Section outline
-
-
SELAMAT DATANG di pembelajaran daring STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA JAWA
Prof. Dr. Suwarna Dwijonagoro
email: suwarnadr@uny.ac.id suwarnajawa@gmail.com
suwarna dwijonagoro_mc
-
-
Prinsip: Ajarkanlah bahasa Jawa (B1) di rumah, bahasa Indonesia (B2) serahkan di sekolah. Anak akan SUKSES menguasai keduanya. Tidak mungkin anak sekolah tidak dapat berbahasa Indonesia. Sebaliknya, akan GAGAL, apabila di rumah diajarkan bahasa Indonesia, bahasa Jawa diserahkan di sekolah. BOTEN BADHE DADOS.
Activities: 3 -
SCL (Student Centre Learning) bahwa pembelajar sebagai pusat pembelajaran, subjek belajar, dan agen pembelajaran. Dalam SCL bahwa segala upaya kegiatan pembelajaran diarahkan kepada keberhasilan pembelajar dalam belajar. Penentuan strategi, pengemangan perencanaan pembelajaran, pengembangan bahan, manajemen kelas, pemilihan pendekatan, model, dan metode pembelajaran, pengembangan sarana dan prasarana, penentuan guru, pemilihan media disesuaikan dengan karaakteristik pembelajar. Oleh karena itu, seorang guru harus dapat memahami karakteristik pembelajar. Pembelajar yang berbeda menuntut perlakukan pembelajaran yang berbeda pula.
Activities: 2 -
Kesiapan kelas sangat penting dalam mendukung kesuksesan pembelajaran. Pembelajar yang siap akan lebih mudah menerima input dan menjadikan intake serta siap untuk menjadi outcome. Input-intake-outcome bahasa Jawa. Bagaimana menyiapkan kelas bahasa Jawa yang kondusif?
Activities: 2 -
Perencanaan pembelajaran harus dilakukan oleh guru. Produk perencanaan pembelajaran adalah PERANGKAT PEMBELAJARAN. Perangkat pembelajaran terdiri atas 1) Silabus, 2) RPP, 3) Metode, 4) Media, dan 5) Evaluasi. Dalam perangkat pembelajaran inilah sesungguh tersembunyi strategi pembelajaran yang sukses. Tinggal menunggu implementasinya dalam pembelajaran. Apa yang menjadi ciri khas perencanaan pembelajaran bahasa Jawa?
Activities: 3 -
Adakah ciri khas manajemen kelas bahasa Jawa? Sebuah tantangan dalam manajemen kelas. Banyak faktor yang menjadikan andrenalin membelajarkan yang muncul. Kelas sangat bervariasi dari tampilan fisik kelas (meja kursi, alat dan media pembekajaran tersediakan. JIka sudah tersedia alat dana media, sudah rapi dan sesuaikah), pembelajar yang berbeda dan mungkin unik (individual differences). Bagaimana pula situasi luar kelas, tenang, bising, hangat, sejuk, udara segar. Waktunya pembelajaran pagi, siang, sore, atau malam. Pembelajaran murni tatap mula atau berbantuan komputer/internet, dan sebagainya. Semua berpengaruh pada strategi manajemen kelas.
Activities: 2 -
Bahan ajar merupakan materi yang harus dipelajari oleh pembelajar. Bahan ajar mencerminkan kompetensi yang akan dicapai oleh pembelajar. Bahan ajar juga merupakan jabaran (elaborasi) dari learning outcome yang terscermin dalam SK-KD. SK-KD diturunkan dari kurikulum. Dengan kata lain bahan ajar harus memenuhi validitas kostruk (mengacu pada Kurikulum Bahasa Jawa). Selain itu bahan ajar juga memenuhi validitas konten. Sama-sama Kurikulum dapat terjadi kontennya berbeda, namun masih pada konstruk yang sama. Misalnya Topik Budaya Pentas. Buku karangan A menampilkan kajian/bacaan Kethoprak, sementara pada buku karya B menampilkan kajian/bacaan wayang.
Activities: 2 -
Pemilihan model pembelajaran yang tepat menentukan keberhasilan belajar. Model pembelajaran yang tepat ditengarai oleh sesuai dengan (1) tujuan pembelajaran (Sk, KD, indikator), (2) karakteristik materi pembelajaran, (3) sarana teknologi, (4) karakteristik pembelajar, (5) kemampuan guru, dan (6) waktu yang tersedia. Paling tidak ada 47 model pembelajaran. Mari kita pelajari bersama!Activities: 1
-
UTS Ujian Tengah Semester dilakukan untuk mengetahui penguasaan pembelajar terhadap kompetensi yang telah diajarkan. Selain itu juga dapat berfungsi sebagai diagnostik. Artinya materi yang belum dikuasai pembelajar dengan baik merupakan hasil diagnosa kesulitan belajar. UTS juga dapat digunakan sebagai tes formatif. Hasilnya sebagai pertimbangan untuk tindak lanjut perbaikan pembelajaran.
Activities: 0 -
Setelah memilih model pembelajaran, dilanjutkan implementasi model. Implementasi ini didukung oleh segala perangkat sebagai konsekuensi pemilihan model. Misalnya dosen atau guru memilih pembelajaran model SAVI (Somatic, Auditory, Visualisation, Intellectualy). a. Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on, aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan; b. Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melalui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menaggapi; c. Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melalui mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunakan media dan alat peraga; dan d. Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) belajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan masalah, dan menerapkannya.
Activities: 1 -
Pembelajaran daring (dalam jejaring/online) sebenarnya sudah berlangsung cukup lama semenjak berkembang teknologi informasi, khususnya internet. Pembelajaran daring semakin berkembang secara masif pada saat terjadinya pandemi Covid-19.Â
Activities: 1 -
Ada berbagai metode pembelajaran yang dapat menghantarkan keberhasilan pembelajar. Pemilihan metode harus disesuiakan dengan tujuan pembelajaran, karaktertistik pembelajar, sarana dan prasarana, konteks kultural, dan kemampuan guru. Yang jelas metode yang dipilih harus dapat meningkatkan motivasi, kompetensi, prestasi, dan afeksi pembelajar.
Activities: 1 -
Seorang ibu uring-uringan bahkan sampai 'judheg', bahkan ada yang marah-marah ketika harus mendampingi putranya belajar daring selam pandemi covid 19. Si orang tua ini tidak tahu bagaimana caranya membelajarkan anak atau memahamkan pelajaran kepada anaknya. Betapa tidak mudahnya menjadi guru. Peran guru tidak mudah digantikan dan sangat dibutuhkan. Pembelajaran daring dapat dilaksanakan, namun aspek pendidikan (jiwa, karakter, moral) tidak mudah dilaksanakan.
Activities: 4 -
Untuk mengetahui eksistensi strategi pembelajaran secara riil, mahasiswa melaksanakan studi lapangan. Studi strategi/lapangan dilaksanakan pada kelas pembelajaran bahasa Jawa di SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA. Studi lapangan dilaksanakan dengan pendekatan saintifiks dengan 5 M (Mengamati, Menanya, Mencari informasi/mengumpulkan data, Manalar/mengaosisasi, dan Mengomunikasikan). Hasil studi dibuat artikel dan dipresentasikan di kelas perkuliahan.
Activities: 1 -
Artikel studi lapangan dipresentasikan di dalam kelas. Saran, kritik, masukan, diskusi dilaksanakan secara LAMINOV (Lokakarya AKtif Menyenangkan, Insipiratif, dan Inovatif). Hasilnya diharapkan dapat diajukan untuk diterbitkan pada jurnal ilmiah.
Activities: 0 -
Evaluasi merupakan langkah untuk mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran, sedangkan refleksi merupakan maknadari hasil evaluasi. Makna ini sebagai dasr untuk melakukan tindak lanjur. Yang perlu diperhatikan evaluasi berdasarkan strategi pembelajaran yang dipilih antara lain: pentinya dan manfaat evaluasi, jenis evaluasi, dasar pemilihan jenis evaluasi karena pertimbangan strategi atau mengapa jenis evaluasi itu dan dipilih, keuntungan dan kekurangan evaluasi terpilih.
Hasil evaluasi dimaknai secara fungsional sesuai dengan strategi pembelajaran yang dilaksanakan. Hasil pemaknaan untuk menentukan langkah tindak lanjut berikutnya.
Activities: 1