam hal ini, kapasitas yang diperlukan dari seorang wartawan bukan lagi sebatas mencari informasi, melainkan mengelola informasi.
Pemberitaan yang menghadirkan fakta dengan data yang baik, akan membantu masyarakat memahami apa yang terjadi di suatu daerah dan di Indonesia secara keseluruhan. Mata kuliah ini dirancang untuk membelaki mahasiswa mempunyai kepekaan terhadap data, dapat mengolah data, dan menyajikan dalam sebuah ruang kerja jurnalistik.
Learning Outcomes
- Mahasiswa mampu menganalisis persoalan media di era perubahan
- Mahasiswa mampu mengkritisi berita di berbaga platfom media
- Mahasiswa mampu membuat berita sesuai kaidah jurnalisme data
References
-
Bradshaw, P. (2017). Data journalism. InĀ The Online Journalism HandbookĀ (pp. 250-280). Routledge.
-
Gray, J., Chambers, L., & Bounegru, L. (2012).Ā The data journalism handbook: How journalists can use data to improve the news. " O'Reilly Media, Inc.".
-
Bounegru, L., Chambers, L., & Gray, J. (2011). The Data Journalism Handbook.
-
Stalph, F., & Borges-Rey, E. (2018). Data journalism sustainability: An outlook on the future of data-driven reporting.Ā Digital journalism,Ā 6(8), 1078-1089.
-
Krøvel, R. (2021). The Data Journalism Handbook: Towards a Critical Data Practice: Liliana Bounegru & Jonathan Grey (Eds.), Amsterdam: Amsterdam University Press, 2021, 418 pp.⬠49, 00 (eBook PDF-⬠0, 00), ISBN: 9789462989511.
-
Hermida, A., & Young, M. L. (2019).Ā Data journalism and the regeneration of news. Routledge.
-
Royal, C., & Blasingame, D. (2015). Data journalism: An explication. InĀ International Symposium in Online JournalismĀ (Vol. 5, No. 1, pp. 24-46).
Ā
Bacaan Jurnalisme Data tersedia di sini. Silahkan akses dengan email UNYBeberapa website bisa diaksesĀ -

Salam. Semangat pagi. Semoga tetap semangat di tengah segala kondisi yang sedang dialami. Mari memulai hari ini dengan penuh dengan dan suka cita.Ā
Memahami Jurnalisme Data
Saat ini kita akan belajar mengenal lebih dekat apa itu Jurnalism Data.Ā Jurnalisme data atau dalam bahasa Inggris Data Journalism, sering pula disebut dengan data-driven journalism (jurnalisme bertumpu pada data) disingkat DDJ merupakan salah satu aktivitas jurnalistik, yang berbeda dengan jurnalistik umumnya. Pada jurnalisme sehari-hari, jurnalis mencari topik lebih dahulu untuk ditindak lanjuti ke lapangan melakukan observasi, riset, mewawancarai narasumber guna mengumpulkan bahan berita. Kemudian menguatkan laporan berita tersebut dengan data, bila diperlukan.
Sedangkan jurnalisme bertumpu pada data, diawali dengan kegiatan menemukan sekumpulan dataĀ (data set) dalam bentuk mentah, belum disortir atau belum diolah.Sekumpulan data mentah tersebut kemudian dibersihkan dan dianalisis untuk menemukan fakta menarik yang dapat dijadikan berita. Dengan demikian proses jurnalisme bertumpu pada data ini kebalikan dari proses jurnalistik umumnya.
Menurut Simon Rogers, penulis buku Facts Are Sacred, tentang jurnalisme data, āJurnalisme data adalah tentang menggunakan angka-angka untuk menyampaikan cerita terbaik. Jadi bukan tentang matematika atau menggambar bagan atau menulis kode. Anda tidak perlu lagi melulu memikirkan kata-kata. Sebaliknya ini adalah cara terbaik untuk menyampaikan cerita tersebutā.
Menurut Cherryl Phillips dari The Seattle Times:Ā āBeberapa cerita hanya dapat dipahami dan dijelaskan melalui analisisādan kadang-kadang dengan memvisualisasikan ā data. Huungan antara orang-orang atau entitas yang punya kekuasaan akan terungkap, kematian yang disebabkan oleh kebijakan obat-obatan yang tetap tersembunyi, kebijakan lingkungan yang menyakiti alam akan terus berlanjut. Tetapi masing-masing di atas telah berubah karena data yang diperoleh jurnalis, di analisis dan diberikan kepada pembaca. Data dapat sesederhana spreadsheet dasar atau daftar panggilan telepon selular, atau skor ujian sekolah yang rumit atau data infeksi di rumah sakit, tetapi di dalam itu semua adalah cerita yang layak disampaikanā.Menurut Tim Berners Lee, penemu World Wide Web:Ā ādata-driven journalism (jurnalisme bertumpu pada data) adalah masa depan. Jurnalis perlu menjadi data-savvy. Dulu terbiasa mendapatkan cerita sambi mengobrol dengan orang-orang di bar, dan sampai sekarang mungkin, bahwa suatu saat nanti anda juga akan melakukan seperti itu. Tetapi sekarang dengan cara meneliti data dan melengkapi diri anda dengan tools untuk menganalisis data dan menemukan apa saja yang menarik. Dan menjaga temuan itu dalam perspekti membantu orang-orang dengan cara mengamati bagian mana yang sejalan, dan apa yang terjadi di negeri iniā.
Fungsi Jurnalisme Data
Jurnalisme data di era teknologi ini merupakan salah satu bentuk inovasi, pendekatan baru atau teknik baru dalam menyajikan fakta berita. Penyajian fakta suatu peristiwa menggunakan data akan lebih terpercaya (reliable),Ā tak terbantahkan dan tidak menghasilkan multitafsir atas suatu fakta bila dibanding dalam bentuk kata-kata.Untuk mengerjakan jurnalisme data ini sangat bergantung pada ketersediaan data, komputer dan software pengolah data, serta tools untuk memvisualisasikannya.Fungsi jurnalisme data ini untuk menyampaikan atau menghadirkan suatu peristiwa kompleks secara utuh menggunakan pendekatan teknologi dengan hasil akhir dalam bentuk visualisasi data yang menarik mata, atraktif, interaktif, komprehensif, dan gampang dibaca. Siapa pun dapat memahami dan mengerti cerita kompleks tersebut dengan mudah. Melalui visualisasi data terlihat gambaran dimensi fakta suatu peristiwa kompleks dalam satu kesatuan visualisasi. Ā Penyajian peristiwa kompleks semacam ini tidak dapat dilakukan dengan metode jurnalisme konvensional, yang bisa menghabiskan berlembar-lembar halaman.
Penerapan Jurnalisme Data
Kegiatan jurnalisme dengan data sebagai pendukung laporan berita, sudah biasa dilakukan pada kegiatan jurnalistik sehari-hari. Biasanya data ditampilkan menyatu dengan narasi beritanya. Terkadang disajikan dalam bentuk terbatas seperti tabel atau chart.Ā Jadi penggunaan data sebagai pendukung laporan berita, memang sudah tidak asing lagi. Namun dengan adanya kemajuan teknologi dan banyak tersedia tools gratis untuk visualisasi data, maka jurnalisme data dapat digunakan untuk mendukung jurnalisme sehari-hari agar penyajiannya lebih menarik dan terpercaya.Jurnalisme data juga dapat digunakan berdampingan dengan jurnalisme investigasi. Laporan investigasi biasanya mengungkap kasus penyimpangan dengan bukti-bukti dalam bentuk data. Untuk menceritakan rumitnya kasus investigasi, misalnya : seseorang yang memiliki hubungan kedekatan dengan banyak pihak dan organisasi, kerumitan hubungan tersebut dapat digambarkan dengan ringkas menggunakan dendogram atau arc diagram. Keduanya merupakan tipe-tipe visualisasi dalam jurnalisme data yang digunakan untuk menggambarkan struktur hirarki individu atau organisasi terhadap banyak elemen.
Selain digunakan untuk mendukung kegiatan jurnalistik sehari-hari dan investigasi, teknik baru penyajian berita dengan jurnalisme data dapat berdiri sendiri sebagai satu berita. Teks hanya diperlukan untuk judul peristiwa dan caption visualisasi data. Hal demikian dapat diterapkan pada jurnalisme data karena visualisasi data-nya itu sendiri sudah menggambarkan banyak hal, dengan kata lain sudah bercerita dengan sendirinya. Terdapat banyak tipe visualisasi data dan masing-masing memiliki fungsi tersendiri. Mengenai visualisasi data, dibahas dalam tulisan terpisah.
Beberapa bacaan lain silahkan akses link di bawah ini. Ada juga video tentang apa makna jurnalisme data. Silahkan disimak. Semoga bermanfaat.

-

Jurnalistik menjadi salah satu jembatan bagi masyarakat untuk memperoleh informasi yang tepat. Namun, kini karya jurnalistik dituntut lebih cepat, tepat, menarik dan mudah dipahami masyarakat. Tantangan ini tentu tak mudah, terlebih dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat di awal abad 20. Sekarang, masyarakat biasa sudah bisa menulis informasi, dan menyebarkannya lewat media sosial masing-masing, tanpa harus masuk meja redaksi.
Seiring dengan perkembangan zaman itu, kini jurnalisme data semakin digemari. Tidak hanya menunjukkan informasi penting saja, jurnalisme data juga menampilkan visualisasi yang mudah dicerna. Melansir dari laman American Press Institute, yang membedakan karya jurnalistik dan jurnalistik data adalah pada proses dan visualisasi. Dalam artikel itu juga disebutkan visualisasi penting dalam jurnalisme data sebagai pendukung dari karya jurnalistik.
Untuk mengenal lebih jauh tentangĀ jurnalisme data, berikut penjelasan singkat mengenai data dan jurnalisme data.
Apa itu Data?
Pada dasarnya, data adalah kumpulan informasi yang berasal dari sumber tertentu. Data kerap dikaitkan dengan penelitian ilmiah. Data dapat berupa apa saja dan diperoleh dari mana saja. Lalu, apa yang membuatnya istimewa? Data, jika dibiarkan saja akan tetap menjadi data. Tapi, jika data itu dihimpun, diolah dan dianalisa, akan menghasilkan sebuah informasi. Di mana, informasi tersebut sangat penting dalam karya jurnalistik.
Untuk mendapatkan data, ada banyak cara. Salah satunya melakukan penelitian dengan berbagai macam metode. Namun, dalam jurnalisme data, jurnalis tak harus ikut terjun langsung dalam penelitian. Jurnalis bisa saja mendapatkan data dari pihak yang kompeten dan kredibel. Asalkan, data itu bisa dipertanggung jawabkan.
Apa yang Membuat Jurnalisme Data Berbeda?
Jika karya jurnalistik biasanya diperoleh dari peliputan dan wawancara, sedikit berbeda dengan jurnalistik yang berbasis pada data. American Press Institute mengutip definisi jurnalisme data yang disebutkan oleh Alex Howard dalam papernya di Tow Center. Howard menyebut, jurnalisme data terdiri dari mengumpulkan, membersihkan, menata, menganalisis, mem-visualisasi, dan menyiarkan data untuk menunjang karya jurnalistik.
Selain itu, poin terpenting dalam jurnalisme data ialah penggalian cerita. Akan percuma, jika seorang jurnalis memiliki banyak data, namun tidak dapat menemukan cerita yang menarik untuk diangkat dan menunjukkannya pada publik.
Pentingnya Data dalam Jurnalistik
Samantha Sunne dalam artikelnya di American Press Institute menuliskan betapa data itu penting dalam jurnalistik. Di antaranya:
Data Memberitahukan Cerita yang Lebih Besar
Kehadiran data membuat jurnalis lebih luas lagi memainkan cerita. Terlebih di zaman serba canggih, data makin mudah diakses, entah data nasional atau bahkan global. Jurnalis dapat memainkan perannya lebih banyak dalam jurnalisme data.
Dari data yang diperoleh, jurnalis dapat mengolah dan menganalisisnya, sehingga akan menemukan informasi baru. Misalnya saja, persoalan data mamalia laut yang terdampar di pesisir Indonesia. Data dapat diperoleh dari Kementerian Perikanan dan Kelautan, BPSPL daerah yang dituju, atau data dari lembaga non-profit yang melakukan penelitian terkait. Dari data yang diperoleh, ditemukan beberapa daerah dengan angka keterdamparan tertinggi. Ada apa dengan daerah-daerah itu? Dari pertanyaan ini, akan menjadi cerita yang lebih besar lagi.
Data Membuat Peliputan Lebih Efisien
Kemudahan akses data menjadi ājalan ninjaā bagi jurnalis. Anda bisa mengakses berbagai data terbuka milik pemerintah yang berkaitan dengan kepentingan publik lewat internet, dan tak perlu datang ke ruang arsip mereka. Tentu, kemudahan ini sangat menolong para jurnalis. Setelah mendapatkan data, jurnalis bisa langsung melakukan langkah-langkah, dari mengumpulkan hingga menganalisis data. Jika menemukan informasi baru, jurnalis bisa langsung mengonfirmasinya ke lembaga terkait. Sangat menghemat waktu dan tenaga.
Data Membuat Karya Jurnalistik Lebih āMenarikā
Tak hanya membuat karya jurnalistik menjadi lebih kredibel, data juga bisa membuat karya jurnalistik menjadi lebih menarik. Dari proses pengumpulan dan analisis, jurnalis akan menemukan informasi baru, yang mana informasi itu akan divisualisasikan. Dengan visualisasi yang menarik dan mudah dipahami, tentu, karya jurnalistik dapat diterima dengan baik oleh publik, juga informasi yang disampaikan lebih jelas.
Apa Saja yang Harus Diperhatikan dalam Penulisan Jurnalisme Data? Dan Apa Tips Agar Karya Junalisme Data Menarik?
Setelah mengetahui segala proses dalam jurnalisme data, seorang jurnalis juga harus memperhatikan beberapa poin penting sebelum melakukan peliputan dengan basis data.
- Teliti dalam mengumpulkan, menata, mengolah dan menganalisis data. Tahapan ini sangat penting, karena data dapat berupa apa saja, dan tidak melulu angka. Kesalahan dalam langkah ini, dapat membuat informasi yang diperoleh tidak valid.
- Menghubungkan data dengan baik, sehingga menghasilkan cerita yang menarik.
- Visualisasi data juga harus diperhatikan. Visualisasi data dapat berupa infografik. Perlu diingat, jangan sampai Anda membuat infografik yang tidak jelas, membuat orang lain kebingungan dan bertanya-tanya. Usahakan infografik yang dibuat dilengkapi kesimpulan dari analisis data dan peliputan yang telah dilakukan.

Ok silahkan menyimak video di bawah ini ya. Salam sehat.Ā
-
-
Data Sebagai Dasar Liputan Jurnalisme Data
-
Dibuka: Selasa, 21 Februari 2023, 00:00Jatuh tempo: Selasa, 28 Februari 2023, 00:00
-

Hallo. Apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat. Mari kita lanjutkan perbincangan tentang jurnalisme data. Kali Ini kita akan membahas tentang sejarah jurnalisme data. Melalui kajian ini, saya berharap teman-teman semakin memahami pentingnya belajar jurnalisme data.
Ketika serangan bom di MH Thamrin, Jakarta, terjadi pada 2016 lalu, saya turun ke lapangan. Saya menjadi saksi bagaimana aparat dan tim menyerbu teroris setelah ledakan untuk media tempat saya bekerja dulu,Ā CNNIndonesia.com.Ā Dua tahun berselang, ketika peristiwa bom serupa terjadi di Surabaya, saya tak lagi ada di lokasi kejadian.
Tapi bukan berarti saya tidak melaporkannya.
Dengan bantuan tim kecil, saya mencari pola peristiwa teror di Indonesia sejak 1977 hingga 2018. Kami menganalisis data yang dihimpunĀ Global Terrorism DatabeseĀ milik Universitas Maryland, Amerika Serikat, yang dilengkapi dengan riset mandiriĀ Beritagar.id. Rangkaian analisis atas statistik kejadian, jenis target, korban, hingga dugaan pelaku ini saya tuangkan dalam artikel data bertajukĀ āLain Paham Beda Sasaran dalam Terror di Indonesiaā. Ā
Model pelaporan dengan melibatkan analisis dari sekumpulan data (dataset) ini disebut dengan jurnalisme data. MenurutĀ Phillip Meyer, proses dari pelaporan jurnalisme data melibatkan dua level: 1) menganalisis data dan memahami konteks cerita; 2) memvisualisasikan data dan temuan. Lebih jauh lagi,Ā Alexander HowardĀ mendetilkan pelaporan jurnalisme data dalam proses seperti mengumpulkan, membersihkan, menganalisis, memvisualisasikan, hingga mengolahnya menjadi sebuah karya jurnalistik. Ia menyebut praktik ini sebagai implementasi dariĀ data scienceĀ dalam ruang redaksi.
ĀSejarah Jurnalisme Data
Laporan jurnalistik dengan menggunakan data bukanlah hal baru. Simon Rogers (2011: 12), mantan jurnalis dataĀ the GuardianĀ yang kini bergabung dengan Google, menyebut perawat InggrisĀ Florence NightingaleĀ juga sebagai jurnalis data. Nightingale, yang bertugas dalam perang Inggris di Krimeaādulu Uni Soviet, sekarang Ukrainaāmerilis data jumlah kematian tentara Inggris dalam perang itu pada 1858. Kalau mau ditelusuri lebih jauh,Ā The Manchester GuardianĀ mempublikasikan liputan pertama dengan data mengenai biaya sekolah dan jumlah siswa di Manchester dan Salford, Inggris pada 1821.
Pada 1970an muncul istilah ājurnalisme presisiā untuk menjelaskan proses pengumpulan data secara ilmiah menggunakan statistik. Data tersebut dianalisis dan dijadikan narasi dalam sebuah artikel berita (Gray, 2012:19). Pada 2000an, terminologi ājurnalisme dataā mulai berkembang untuk merujuk proses liputan berita berdasarkan statistik. Data inilah yang kemudian disajikan ke audiens melalui beragam bentuk seperti infografik, gambar, teks, video, peta atau bentuk apa pun yang sesuai dengan narasi data.
Panjangnya sejarah penggunaan data dalam karya jurnalistik ini membuat sejumlah pakar menganggap tak ada kebaruan praktik dari ājurnalisme dataā, kecuali dalam visualisasi. Meski demikian, sejumlah pakar lainnya tak sependapat.Ā Liliana Bounegru, merangkum pendapat sejumlah pakar lain, menyebutkan bahwa perbedaan praktik jurnalisme data terletak pada bagaimana data tersebut menjadi inti cerita dalam karya jurnalistik.
Dulu, seperti dikutip dari Bounegru, data bukan jadi poin inti utama cerita. Data hanya menjadi pelengkap cerita. Model semacam ini banyak ditemukan di kanal harianĀ Beritagar.id, misalnya seperti artikel āHakim Lasito dan rekor hakim terjerat korupsiā. Artikel tersebut menampilkan grafik berapa banyak hakim dan penegak hukum lainnya yang pernah terjerat kasus korupsi di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Data jumlah hakim bukan jadi inti cerita, tapi hanya pelengkap dari cerita bahwa ada penangkapan tangkap tangan oleh KPK terhadap Hakim Lasito. Model seperti ini mirip dengan praktik yang dilakukan Nightingale dulu.
Sementara itu, praktik jurnalisme data yang kini berkembang, sudah melibatkan teknologi tertentu dalam proses analisis dan publikasi karya jurnalistik. Jenis seperti ini banyak bermunculan dalam kanalĀ artikel LokadataĀ diĀ Beritagar.id. Contoh lain yang melibatkan proses investigasi mendalam, misalnya seperti liputan āPanama Papersā dan āParadise Papersā.Ā Dalam sebuah wawancara pribadi dengan mantanĀ Head of DataĀ diĀ The Guardian,Ā Helena Bengtsson, pengolahan data āPanama Papersā membutuhkan penyimpanan dengan enkripsi khusus dan dalam kapasitas yang besar. Pengolahannya pun melibatkan tim yang tidak sedikit. Peliputan seperti ini,Ā tidak mungkin bisa dilakukan tanpa perkembangan teknologi dan keterampilan dari wartawan yang meliput.
ĀPraktik di Ruang Redaksi
Di Indonesia, penggunaan data dalam karya jurnalistik sudah dimulai olehĀ Majalah Prisma,Ā Harian Kompas, danĀ Majalah TempoĀ puluhan tahun yang lalu. Tim penelitian dan pengembanganĀ Harian Kompas, misalnya, mulai melakukanĀ pollingĀ Pemilu pada 1970an. Hingga penulisan ini, baikĀ TempoĀ maupunĀ KompasĀ masih mempraktikkan hal tersebut dengan struktur organisasi yang sama: tim riset dan tim redaksi.
Sementara itu, praktik jurnalisme data awalnya tidak diadopsi oleh media-media daring di Indonesia. Jurnalisme data dianggap bertentangan dengan āruhā jurnalisme daring yang mengedepankan kecepatan. Padahal, proses pengumpulan dan analisis data membutuhkan waktu yang lebih lama. Alhasil, keduanya pun bentrok.
Namun, pesimisme ini ditantang oleh media baruĀ Katadata.co.idĀ yang berdiri pada 2012.Ā Katadata.co.idĀ punya tim redaksi dan tim data. Tim redaksi murni melakukan reportase lapangan dan penulisan berita, sementara tim data mengolah data menjadi beragam bentuk, baik dalam grafik yang muncul di dalam narasi berita, atau dalam rubrik khusus seperti Analisis dan Bicara Data. Tim data tidak dituntut untuk mewawancarai narasumber dan melakukan proses reportase. Meski terpisah, keduanya kerap bekerja sama dan mengawinkan liputan lapangan dengan analisis data, seperti dalam laporan mengenaiĀ waduk Kedung Ombo. Lebih jauh,Ā Katadata.co.idĀ punya portal agregasi data, yakniĀ Databoks, yang mengompilasi beragam data dari berbagai sumber dan menyajikannya dalam bentuk grafik interaktif.
Pada 2016, munculĀ Tirto.id,Ā yang berbasis artikel dan infografik. SebagaimanaĀ Katadata, Tirto.idĀ juga memiliki struktur tim riset dan redaksi.Ā Tim riset menganalisis dan menulis data keras untuk tayang di rubrik Periksa Data. Mereka juga mengembangkan riset mandiri, seperti laporan visual mengenaiĀ generasi ZĀ yang dirilis pada akhir 2017. Sementara itu, tim redaksiĀ Tirto.idĀ fokus pada liputan lapangan dan mendapat suplai data dari tim riset.
Beritagar.id,Ā yang berdiri pada 2015, menerapkan struktur organisasi yang sedikit berbeda. Selain memiliki tim data dan redaksi,Ā Beritagar.idĀ juga memiliki jurnalis data. Jurnalis data, menurut standar sekolah jurnalistik diĀ Universitas Columbia,Ā perlu terampil dalam mengambil data (scraping), analisis, hingga visualisasi. Selain itu, berbeda dari analis data atau anggota tim data lainnya, jurnalis data juga perlu menguasai reportase seperti mewawancarai narasumber atau menulis berita. MenukilĀ Scott KleinĀ dari ProPublica, jurnalis data mesti bisa mengartikulasikan data menjadi narasi. āKamu bisa mewawancarai orang, dan kamu juga bisa āmewawancaraiāĀ spreadsheetsĀ (alat analisis data).ā
Selain ketiga media tersebut, penggunaan data mulai menjamur pada 2018, seperti yang dilakukan olehĀ Kumparan.comĀ atauĀ CNBCIndonesia.com. bahkanĀ detik.comĀ juga mulai menambahkan analisis data ke dalam liputan dan artikel berita mereka.
ĀJurnalisme Duduk Perkara
Jurnalis data melakukan apa yang disebut sebagai ājurnalisme duduk perkaraā dengan berusaha melihat sesuatu secara kritis berbasiskan data. Jurnalis data bisa memulai kerja dari dua metode: peristiwa atau data itu sendiri.Ā Analisis atas kecelakaan pesawat Lion Air PK-LQPĀ yang dimuatĀ Beritagar.idĀ pada akhir Oktober 2018 lalu misalnya, dimulai dari peristiwa. Sementara laporan yang dimulai dari data itu sendiri bisa dilihat dariĀ artikel soal permainan tradisional IndonesiaĀ yang mengedepankan kecerdasan otak,Ā film hantu yang kalah populerĀ diĀ box officeĀ Indonesia sejak 1976, atau antrian jemaah haji Indonesia yangĀ mencapai 3,8 juta orang hingga 2055.
Dalam artikel data, keberadaan data menjadi hidangan utama. Kepiawaian memaknai data dan mencari cerita jadi penting bagi wartawan. Jika wartawan gagal memahami konteks di balik angka keras, atau membingkai data secara bias, maka laporan tersebut berpotensi menyesatkan publik. Karena itulah validasi hasil temuan dengan para pakar menjadi penting.
Saat saya menulis artikel data terorisme yang disebutkan di awal tulisan ini, saya harus paham lanskap aktor dan target terorisme di Indonesia. Menjadi kewajiban saya untuk tak sekadar memberikan narasi deskriptif atas data statistik yang diolah, melainkan juga memberinya konteks isu, sehingga data bisa bercerita. Jika tak paham garis waktu perubahan kelompok militan di Indonesia, maka tak dapat melihat data dengan jeli.
Misalnya, jika melihat data terror sebagai totalitas, tanpa mengkategorikannya berdasarkan garis waktu, maka bisa disimpulkan bahwa masyarakat sipil adalah target utama terror berdasarkan jumlah kasusnya. Namun, jika dibagi pembagian waktu per-2007, maka akan terjadi cerita yang berbeda. Sebelum 2007, target teror paling banyak adalah tokoh agama, rumah ibadah, dan sipil, karena pihak-pihak itulah yang menjadi musuh utama kelompok militan yang berkuasa saat itu, Jamaah Islamiyah (JI). Setelah organisasi ini tumbang, mulai masuk paham ISIS dan muncul Jaringan Ansharut Daulah dan Jaringan Ansharut Tauhid. Keduanya menyasar polisi yang dianggap sebagai pembantu pemerintah kafir atauĀ anshor thogut.Ā Ā
Kejelian dalam mengenali asumsi umum dan membandingkannya dengan data juga menjadi liputan yang menarik. Misalnya, ketika saya menulis soal anggapan bahwaĀ pesawat baru lebih aman daripada pesawat lama. Lewat ribuan data kecelakaan pesawat yang didapat dariĀ Aviation Safety Network, ternyata anggapan ini meleset. Terdapat 501 kecelakaan pesawat komersial untuk penumpang sejak 1928 hingga 28 Oktober 2018 dengan usia terbilang muda, di bawah dua tahun, yang terjadi di seluruh dunia. Nyatanya, usia bukan jaminan kecelakaan, melainkan perawatan. Temuan ini pun didukung oleh pakar penerbangan.
Wartawan perlu jeli memahami data, sehingga tak asal bicara. Perlu kritis pula untuk membaca data menjadikannya sebuah cerita dengan argumen yang bisa dipertanggungjawabkan. Pada akhirnya, seperti dinyatakan Simon Rogers, yang terpenting dalam penulisan atau penyajian berita berbasis data adalah bagaimana sang wartawan bisa memahami konteks dan menginterpretasikan data tersebut (Gray, 2012; Radcliffe, 2013). Selanjutnya, apa pun medium yang digunakan untuk menarasikan cerita: teks, video, gambar, infografik, grafik interaktif, atau bentuk lainnya, tak akan jadi masalah.[]
Beleaga, Teodora. (2013) āIn a decade or less, could not all reporters be required to be data literate?ā inĀ Data Journalism: Mapping the Future.Ā Suffolk: Abramis Academic Publishing, hal. 26-34.
Bradshaw, Paul and Rohumaa, Liisa. (2011)Ā The Online Journalism Handbook: Skills to Survive and Thrive in the Digital Age.Ā Harlow: Pearson Education Limited.
Burns, Lynette Sheridan. (2003)Ā Understanding Journalism. 2ndĀ edn. London: Sage Publications.
Felle, Tom. (2013) āOld reporting new methods: How data journalism is keeping an eye on government.ā inĀ Data Journalism: Mapping the Future.Ā Suffolk: Abramis Academic Publishing, hal. 133-148.
Gray, Jonathan, et al. (Ed). (2012)Ā The Data Journalism Handbook.Ā 2ndĀ edn. Sebastopol, CA: OāReilly Media Inc. Tersedia diĀ https://datajournalismhandbook.org/handbook/oneĀ (Diakses pada 17 Desember 2018).
Hurrel, Bella and Walton, John. (2013) āHow does that affect me? Making data personally relevant for your audience.ā inĀ Data Journalism: Mapping the Future.Ā Suffolk: Abramis Academic Publishing, hal. 19-25.
Mair, John et al. (ed.) (2013)Ā Data Journalism: Mapping the Future. Suffolk: Abramis academic publishing, hal. 15-18.
Meyer, Phillip. (2011).Ā Precision Journalism and Narrative Journalism: Toward a Unified Field Theory.Ā Teks adaptasi dari seminar kuliah di Austrian Academy of Science di Vienna. Tersedia diĀ https://niemanreports.org/articles/precision-journalism-and-narrative-journalism-toward-a-unified-field-theory/Ā (Diakses pada 17 Desember 2018).
Pelham, Guy. (2009) āMultimedia Reporting in the Field.ā inĀ The Future of JournalismĀ [Online]. Tersedia diĀ http://www.bbc.co.uk/blogs/theeditors/future_of_journalism.pdfĀ (Diakses pada 2 August 2017).
Rogers, Simon. (2011)Ā Facts are Sacred: The Power of Data.
Rogers, Simon. (2013) āWhy data journalism is a new punk?ā inĀ Data Journalism: Mapping the Future.Ā Suffolk: Abramis Academic Publishing.

-
-
Dibuka: Selasa, 21 Februari 2023, 00:00Jatuh tempo: Selasa, 28 Februari 2023, 00:00
-