Skip Activities

Activities

Skip Search Forums

Search Forums

Skip Administration

Administration

Skip Course categories

Weekly outline

 
 
 

5 October - 11 October

BAB  I

PENGANTAR

 A.        Pengertian Geografi Komunikasi

Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengertian dan wawasan manusia terhadap fakta dan gejala lingkungannya menjadi bertambah luas dan mendalam. Kesadaran akan pentingnya aplikasi berbagai disiplin ilmu untuk memecahkan suatu persoalan yang dihadapi manusia mendorong para ahli dari berbgai disiplin ilmu untuk bekerja sama dalam mengimplementsikan ilmunya, sehingga suatu masalah dapat dipecahkan secara komprehensif. Dengan pendekatam multidisipliner, perkembangan berbagai pendekatan dan paradigma keilmuan memunculkan berbagai disiplin ilmu baru yang merupakan hasil penelaahan tersendiri maupun hasil perkawinan/perpaduan antara dua atau lebih disiplin ilmu.  Salah satu hasil perpaduan konsep keilmuan adalah Geografi Komunikasi, yakni perpaduan antara ilmu Geografi dan Ilmu Komunikasi, yang berkembang menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Untuk memahami pengertian Geografi Komunikasi, terlebih dahulu harus dipahami pengertian Geografi dan Komunikasi, karena Geografi Komunikasi muncul sebagai disiplin ilmu tersendiri yang merupakan cabang dari Geografi Manusia.

Salah satu definisi Geografi yang cukup populer di Indonesia adalah definisi hasil rumusan Seminar dan Lokakarya Geograf di Semarang tahun 1988 (dalam Suparmini, dkk, 2000) yang menyatakan bahwa Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfir (litosfir, hidrosfir, biosfir, atmosfir, dan antroposfir) dengan sudut pandang/pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kompleks wilayah. Menurut Blij dan Muller (1998) geografi mempelajari lokasi-lokasi dan distrisbusi feature permukaan bumi. Feature yang dimaksud antara lain karakteristik hunian manusia atau sifat-sifat lingkungan alam, tetapi aspek yang paling menarik perhatian geograf adalah interrelasi antara lingkungan alam dengan masyarakat manusia. Pendekatan terhadap aspek manusia dan dunia alam dipandu  oleh perspektif keruangan (spatial perspektive) Sementara menurut Effendi (2000,) komunikasi hakekatnya adalah  proses pernyataan antar manusia, yang dinyatakan adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan  menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya. Dalam bahasa komunikasi, pernyataan dinamakan pesan (message), orang yang menyampaikan pesan disebut komunikator, sedangkan orang yang menerima pesan disebut komunikan (communicatee). Secara tegas dapat dinyatakan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan. Pesan komunikasi terdiri dari dua aspek, yakni isi pesan (the content of the message) dan lambang (symbol). Konkritnya, isi pesan adalah pikiran atau perasaan, lambang adalah bahasa.

Berdasarkan pengertian dan arti istilah-istilah dalam geografi dan ilmu komunikasi, dapat ditarik suatu  kaitan antara istilah-istilah tersebut untuk mencoba mendefinisikan terminologi Geografi Komunikasi. Hanya perlu diingat bahwa tidak semua wilayah kajian Ilmu Komunikasi dipelajari dalam Geografi Komunikasi, mengingat bahwa yang dipentingkan dalam geografi komunikasi adalah ruang tempat terjadinya komunikasi (analsisis lokasional), aliran atau transmisi informasi atau pesan, kuantitas dan kualitas aliran informasi antar ruang, distribusi fasilitas media komunikasi dan efek media masa terhadap tingkah laku keruangan manusia dan lingkungan (Albar dalam Hurst, 1986). Fenomena komunikasi merupakan fenomena sosial (antroposfir), oleh karena itu bidang kajian komunikasi dipelajari dalam Geografi Manusia/Sosial. Dengan demikian dapat dinyatakan disini bahwa geografi komunikasi adalah cabang dari geografi sosial yang mempelajari gejala aliran atau pergerakan massa psikal (tidak berbentuk benda) yang berupa ide/gagasan, informasi, dan atau data dan sejenisnya dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan media tertentu dengan pendekatan keruangan, kelingkungan (ekologi), dan kompleks wilayah.

Para ahli geografi tertarik untuk memasukkan fenomena komunikasi sebagai objek kajiannya, karena ternyata aktivitas komunikasi berdampak pada ruang sosial manusia, aktivitas/tingkah laku keruangan, diffusi keruangan, dan   menjadi pertimbangan manusia dalam menentukan keputusan pilihan lokasi untuk melakukan kegiatan hidupnya, seperti menentukan lokasi permukiman, keputusan untuk melakukan migrasi, penentuan lokasi pusat kegiatan perekonomian, adaptasi dan pembentukan persepsi lingkungan. Informasi yang diterima seseorang terhadap suatu lokasi akan memunculkan tanggapan yang beragam dan membawa pengaruh terhadap aktivitas keruangan yang dilakukannya. Hanya biasanya terdapat kecenderungan umum di dalam merespon informasi tentang lingkungan di sekitarnya.

B.        Mengapa Geografi Komunikasi ?

1. Latar Belakang Munculnya Gegrafi Komunikasi

Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi munculnya disiplin ilmu Geografi Komunikasi. Biasanya Geografi Komunikasi terintegrasi ke dalam Geografi Transportasi dan Komunikasi, karena keduanya sama-sama mempelajari perpindahan  atau gerakan suatu massa dari satu tempat ke tempat lain, hanya jenis massanya yang berbeda. Transportasi merupakan perpindahan fisik baik benda/materi maupun manusia dari satu tempat ke tempat lainnya. Sementara komunikasi merupakan perpindahan hal-hal yang tidak berbentuk benda, sebagaimana dijelaskan di atas. Geografi komunikasi secara lebih khusus mencurahkan perhatiannya pada lokasi aktivitas manusia, aliran dan persebaran informasi dan komunikasi melalui ruang tertentu, dan efek tingkah laku komunikasi terhadap tata laku lingkungan.

Adanya transportasi dan komunikasi dalam ruang tertentu, membawa pengaruh terhadap perkembangan dan perubahan  fisik dan mental penghuninya dalam ruang yang bersangkutan. Studi geografi aspek transportasi dan komunikasi, merupakan studi gejala dan masalah geografi yang lebih dinamis bila dibandingkan dengan mengkaji masalah gejala geografi lainnya pada lokasi tertentu. Dengan mengkaji transportasi dan komunikasi ini kita akan dapat mengungkapkan gejala diffusi, interaksi keruangan, dan kemajuan atupun keterbelakangan suatu daerah di permukaan bumi. Oleh karena itu, pengembangan dan pembangunan transportasi dan komunikasi dapat digunakan sebagai prasarana dan sarana untuk mengembangkan dan memajukan daerah yang memiliki tingkat kemajuan  rendah tersebut. Sarana transportasi dan komunikasi paling tidak dapat meningkatkan aksesibilitas daerah, dimana variabel aksesibilitas ini dapat mendorong kemajuan sosial maupun ekonomi. Konsep-konsep yang dapat diterapkan untuk mengkaji transportasi dan komunikasi ini antara lain model gravitasi, teori graff, dan analisa konektivitas (Sumaatmadja, 1988). Konsep-konsep Geografi Transportasi dan Komunikasi dapat diaplikasikan untuk pendugaan wilayah (regional forecasting), perencanaan wilayah (regional planning) dan pengembangan potensi daerah dan diferensiasi area untuk membangun pusat-pusat sarana transportasi dan komunikasi.

Pada saat ini peta-peta tematik dinamik aktual yang berisi informasi mengenai  aktivitas transportasi dan komunikasi masih sangat langka. Peta aktivitas komunikasi yang sesungguhnya penting tapi langka contohnya adalah peta interaksi penduduk antar wilayah, interaksi dapat dalam bentuk arus pengiriman uang, arus telpon, akses terhadap siaran televisi dan radio, aliran informasi melalui internet, diffusi keruangan informasi, peta diffusi nasionalisme, peta karakteristik pengguna telpon seluler, peta kekuatan sinyal telpon seluler dan kekuatan pemancar stasiun televisi, dan lain-lain, yang kesemuanya berguna bagi perencanaan dan pengembangan fasilitas itu sendiri dan  fasilitas wilayah lainnya.

2. Gerakan dalam Geografi

            Manusia yang merupakan aspek kajian dalam geografi (antroposfir) mempunyai  ciri bergerak. Gerakan tersebut dilakukan baik dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya maupun dalam rangka melakukan tugas sosialnya. Ketika manusia bergerak, maka yang bergerak tidak hanya manusia secara fisik tetapi juga mungkin manusia menggerakkan barang atau gagasan/informasi ke tempat lain. Disamping itu, manusia juga mampu menerima pemindahan barang atau gagasan/informasi dari dan ke tempat lain (take and give).

            Ada berbagai jenis gerakan (mobilitas), setiap saat terjadi gerakan barang dan gagasan, baik melalui media angkutan transportasi (darat, laut, dan udara), gerakan arus listrik, air, gas, minyak bumi, dan energi lain melalui sistem kabel dan pipa, juga gerakan gagasan/informasi melalui berbagai media masa dan media interpersonal. Gerakan informasi melalui jalur elektronik seperti radio, televisi, internet, telpon,  dan gerakan informasi cetak melalui surat kabar, majalah, dan jutaan informasi yang dikirim lewat kantor pos. Dari berbagai macam gerakan, para ahli geografi tertarik untuk menelaah tiga bentuk utama gerakan/arus, yakni :

a.       Migrasi, jika yang bergerak adalah manusia

b.      Transportasi, jika yang bergerak adalah manusia, materi atau energi.

c.       Komunikasi, jika yang bergerak adalah gagasan atau informasi dengan menggunakan media tertentu, jika tidak menggunakan media, seperti perpindahan udara, air laut, tenaga matahari, maka para geograf menyebutnya sebagai arus, misal arus air laut, arus angin , dan sebagainya

Transportasi dan komunikasi terjadi karena adanya defernsiasi area dan jarak. Deferensiaasi area diindikasikan dengan potensi wilayah yang berbeda, kepentingan tertentu yang berbeda, yang menyebabkan antar penduduk dari masing-masing wilayah merassa saling membutuhkan. Jarak secara konseptual mencakup jarak absolute dan jarak nisbi (relative). Jarak absolute ditunjukkan oleh jarak fisik, misalnya jarak Yogyakarta-Surakarta adalah 70 km, jarak Bantul– Kota Yogyakarta 25 km, jarak garis balik utara dan garis balik selatan dari katulistiwa masing-masing adalah 33,5°. Jarak relative adalah jarak antara dua wilayah yang tidak ditentukan oleh jarak fisik sebenarnya, tetapi lebih kepada keterjangkauan wilayah. Misalnya jarak Kota Yogyakarta-Magelang lebih cepat ditempuh daripada Yogyakarta-Slarong, karena dari Yogyakarta ke daerah Slarong membutuhkan waktu dan biaya yang lebih banyak daripada ke Magelang. Jarak kritis antara masing-masing orang berbeda, meskipun mungkin untuk suatu aktivitas yang sama. Variabel-variabel tahapan siklus kehidupan, mobilitas, dan peluang-peluang,  bersama-sama dengan keinginan dan kebutuhan masing-masing orang, dapat membantu mendifinisikan seberapa sering dan seberapa jauh orang  akan melakukan perjalanan. Pada basis variable-variabel ini, dapat dibuat kesimpulan tentang jumlah informasi  seseorang dalam hal ruang aktivitasnya dan area di sekitarnya. Akumulasi informasi tentang kesempatan-kesempatan dan pendapatan-pendapatan interaksi keruangan membatu menambah dan menjustifikasi keputusan berbgerak.  

3. Arti Penting Geografi Komunikasi

            Geografi Komunikasi berusaha mengembangkan teori-teorinya agar dapat mempunyai nilai aplikasi yang bermanfaat secara luas bagi masyarakat. Munculnya berbagai aktivitas manusia sebagai dampak ikutan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan perubahan pola perilaku manusia dalam mengkomunikasikan ide/gagasan, barang dan jasa. Perkembangan media massa dan media interpersonal yang semakin pesat berimplikasi pada semakin dekatnya jarak antar ruang. Di sisi lain kedekatan ruang akibat kemudahan berkomunikasi ini diikuti oleh perubahan perilaku masyarakat yang berupa berkurangnya komunikasi langsung (bertatap  muka), yang kontraproduktif dengan  tingkat kemesraan (intimate) antar anggota masyarakat.

Interaksi keruangan dapat terjadi secara fisik dan non-fisik. Interaksi secara fisik dapat ditunjukkan pengaruhnya secara nyata dan dapat diukur dengan alat pencatat. Suatu contoh di daerah hulu berfungsi sebagai daerah tangkapan air hujan. Daerah hulu akan menjadi pensuplai kebutuhan air untuk daerah di bawahnya (hilir). Daerah hilir dapat menjadi penampung run-off dan menjadi media pengaliran dari air hujan yang dijatuhkan di daerah hulu. Secara non-fisik, interaksi antar ruang ditunjukkan oleh aktivitas penduduk dari ruang yang ditempati. Interaksi penduduk atau dalam terminologi sosiologis, interaksi tersebut dinamakan interaksi social. Menurut Soekanto (1990), interaksi social dapat terjadi bila memenuhi 2 syarat, yakni : adanya kontak social dan adanya komunikasi. Kontak social secara harfiyah berarti bersama-sama menyentuh. Dalam perkembangannya ketika media komunikasi sedemikian canggih kontak social tidak lagi harus dilakukan secara badaniah. Kontak social secara badaniah disebut kontak primer, yakni suatu bentuk kontak social yang terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung, bertemu dan berhadapan muka. Disamping itu kontak sosial,  terjadi antara kominikan dan komunikator tidak secra langsung melakaukan kontak, tetapi dapat melalui orang lain, media interpersonal, maupun media massa. Di sini sedang terjadi kontak yang bersifat  skunder (kontak skunder). Saat ini intensitas kontak skunder semakin meningkat intensitasnya, tetapi kontak primer semakin berkurang.

Komunikasi dan kontak social merupakan dua hal yang saling berkait. Arti  utama dari komunikasi adalah bahwa seseorang yang memberikan tafsiran pada tingkah laku orang lain (yang dapat berupa pembicaraan, gerak-gerik fisik atau sikap) dan perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang lain.  Ketika ada seorang gadis dititipi salam dari seorang pria, sang gadis mungkin akan menjawab salam tersebut atau belum menjawab sebelum dia tahu apa arti salam tersebut, tanda perkenalan/persahabatan atau ada perasaan lain atau sekedar basa-basi. Maka dalam hal ini belum terjadi komunikasi. Hal ini menunjukkan bahwa kontak social dapat terjadi tanpa komunikasi. Dengan demikian, komunikasi memiliki makna lebih mendalam dari sekedar kontak social. Dari komunikasi akan timbul suatu interaksi social yang berupa kerja sama (cooperation), persaingan (competion), dan pertentangan (conflict).

            Bentuk-bentuk interaksi social tersebut dapat terjadi pada individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok. Dalam kajian Geografi Komunikasi, interaksi antar kelompok inilah yang lebih banyak mendapat perhatian, karena pada interaksi antar kelompok inilah yang berpengaruh terhadap interaksi keruangan. Hubungan kerjasama, persaingan, dan konflik yang sering terjadi antar wilayah atau antar negara merupakan bentuk komunikasi antar kelompok. Wilayah A dan B akan saling tergantung karena masing-masing mempunyai potensi wilayah yang berbeda sehingga dapat saling memenuhi kebutuhannnya. Hubungan tersebut dapat menjadi mesra (kerja sama) dapat pula menjadi pertentangan (conflict) tergantung komunikasinya. Wilayah A dan B dapat menjadi daerah yang memiliki kemesraan bila ada kesadaran bersama untuk maju bersama dan pentingnya hidup bersama. Kedua wilayah dapat mengalami konflik (peperangan) karena tiadanya kesadaran tersebut.

Beberapa manfaat geografi komunikasi dalam berbagai bidang kehidupan, antara lain adalah :

a.       Pengembangan wilayah

Suatu wilayah dapat dikembangkan aspek fisik maupun aspek non-fsisiknya. Aspek fisik yang dapat dikembangkan dengan memanfaatkan hasil kajian geografi komunikasi dapat berupa pengembangan jalan raya,

b.      Penentuan lokasi fasilitas umum

Penentuan letak atau lokasi fasilitas umum perlu mempertimbangkan jumlah penduduk antar wilayah, aktivitas penduduk wilayah tersebut, dan interaksi/ komunikasi antar wilayah-wilayah tersebut. Teori gravitasi dalam hal ini dapat digunakan untuk menentukan lokasi fasilitas umum, yang berupa rumah  sakit/puskesmas, tempat ibadah, kantor postel, dan lain-lain.   

c.       Pertimbangan dalam merumuskan kebijakan kependudukan/social

Persoalan-persoalan kependudukan yang ada di Indonesia beberapa diantaranya terkait dengan strategi komunikasi, dalam hal ini adalah komunikasis negara dengan penduduknya. Sebagai contoh adalah kegagalan program transmigrasi, terjadi karena tidak didahului dengan kajian geografi komunikasi. Kajian geografi komunikasi dalam hal ini diperlukan untuk memberikan informasi mengenai daerah yang akan dituju, karakteristik daerah asal dan rencana pengembangan karakteristik yang akan dituju (termasuk di dalamnya profesi asal dengan profesi yang perlu dipersiapkan di daerah tujuan), desain interaksi keruangan antara ruang/daerah transmigrasi dengan penduduk yang telah ada (asli), dan desain diffusi keruangan daerah transmigran dengan daerah penduduk yang telah ada.   

d.      Penentuan lokasi pusat-pusat bisnis

Penentuan lokasi bisnis perlu mempertimbangkan potensi wilayah sekitar, keterjangkauan, permukiman yang melingkupi, tingkat ekonomi penduduk, aktivitas penduduk, system transportasi dan komunikasi.  Aspek yang disebut terakhir ini memiliki peran yang vital, karena ia menentukan lalu lintas barang/jasa dan lalu lintas orang dalam menjual/membeli barang atau jasa.  

e.      Penyebaran informasi resmi

Informasi yang diampaikan oleh negara/lembaga kenegaraaan biasa disebut dengan informasi formal.  Negara memerlukan komunikasi dengan rakyat  dalam rangka penyelenggaraan negara atauapun untuk kepentingan warganya. Apalagi jika dikaitkan dengan pendapat beberapa ahli sebagaimana dikemukakan di depan bahwa keberhasilan suatu partai politik ataupun negara dapat diukur dari seberapa  dapat ia mengkomunikasikan program-programnya kepada konsituen atau rakyatnya. Dalam usaha menjalankan program pembangunan dan innovasi, pemerintah memerlukan strategi geografi komunikasi.

f.         Peningkatan peranserta masyarakat dalam pengelolaan Negara

Seberapa besar keberhasilan negara dalam menjalankan program pembangunan sangat ditentukan oleh seberapa besar peran serta (partisipasi) masyarakat dalam mendukung program tersebut. Untuk meningatkan peran serta masyarakat diperlukan narasi yang jelas melelaui keterbukaan dan kemudahan akses informasi mengenai suatu program yang hendak dijalankan. Tanpa narasi yang jelas, maka penduduk suatu wilayah yang sebenarnya menjadi sasaran program pembangunan akan bertindak apatis. Oleh karena itu, di setiap wilayah dengan kondisi geografis yang bebeda-beda memerlukan pendekatan yang berbeda agar suatu program yang sebenarnya baik untuk kemajuan suatu wilayah tetapi menjadi pertentangan antara negara dengan penduduk setempat hanya karena salah pendekatan dan kegegalan komunikasi.

g.      Pendidikan politik dan kewarganegaraan

Kesadaran sebagai warga negara tidak begitu saja timbul pada diri warga negara tetapi membutuhkan upaya sadar dan sistematis. Kesadaran warga untuk taat terhadap suatu peraturan/undang-undang, menjalankan hak dan kewajibannya sebagai warga negara, berperan serta dalam mengawasi penyelenggaraan negara, memberikan atau tidak memberikan suara pada pemilu, mengkritisi kebijakan pemerintah merupakan bagian dari indicator warga negara yang baik. Untuk menjadikan warga negara yang baik, maka saluran komunikasi antara negara dan rakyat harus lancar. Perbedaan karakteristik penduduk antar wilayah, cara pandang dan kebudayaannya memerlukan strategi komunikasi yang sesuai dengan karakteristik masing-masing. 

h.       Pertahanan dan keamanan (hankam)

Hankam sebagai bentuk tugas/fungsi negara (security function) memerlukan dukungan rakyat, apalagi bentuk fisik negara Indonesia yang kepulauan dan luas tentu memerlukan pengawasan dan control yang banyak pula. Dengan demikian control dan pengawasan dari aparat saja tentu tidak cukup, dalam hal ini system pertahanan rakyat sangat diperlukan.  Untuk membangun system pertahanan rakyat diperlukan strategi komunikasi yang terbangun dan terstruktur secara mantap.  Aspek-aspek geografis tiap wilayah yang diperlukan untuk keperluan hankam lebih banyak dikuasai oleh penduduk setempat, sehingga aparat dan rakyat dapat saling membantu pengenalan wilayah, system pertahanan, sistem kontrol wilayah, transportasi dan komunikasi  untuk keperluan hankam, dan lain-lain.

i.         Penyelesaian konflik-konflik social, dll

Konflik antar wilayah di Indonesia dapat terjadi karena masalah SARA, konflik kepentingan, perebutan sumberdaya alam, persaingan, kebijakan pemerintah, dan lain-lain. Konflik-konflik social dalam perspektof sosiologis pada dasarnya terjadi karena kemandegan atau kebuntuan komunikasi. Cara pandang penduduk suatu wilayah terhadap suatu persoalan mungkin berbeda dengan penduduk wilayah lainnya. Adanya perbedaan tersebut memerlukan strategi dan pendekatan untuk mencari titik temu. Maka dalam hal ini negara mempunyai fungsi sebegai penengah. Sayangnya, negara ini justeru seringhkali menjadi sumber konflik social itu sendiri.

Show only week 1
 

12 October - 18 October

Teori-teori Komunikasi
Show only week 2
 

19 October - 25 October

Show only week 3
 

26 October - 1 November

Show only week 4
 

2 November - 8 November

Show only week 5
 

9 November - 15 November

Show only week 6
 

16 November - 22 November

Show only week 7
 

23 November - 29 November

Show only week 8
 

30 November - 6 December

Show only week 9
 

7 December - 13 December

Show only week 10
Skip You are logged in as

You are logged in as

Skip Upcoming Events

Upcoming Events

There are no upcoming events
Skip Recent Activity

Recent Activity

Activity since Tuesday, 15 May 2012, 07:33 PM

Nothing new since your last login

Skip Online Users

Online Users

(last 20 minutes)
  • Pengguna tamu
Skip Calendar

Calendar

Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 Today Thursday, 17 May 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31    

Events Key

Skip Weblink

Weblink

Skip UNY Site